Mapos, Majene — Ancaman banjir di kawasan Telaga Tundaq, Kelurahan Labuang Utara, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, mulai mendapat perhatian serius Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Majene.
Saluran buang yang membentang dari kawasan Jalan Kapten Usman Jafar hingga menuju pesisir Lingkungan Tanjung Batu tersebut diketahui telah mengalami pendangkalan cukup parah akibat tumpukan sedimen.
Kondisi itu dinilai berpotensi menghambat kelancaran aliran air, terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut.
Pantauan Mapos, Rabu (28/10/2026), sejumlah staf bersama armada Bidang Peralatan dan Perbekalan (Alkal) Dinas PUPR Majene mulai melakukan persiapan untuk pekerjaan normalisasi saluran tersebut.
Salah seorang staf PUPR yang berada di lokasi, Hendra, mengatakan dirinya mendapat tugas untuk memandu persiapan pekerjaan pengerukan sedimen yang telah menumpuk cukup tebal di sepanjang jalur saluran buang.
“Permukaan got besar yang menyerupai kanal ini sudah hampir tertutup akibat sedimen. Makanya kita sedot dulu airnya, lalu kemudian dilakukan pengerukan,” ungkap Hendra kepada Mamujupos.com, Rabu siang.
Menurutnya, kondisi saluran yang semakin dangkal membuat kapasitas tampung dan kelancaran aliran air menjadi tidak maksimal. Karena itu, pembersihan dan pengerukan dinilai penting dilakukan sebelum memasuki periode hujan dengan intensitas tinggi.
Terpisah, Kepala Dinas PUPR Majene, Muhammad Muflih Asad, melalui Kepala Bidang Alkal, Andi Abul Al’al, membenarkan adanya persiapan normalisasi saluran buang Telaga Tundaq tersebut.
“Kita lakukan persiapan pekerjaan dulu dan nantinya akan kita normalisasi pada titik itu. Memang, di kawasan itu kerap terjadi banjir, terutama di seputaran Stadion Prasamya Majene dan sekitarnya,” jelasnya.
Ia mengatakan, normalisasi dilakukan sebagai salah satu langkah antisipasi untuk mengurangi potensi genangan yang selama ini kerap terjadi ketika curah hujan meningkat.
” Mudah-mudahan, setelah semua tumpukan sedimen di wilayah itu kita atasi, hunian masyarakat di sekitar tidak lagi tergenang banjir jika intensitas curah hujan cukup tinggi,” ujarnya.
Andi Abul Al’al menambahkan, langkah antisipasi tersebut penting dilakukan mengingat kondisi cuaca ke depan sulit diprediksi. Dengan normalisasi saluran, diharapkan kapasitas aliran air kembali optimal sehingga air hujan dapat lebih cepat mengalir menuju muara.
“Kedepan, cuaca tidak bisa diprediksi,” pungkasnya.
(*)





