Mapos, Mamuju – Luar biasa usaha menyelamatkan diri para santri Nurul Fikri Boarding School dari amukan Tsunami. Ketua Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT), Hajrul Malik, melalui WA, Minggu (23/12/2018) menuturkan perihal ini.
“Saya mendapat pesan melalui WA dari seorang pengajar di sekolah itu, Ustadzah Ai Nur’aeni, Lc. anak saya juga alumni Nurul Fikri Boarding School, jadi sudah kenal baik dengan para pengajarnya. Ini adalah cerita faktual evakuasi santri, ustadz dan ustadzah pembimbing program IEP NFBS Serang yang sedang dikarantina di Resort Umbul Tanjung yang posisinya di pinggir pantai. Sebelum berangkat ke Turki,” tuturnya.

Pada intinya, ustadzah Ai hanya ingin berbagi untuk meringankan bebannya. Dan upaya ini merupkan potret kecil dari usaha besar yang dilakukan para korban tsunami. Berikut kisahnya…
Pada sore hari kemarin, Tolibah sempat menyaksikan dari lantai 2 villa, kondisi anak gunung Krakatau mengeluarkan api dan lahar nya. Tolibah sempat khawatir, tapi kemudian kita melaksanakan aktifitas seperti biasa. Tolib dan Tolibah terus menyetorkan hafalannya diiringi dengan suara dan getaran yang cukup terasa dari anak gunung Krakatau..
Sekitar pukul 21.30 Wib, setelah anak-anak selesai aktifitas tahfidz tiba-tiba kami mendengar suara gemuruh yang sangat besar. Dan diikuti anak-anak Tolib yang berhamburan berlari dari arah villa belakang, karena mereka melihat ombak yang besar sudah sampai ke tembok pembatas resort..
Saat itu Tolibah panik. Dan kami semua berkumpul di mushola resort untuk terus berdzikir dan tetap bertilawah sambil berkoordinasi. Sampai kemudian pengelola resort menyampaikan, mereka siap untuk membantu evakuasi ke daerah yang lebih tinggi dengan menggunakan mobil-mobil yang ada. Termasuk mobil tamu yang berniat bermalam villa..
Kami pun bisa melalui jalur evakuasi sampai perumahan menduduk dengan aman. Padahal beberapa meter dari jalur tersebut sudah tidak bisa dilalui kendaraan. Qadarullah…alhamdulillah jalur evakuasi itu ternyata berakhir di NF. Walaupun harus melalui jalan terjal, licin karena hujan dan hutan.
“Kisah di atas, hikmah utamanya adalah agar interaksi kita dengan Al Qur’an semakin dikuatkan. Tanpa kecuali, termasuk kita di Sulbar,” tutup Hajrul.
(*)






