Majene  

Hadapi Penilaian Adipura, Dinas Perkimtan Diserahi Tanggung Jawab di Enam Wilayah

Kepala Dinas Perkimtan, Syahrimayani (kiri) dan Kepala Bidang Perumahan ,Sisperkimtan, Nursalam saat melakukan kunjungan awal dalam peninjauan persiapan penilaian Adipura di perumahan Krida Insani. Foto; Salam.

Mapos, Majene — Upaya Pemerintah Kabupaten Majene memburu piagam Adipura tak cukup hanya dengan membersihkan wajah kota menjelang penilaian. Pembenahan harus menyentuh hingga ke lingkungan permukiman, termasuk memastikan masyarakat mulai terbiasa memilah dan mengelola sampah dari sumbernya.

Karena itu, sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Majene diberikan tanggung jawab untuk melakukan pembenahan di wilayah masing-masing. Salah satunya Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimtan).

Dinas yang dipimpin Syahrimayani tersebut ditunjuk sebagai koordinator pembenahan di sejumlah wilayah, yakni Galung, Lipu, Teppo, Kanappe, Desa Palipi Soreang, serta Perumahan Krida Insani.

Kepala Dinas Perkimtan Majene, Syahrimayani, melalui Kepala Bidang Perumahan, Nursalam, Kamis (29/10/2026), mengatakan penunjukan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mempersiapkan wilayah yang menjadi sasaran penilaian Adipura.

Namun, berdasarkan hasil pendampingan terhadap tim penilai, masih ditemukan sejumlah pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi.

“Masih ada beberapa titik yang perlu kita benahi, terutama menyangkut kebersihan lingkungan, drainase dan pengelolaan sampah,” kata Nursalam.

“Di Galung misalnya, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dibenahi,” terang Nursalam.

Di kawasan permukiman Galung, misalnya, pendamping tim penilai menemukan drainase yang masih dipenuhi gulma dan sampah.

Kondisi tersebut dinilai membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat melalui kerja bakti. Tidak hanya membersihkan, saluran drainase juga perlu dinormalisasi karena terdapat sedimen dan sampah, khususnya sepanjang kawasan Galung Selatan.

Persoalan lain yang tak kalah penting adalah pola pengelolaan sampah rumah tangga.

Menurut Nursalam, sebagian besar sampah rumah tangga di wilayah tersebut masih belum dipilah sejak dari sumbernya.

“Sebagian besar sampah dari rumah tangga belum terpilah. Karena itu perlu disiapkan tempat sampah terpilah untuk masyarakat. Kalau belum mampu per rumah, bisa disiapkan secara komunal atau terpusat di titik-titik tertentu untuk sampah organik, anorganik dan B3,” jelasnya.

Selain pemilahan, masyarakat juga didorong mengolah sampah organik secara mandiri melalui teba atau komposting. Langkah itu dinilai penting mengingat cukup banyak sampah daun yang berasal dari kebun masyarakat di kawasan permukiman Galung.

Tak berhenti di situ. Bank sampah unit di Kantor Kelurahan Galung juga diminta lebih digiatkan.

Penataan lingkungan sekitar kantor kelurahan pun menjadi perhatian, termasuk pembenahan drainase serta akses jalan menuju Kantor Lurah Galung yang menjadi salah satu lokasi yang akan dinilai.

Sementara di Perumahan Krida Insani, persoalan serupa masih ditemukan.

Nursalam mengatakan, masyarakat di kawasan tersebut masih perlu lebih intensif melakukan pemilahan sampah. Sebab, rata-rata sampah rumah tangga masih dalam kondisi tercampur.

“Untuk Perumahan Krida Insani, kita imbau supaya lebih intens memilah sampah karena rata-rata sampah dari rumah tangga masih tercampur,” ujarnya.

Selain itu, fasilitas komposting atau teba yang telah dibuat juga dinilai perlu ditata kembali.

Posisinya diminta dipindahkan ke lokasi yang lebih tepat dan jumlahnya ditambah dengan menyesuaikan volume sampah yang dihasilkan setiap hari.

“Setidaknya dibutuhkan tiga komposter dengan kapasitas 60 liter. Kalau belum mampu membuat tempat sampah terpilah di masing-masing rumah tangga, bisa dibuat secara terpusat,” terang Nursalam.

Ia menambahkan, berbagai catatan hasil pendampingan tersebut telah diteruskan kepada masyarakat untuk segera ditindaklanjuti.

Dengan waktu penilaian yang terus berjalan, pembenahan di sejumlah wilayah tersebut kini berpacu dengan waktu. Sebab, keberhasilan Majene meraih Adipura bukan hanya ditentukan oleh bersihnya ruas jalan utama, tetapi juga seberapa jauh kesadaran masyarakat dan pengelolaan lingkungan dilakukan secara nyata dan berkelanjutan.

Dan di titik inilah tantangannya: Adipura bukan sekadar mengejar penilaian, tetapi bagaimana kebersihan dan pengelolaan sampah benar-benar menjadi kebiasaan masyarakat.

(*)

error: Maaf... ! Web ini di Protek yaaa...