Guru Tetaplah Menjadi Guru

0
227

Mapos, SETIAP tanggal 25 November kita memperingati hari guru nasional, tepatnya adalah mengingat sosok guru yang selalu hadir walau memaksa diri membagi ilmu. Mentransformasikan pengetahuan, menurunkan nilai membentuk karakter murid.

Seperti kita ketahui bahwa dunia pendidikan nampaknya perlu terus mentransformasi diri agar bisa menyesuaikan sesuai kebutuhan abad 21 dan mempersiapkan peserta didik memasuki dunia baru. Diperlukan sosok guru yang mampu menjalankan peran kompleks dan mampu menyesuaikan dengan tuntutan kompetensi guru abad 21. Selain itu, guru tersebut idealnya merupakan seorang sosok atau profil guru yang efektif dalam memfasilitasi pembelajaran abad 21.

Itulah mengapa menjadi penting bagi kita untuk memiliki gambaran jelas profil seorang guru abad 21 yang benar-benar diharapkan oleh peserta didik abad 21. Dan siap mengantarkan peserta didik memasuki dunia baru penuh kemudahan maupun tantangan sekaligus.

https://mamujupos.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20210212-WA0059.jpg

Guru dengan seluruh predikat yang melekat pada dirinya sebagai sosok yang mengetahui segala hal. Minimal terhadap muridnya jangan sampai tertinggal dari anak didik yang lebih cepat memahami perubahan dan lebih mudah memiliki akses sumber pengetahuan.

Desakan masyarakat agar guru selalu hadir dan tampil terbaik di lingkungan pendidikan terus nyaring terdengar. Tapi kadang kita lupa bahwa guru memiliki keterbatasan, karena guru juga manusia, guru juga membutuhkan kesejahteraan untuk menghidupi keluarga mereka.

Keterbatasan guru-guru kita juga sebab mereka luput dari perhatian pengambil kebijakan untuk memberdayakan guru. Menempatkan pada posisi lebih bermartabat dan berwibawa.

Fenomena ini bisa saja terjadi ketika guru pasrah dengan keterbatasan yang dimiliki. Pengalaman selama pandemi, sebagian guru kita tidak mampu menurunkan dasar-dasar pengetahuan saat belajar daring baik dari segi metode, gaya mengajar, maupun kecakapan menggunakan alat dan metode pembelajaran.

Pada sisi lain, guru kita masih terbatas jumlahnya jika dibandingkan rasio yang harusnya tersedia dari murid yang ada. Sementara pemerintah baik pusat maupun daerah belum terlihat upaya serius mengangkat guru yang sudah lama mengabdi sebagai honorer menjadi PNS atau jalur PPPK.

Kepastian nasib mereka masih menggantung, walau telah mengabdi 10 sampai 15 tahun. Bukan waktu sedikit untuk mencari penghidupan pada sektor lain. Sebagian besar guru kita, tidak tega meninggalkan profesinya karena pertimbangan kemanusiaan, tak ada guru di desa, di sekolah terpencil, walau pendapatan mereka hanya dihargai Rp300.000,- sampai Rp500.000,- perbulannya.

Di hari guru ini, harapannya kepada pemerintah maupun pemerintah daerah lebih mempertimbangkan nasib guru lebih utama dibandingkan kebutuhan pembangunan lainnya untuk mengalokasikan anggaran demi kesejahteraan hidup guru dan tenaga kependidikan lainnya.

Guru, tetaplah menjadi guru !!!

Hajrul Malik
Ketua Dewan Pendidikan Mamuju

(*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.