Oleh: Muhammad Yusuf, SH., MH *
Mapos, IMPLEMENTASI Wajib Membaca 20 Buku di SMA Negeri 1 Mamuju sebagai Role Model Literasi Sulawesi Barat.
Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, literasi tidak lagi cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis semata. Literasi sejati adalah kemampuan memahami, menafsirkan, dan merespons realitas secara kritis, reflektif, dan berkarakter. Literasi adalah fondasi peradaban. Tanpa budaya literasi, masyarakat akan kehilangan arah dalam menghadapi kompleksitas dunia modern.
Provinsi Sulawesi Barat telah menangkap urgensi ini. Dengan langkah berani dan terobosan visioner, Gubernur Sulawesi Barat menerbitkan Surat Edaran Nomor 000.4.14.1/174/II/2025 tertanggal 5 Juli 2025, yang mewajibkan setiap siswa SMA/SMK sederajat untuk membaca minimal 20 buku selama masa studi mereka.
Kebijakan ini tidak hanya administratif, tetapi merupakan gerakan kultural, edukatif, dan karakteristik, yang bertujuan membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kaya nilai, mencintai daerahnya, dan siap bersaing secara nasional maupun global.
Realita Literasi Sulbar, Tantangan yang Harus Dijawab
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Provinsi Sulawesi Barat menduduki peringkat ke-38 atau terakhir dalam Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) tahun 2024. Ini adalah cermin sekaligus peringatan. Masih rendahnya minat baca di beberapa kabupaten dan dominasi gawai tanpa kontrol menjadi tantangan nyata.
Hasil Survei PISA (Program for International Student Assessment) juga memperlihatkan rendahnya kemampuan pemahaman bacaan siswa Indonesia, termasuk di wilayah timur seperti Sulbar. Oleh karena itu, kebijakan membaca 20 buku bukan sekadar angka, tetapi strategi perubahan pola pikir.
SMA Negeri 1 Mamuju, Pelopor Gerakan Literasi Berkarakter
Sebagai salah satu sekolah tertua dan unggulan di Sulawesi Barat yang berdiri sejak 1964, SMA Negeri 1 Mamuju siap mengambil posisi strategis sebagai pelopor dan role model implementasi kebijakan ini. Dengan pendekatan partisipatif, kolaboratif, dan kontekstual, SMA 1 Mamuju sudah menerapkan budaya membaca bagi siswa dan membuktikan bahwa gerakan literasi dapat tumbuh dalam budaya sekolah dan sebagai penyempurnaan program yang telah dilaksanakan bagi siswa SMA 1 Mamuju perlu kami sarankan:
1. Literasi Terintegrasi dalam Kurikulum dan Budaya Sekolah
Membaca 20 buku bukan sekadar kewajiban, tetapi diintegrasikan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, Sejarah, dan PPKn. Setiap resensi dan refleksi menjadi bagian evaluasi pembelajaran.
2. Pemilihan Buku Kontekstual dan Bernuansa kearifan Lokal
Siswa diberi kebebasan memilih buku sesuai minat dan tahapan berpikir, tidak hanya bersumber dari literatur nasional, buku sejarah lokal seperti Andi Depu, Baharuddin Lopa, Imam Lapeo, Ponggawa Malolo, Perlawanan Pitu Ulunna Salu, serta cerita rakyat dari Mandar dan Mamasa, Kalumpang. Ini membentuk identitas dan kebanggaan daerah, sekaligus menanamkan nilai-nilai lokal seperti keberanian, gotong royong, dan kejujuran.
3. Jurnal Literasi sebagai Cermin Diri
Setiap siswa membuat jurnal literasi yang berisi ringkasan buku, kutipan inspiratif, serta refleksi nilai karakter. Inilah ruang ekspresi yang mendidik dan membangun kepribadian.
4. Literasi sebagai Budaya Hidup Sekolah
Dengan adanya Pojok Literasi, Hari Literasi Literacy Day, lomba resensi, dan diskusi rutin, membaca menjadi tradisi yang menyenangkan. Di SMA 1 Mamuju, literasi bukan kewajiban, tetapi gaya hidup.
5. Peran Guru dan Komite Sekolah
Guru tidak hanya mengajar, tetapi menjadi fasilitator dan sahabat literasi. Komite sekolah turut menyokong dengan pengadaan buku, dukungan digitalisasi perpustakaan, hingga mendorong keterlibatan orang tua dalam gerakan literasi keluarga.
Menghadapi Tantangan, Meraih Peluang
Minimnya koleksi buku fisik, kurangnya akses literasi digital, dan rendahnya literasi keluarga memang menjadi tantangan. Namun, tantangan itu dijawab dengan inovasi:
Digitalisasi Perpustakaan Sekolah: Menyediakan akses buku e-book melalui platform daring.
Gerakan Buku Bergerak: Saling berbagi buku antarkelas, antarangkatan, Alumni bahkan lintas sekolah.
Program Literasi Keluarga: Mendorong orang tua membaca bersama anak di rumah, memperkuat karakter dari dalam keluarga.
Literasi adalah Jalan Menuju Sulbar Maju
SMA Negeri 1 Mamuju telah membuktikan bahwa dengan komitmen, budaya literasi bisa tumbuh, hidup, dan membentuk karakter siswa. Ini bukan hanya tentang jumlah buku yang dibaca, tetapi kualitas nilai yang tertanam dalam diri siswa.
Gerakan wajib membaca 20 buku adalah investasi jangka panjang: untuk membangun Sulawesi Barat yang maju, berkarakter, dan berdaya saing. Dan SMA Negeri 1 Mamuju telah menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari sekolah, dari ruang kelas, dari semangat satu anak yang mencintai buku.
Karena bangsa besar dibangun oleh generasi pembelajar. Dan generasi pembelajar lahir dari budaya literasi yang hidup.
* Penulis adalah Camat Sampaga, Komite SMA Negeri 1 Mamuju
(**)






