Cukuplah Kematian Menjadi Pelajaran

Kafa Bil-Mauti Mau'izhah

Mapos, SEPERTINYA keberpulangan semakin dekat. Maka persiapanmu menjadi semakin penting.

Tadi saya berpapasan dengan Kepala Dinas Pertanian Sulawesi Barat, Bang Handani Hamdi. Beliau menyapa dan berkata kepada saya:

“Bang, kami butuh nasihat kematian”

Kalimat sederhana itu tiba-tiba membuat saya terdiam dan merenung.

Benar…

Belakangan ini, di seputaran kita, khususnya di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dan orang-orang yang selama ini berada dekat dengan kita, kabar kematian datang berturut-turut.

Sebelumnya, kita kehilangan putri tercinta dari Direktur Utama Rumah Sakit Regional Sulawesi Barat. Pekan lalu, kita kehilangan Drs. Naharuddin, M.Si. Salah seorang pejuang pembentukan Provinsi Sulawesi Barat.

Dan hari ini, sejak waktu Subuh, kabar duka datang berturut-turut. Iptu Amiruddin Gena, saudara sepupu saya, berpulang.

Kemudian Bapak Ilham Borahima, mantan Pj. Bupati Polewali Mandar, juga dipanggil menghadap Allah SWT. Dan berikutnya, Masrah Johar, mantan Camat Bambalamotu yang kemudian mengabdi sebagai staf pada Dinas Pertanian dan Peternakan Sulawesi Barat saat ini.

Tiba-tiba saya merasa bahwa kalimat Kadis Pertanian tadi bukan sekadar permintaan nasihat. Mungkin itu adalah nasihat untuk kita semua.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كفى بالموت واعظًا

“Cukuplah kematian menjadi pelajaran”

Hari ini kita melihat orang lain berpulang. Kita mengucapkan innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.

Kita mengantar mereka ke pemakaman. Kita mendoakan mereka.

Tetapi sesungguhnya, tanpa kita sadari, setiap kematian sedang mengingatkan kita tentang kepulangan kita sendiri. Kita semua sedang menuju ke sana. Hanya waktunya yang berbeda.

Allah SWT berfirman:

«كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian”

(QS. Ali ‘Imran: 185)

Tidak ada jabatan yang bisa menahan kematian. Tidak ada harta yang bisa membeli tambahan waktu. Tidak ada kekuasaan yang bisa menunda ketetapan Allah.

Maka mungkin hari ini kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Kalau hari ini giliran kita, sudah siapkah kita? Sudahkah kita berdamai dengan Allah? Sudahkah kita meminta maaf kepada orang-orang yang pernah kita sakiti? Sudahkah amanah kita tunaikan? Sudahkah kita menyiapkan amal yang akan menemani kita ketika semua yang kita miliki di dunia harus kita tinggalkan?

Sepertinya keberpulangan semakin dekat. Maka persiapanmu menjadi semakin penting.

Kita tidak tahu siapa yang berikutnya. Kita juga tidak tahu kapan nama kita akan disebut. Karena itu, jangan hanya sibuk mempersiapkan kehidupan. Persiapkan pula kepulangan.

Semoga Allah SWT mengampuni, merahmati dan menerima seluruh amal saudara-saudara kita yang telah berpulang. Semoga Allah melapangkan kubur mereka, menerangi alam barzakhnya dan menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya.

Dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, ketabahan dan keikhlasan.

Kafā bil-mauti mau‘izhah. Cukuplah kematian menjadi pelajaran.

Mungkin inilah nasihat kematian yang tadi diminta. Bukan hanya untuk mereka yang telah pergi. Tetapi terutama untuk kita yang masih di sini.

Al-Fatihah. 🤲

 

*Hamba Allah yang masih banyak dosa*
Hajrul Malik
error: Maaf... ! Web ini di Protek yaaa...