Majene  

Bengkalaian Sampah pada Event Majene Run 2026 Tuai Keluhan

Mapos, Majene — Pelaksanaan Majene Run 2026 di Kabupaten Majene, Minggu (9/8/2026), boleh dibilang berlangsung meriah. Ribuan peserta ikut ambil bagian dalam kegiatan yang digelar oleh komunitas Majene Runners bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Majene di bawah koordinasi panitia pelaksana lokal.

Namun, di balik kemeriahan itu, persoalan lain muncul setelah kegiatan berakhir. Sampah terlihat menumpuk dan berserakan di sekitar titik start, khususnya di kawasan Lapangan Prasamya Majene.

Kondisi tersebut menuai keluhan dari masyarakat. Mereka menilai kebersihan lokasi semestinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan sebuah event, terlebih kegiatan yang melibatkan pemerintah daerah dan menggunakan fasilitas publik.

Menurut Aslan, panitia semestinya tidak hanya memastikan kegiatan berjalan sukses, tetapi juga memperhatikan kondisi lokasi setelah seluruh rangkaian acara selesai.

“Jangan biarkan sampah menumpuk usai acara. Apalagi, di seputaran Lapangan Prasamya Majene juga terdapat sarana pendidikan yang seharusnya selalu kita jaga kebersihannya,” ujar Aslan, Senin (10/8/2026) pagi.

Ia mengatakan, sampah yang ditinggalkan setelah kegiatan dapat mengganggu kenyamanan masyarakat, terutama warga yang beraktivitas di sekitar kawasan tersebut.

Menurutnya, persoalan kebersihan seharusnya telah menjadi bagian dari perencanaan panitia sejak sebelum kegiatan dilaksanakan. Dengan begitu, ketika acara selesai, petugas kebersihan sudah disiapkan untuk melakukan pembersihan di seluruh area yang digunakan.

“Panitia harus bertanggung jawab atas sampah yang berserakan. Jika perlu, gaji orang untuk membersihkan, kendati memanfaatkan petugas kebersihan dari dinas terkait seperti DLHK,” tegasnya.

Aslan menyebut, persoalan sampah pasca kegiatan bukan hal baru. Kondisi serupa, kata dia, sudah beberapa kali terjadi setiap kali terdapat kegiatan yang melibatkan banyak orang di ruang publik.

Karena itu, ia meminta agar persoalan tersebut tidak dianggap sebagai hal sepele. Menurutnya, kegiatan yang membawa nama Kabupaten Majene semestinya juga memberikan contoh dalam menjaga kebersihan lingkungan.

“Kalau acaranya selesai, tanggung jawab panitia juga belum selesai. Sampah yang dihasilkan dari kegiatan harus dipastikan dibersihkan,” katanya.

Ia juga berharap Dinas Pariwisata maupun instansi terkait dapat mengevaluasi penyelenggaraan event-event berikutnya, terutama terkait pengelolaan sampah dan kebersihan lokasi.

Sebab, suksesnya sebuah event bukan hanya dilihat dari jumlah peserta, kemeriahan acara, maupun publikasi yang dihasilkan. Kondisi lokasi setelah kegiatan juga menjadi salah satu ukuran apakah sebuah kegiatan telah dilaksanakan secara profesional.

“Jangan sampai sebelum acara lokasi dibersihkan dan ditata, tetapi setelah acara selesai justru meninggalkan sampah untuk masyarakat,” pungkasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan dari pihak panitia Majene Run 2026 terkait keluhan tersebut. Mapos masih berupaya mendapatkan konfirmasi mengenai penanganan sampah setelah kegiatan berlangsung.

(*)

error: Maaf... ! Web ini di Protek yaaa...