Aku dan Himpunanku

  • 8 Feb 2018
  • Opini
  • Herman Mochtar
  • 197
Gambar Aku dan Himpunanku

Mapos, AKU awali tulisan ini dengan mengucap banyak rasa syukur yang sangat luar biasa kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat dan karunianya. Serta tak lupa pula salawat beriringan salam tetap tercurah limpahkan kepada nabi besar Muhammad Shalallahu alaihi wasallam, yang telah membimbing kita dari zaman yang biadab (jahilliayah) menuju zaman yang beradab yaitu dinul Islam. Cahaya kemuliaan yang menyinari seluruh jagat raya sebagai petunjuk dan panduan hidup umat dalam kitab suci-Nya. Manusia ialah puncak ciptaan Tuhan yang mulia di muka bumi sebagai penggerak semua isi bumi. Atau dalam bahasa agamanya disebut sebagai Khalifah.

Maka perlu direfleksikan kembali apa hakekat dari manusia itu sendiri. Jika kita liat dari penjelasan Tuhan dalam kita suci-Nya, maka manusia dapat diartikan dalam 3 bagian. Yaitu yang pertama ialah Basyariah (fisiologis), yang kedua ialah An-naas (sosiologis), kemudian yang terakhir ialah insan (psikologis).

Dalam perjalanannya hidup manusia perlu menyeimbangkan ketiga bagian diatas agar mampu mencapai manusia sempurna atau insan kamil. Tetapi untuk bisa menyeimbangkan bagian-bagian diatas, dibutuhkan kemampuan otak dalam menggerakkan semua tindakan yang dilakukan dan itu perlu ilmu serta pengetahuan. Dari situlah aku membutuhkan Himpunan untuk mengasah intelektualitas diri.

Sangat banyak aku dapatkan dalam Himpunan mengenai arti hidup yang sesungguhnya. “Jika hidup hanya sekedar hidup, maka hewan di hutan pun bisa hidup,” kata Buya Hamka.

Dalam mukaddimah Himpunan dijelaskan bahwa kehidupan yang sesuai dengan fitrahnya adalah panduan utuh antara aspek duniawi dan ukhrawi, individu dan sosial. Serta iman ilmu dan amal. Itulah yang menjadi pandangan Himpunan dalam memaknai arti dari sebuah kehidupan.

Kini usia Himpuanan sudah sangat matang, 71 tahun. Himpunan berkiprah di nusantara tentu sudah banyak mencetak insan kamil dan tidak luput pula mencetak juga insan preman. Himpunan memiliki banyak kader intelektual, namun juga mempunyai banyak kader yang non intelektual. Namun aku meyakini bahwa yang diwariskan dalam Himpunan adalah hal-hal yang sangat mulia untuk mencetak generasi insan kamil. Dan yang tidak mampu menyeimbangkan ketiga aspek dalam mukaddiah diatas, maka akan melahirkan insan preman. Yang aku maksudkan, tentu dalam sebuah kelompok manusia terdiri dari latar belakang yang berbeda. Dan pasti ada yang baik dan ada pula sebaliknya. Maka Himpunan mengajakan aku untuk memahami itu.

AKU dAN HIMPUNAN mulai mesra disaat aku awali perjalanan akademis di dunia perkuliahan. Semenjak pertama kali ospek, aku sudah dilirik oleh para seniorku. Namun sebenarnya semenjak masa ‘putih abu-abu’ pun aku sudah mengenal sedikit tentang Himpunan. Karena pada saat itu di sekolah ada tenaga guru PKL (Praktik Kerja Lapangan) dari kemahasiswaan yang ternyata sebagian dari mereka adalah fungsionaris Himpunan. Dari merekalah aku mengenal gambaran besar mengenai Himpunan. Bahkan pernah dijam sekolah aku diajak demonstrasi bersama mereka. Sungguh pengalaman yang sangat luar biasa.

Dari situ aku mulai tertarik dengan Himpunan. Sehingga tidak kaget lagi ketika saat kuliah aku diajak bergabung dengan Himpunan. Pada saat, menjelang mengikuti Training Dasar, aku merasa ada yang aneh. Aku berfikir, ternyata ada ya manusia yang segila ini. Tidak kenal, tiba-tiba datang ngajak ngopi, dijemput, dibayari, dibelikan makan, dibelikan buku, diantar jalan keliling kota,
dikasih ilmu. Dan semua itu gratis.

Jika kita bandingan dengan ilmu di perkuliahan, sangat lebih luas ilmu yang diberikan Himpunan ke aku terutama ilmu yang kontekstual. Dan ilmu itu aku dapatkan secara gratis tidak perlu
mengeluarkan uang berjuta-juta. Sungguh luar biasa bentuk pengabdian Himpunan untuk mencetak generasi Insan Kamil. Sampai pada saat dimana aku harus melakukan hal yang sama yang diberikan kepada ku saat mulai kuliah.

Ini dilakukan secara terus menerus sehingga membuat para kader Himpunan lebih dari seorang teman. Terbangun hubungan psikologi lebih dalam, sebagai saudara.

Semoga Himpunan yang baik dan mulia ini tetap diisi oleh insan-insan yang dapat mengendalikan asas keseimbangan dan tetap menjaga nama baik Himpunan. Dengan tetap mengedepankan Ke-Islaman dan ke-Indonesia-an untuk berkiprah dalam menjaga dan mengisi Kemerdekaan.

YAKUSA

Oleh : Yasir Arafat Rumagiar
Kader HMI Cabang Malang, Jawa Timur
Komisariat Fisip Merdeka

(*)

Baca Juga