Memilih Jalan Sunyi, Bukan Terbunuh

Gambar Memilih Jalan Sunyi, Bukan Terbunuh

Oleh : Adhi Riadi (Anggota AJI)

Minggu pagi tanggal 28 Juli 2019, melintas di beranda akun media sosial Facebook milik pribadi, sebuah karya tulis dari seorang wartawan senior yang juga kini jadi punggawa di salah satu media online lokal ternama. Judul tulisan itu memang sangat luar biasa nan menarik untuk dibincang sembari seruput kopi.

Betapa menariknya, sejumlah komentar di facebook penulis berjudul IJS “Bunuh 2 Kakaknya” ini cukup beragam ada yang mengapresiasi ada pula yang bertanya atas ejektif kata “Bunuh” pada dua organisasi profesi yang berbeda dalam berkiprah di tanah air.

Oh iya, kanda Sarman Sahuding penulisnya, saya cukup mengenal beliau lewat beberapa karya yang cukup luar biasa seperti, Sinar Terang Dari Utara, PUS Dalam Imperium Sejarah dan beberapa karya beliau yang lain.

Tak elok rasanya saya mau mengomentari lebih jauh di akun facebook beliau, sebab tentu kapasitas keilmuan dan kemampuan dalam soal dunia jurnalistik masih sangat jauh. Namun ada Aliansi Jurnalis Independen Kota Mandar (AJI Kota Mandar) yang merupakan salah satu kakak dari IJS yang dimaksud oleh bang Sarman.

Beberapa kali saya mencoba membaca, hingga sampai pada sebuah paragraf menyebutkan nama AJI Kota Mandar, dimana saat ini saya pun ikut terdaftar sebagai anggota di organisasi yang dipimpin oleh Ridwan Alimuddin ini. Sehingga sedikit merasa berkewajiban untuk menyampaikan beberapa pernyataan kepada penulis atas ejektif kata “Bunuh” tersebut.

Adalah wajar jika saya mencoba berspekulasi lebih jauh atas tulisan tersebut, sebab saya melihat adanya uraian subjektif penulis terhadap sebuah masalah, dan begitu kira – kira para jurnalis Eropa (1950) dan Amerika (1980 ) bersepakat untuk memakai istilah artikel bagi tulisan yang berisi pendapat subjektif.

Ihwal terkait kata ” Bunuh” yang dialamatkan pada PWI wabilkhusus AJI Kota Mandar inilah menjadi poin penting harus dijawab dengan kepala dingin, dimana jika kata “Bunuh” itu dimaknai menghilangkan, mencabut, atau mematikan, maka tentu kata tersebut tidaklah relefan untuk AJI Kota Mandar saat ini.

Sejauh ini AJI Kota Mandar tidaklah pernah merasa dibunuh oleh organisasi lain, sebab secara eksistensi organisasi yang digawangi Ridwan Alimuddin ini masih tetap hadir ditengah kasat kusut dunia jurnalistik yang terkadang terjerembab dalam kubangan pragmatisme. AJI Kota Mandar senantiasa hadir memberi pemahaman atau spirit kepada masyarakat akan pentingnya menjaga profesi jurnalis, dan saya pun yakin hal yang sama pula dilakukan oleh PWI, meski kemudian tak harus berada dipanggung mewah atau hotel mewah dan dihibur dengan tari – tarian. Karena AJI pada dasarnya enggan menggunakan bantuan dari pemerintah apalagi perusahaan perusak lingkungan. Sehingga setiap agenda AJI kota Mandar tidak pernah nampak berlebihan namun bukan berarti ia mati karena terbunuh.

Entah apa maksud dari penulis menyebut AJI Kota Mandar dalam karyanya yang cukup menggemparkan jagad sosial media ? Sementara dalam tulisan itu ia mengakui kurang paham apa isi dalam Jurnalis di Mandar, Sulawesi Barat ini termasuk AJI Kota Mandar. Sehingga secara logis narasi dalam tulisan tersebut masih sangat multitafsir, karena ia multitafsir maka wajar jika melahirkan beragam penilaian baik itu positif maupun negatif sehingga penulisnya cukup usap – usap dada jika ada komentar atau pernyataan yang sedikit menukik.

Secara kelembagaan kurang etis rasanya jika harus berbalas pantun dengan para senior, mereka cukup banyak menumpahkan tinta pengetahuan pada saya dalam dunia jurnalistik tak terkecuali guru saya Sarman Sahuding. Saya menyebutnya guru sebab ia selalu memberi wejangan tanpa pernah merasa jenuh, meski dibeberapa ruang terkadang saya harus bersinggungan secara pemikiran.

Melalui catatan ini, tentu sudah berangkat dari pertimbangan secara seksama dan dalam tempo yang cukup lama ingin menegaskan bahwa AJI Kota Mandar tidak pernah merasa dibunuh oleh siapapun, sebab setiap organisasi punya instrumen metodologi berbeda dalam mengepakkan sayapnya demi kemajuan. Mungkin saja AJI Kota Mandar memilih jalan sunyi ditengah kebisingan pragmatisme melanda dunia Jurnalis di Sulawesi Barat.

Mamuju, 28 Juli 2019

(*)

Baca Juga