Membagi Ilmu Jurnalistik di Kaki Gunung Kanang, Polman

  • 23 Nov 2019
  • Polewali
  • Sudirman Al Bukhori
  • 102
Gambar Membagi Ilmu Jurnalistik di Kaki Gunung Kanang, Polman

Mapos, Polman – Pagi, usai sarapan disebuah hotel di Kota Polewali. Lalu meluncur ke salah satu pondok pesantren DDI Al Ihsan yang terletak di satu desa kecil di pinggiran Kota Polewali, Kanang. Desa yang dikenal sebagai penghasil durian di Polman itu.


Udara yang masih asri saat menelusuri jalan yang sudah beraspal. Hanya beberapa menit dari jalan utama akhirnya rombongan Persatuan Wartawan Indonesia (
PWI) Sulbar tiba di Ponpes Al Ihsan.

Disana sudah menunggu Kanit Binmas Aipda Mahyudin didampingi dua orang personilnya. Ada pula sang putri Fadia Asiz pimpred Manakarra TV yang juga Wakil Ketua Bidang SDM PWI Sulbar. Meski ia sempat gelisah karena sang Ketua PWI Sulbar Naskah M Nabhan masih dalam perjalanan ke Polman.

Sejurus kemudian acara pembukaan pelatihan jurnalistik bagi pelajar dan mahasiswa dimulai. Acara pun di buka oleh Wakil Ketua Bidang Pembelaan PWI Sulbar, Mursalim Majid.

Membagi Ilmu Jurnalistik bagi Milineal

Lima orang pemateri dari PWI Sulbar yang cukup refresentatif mulai membagi ilmu soal jurnalistik. Seperti dalam materi yang disampaikan Ketua PWI Sulbar Naskah M Nabhan.

Naskah mencoba membagi pengalamannya selama menjadi wartawan, bahkan suka duka meliput diberbagai negara menjadi pengalaman yang amat berharga bagi dirinya. ” Warta miskin tapi kaya pengalaman,” begitu Naskah memulai bercerita.

Sesekali ia mengungkapkan bahwa menjadi wartawan harus memiliki ilmu pengetahuan, kecerdasan, skill dan kompetensi.

Narasumber lain, Aipda Mayuddin dari Kanit Binmas Polres Polman lebih menyoroti pentingnya memahami mana berita hoax dan bukan hoax.

Hoax menurutnya bisa berujung ancaman pidana bagi orang yang sengaja menyebar. Hal itu diatur dalam UU ITE.

Nampaknya Ilmu mengedit berita dan membuat berita dengan konsep 5 W + I H menjadi hal yang standar yang harus dipahami oleh seorang wartawan pemula. demikian pemred harian Sulbar Expres Solihin.

Tak hanya itu, peserta pun diajari dengan antusias menyimak bagaimana sang jurnalis Inews TV Andika Wahab mencoba mempraktekkan tehnik pengambilan gambar dalam sebuah berita TV.

Suasana makin semangat tatkalah sang moderator Fadia Aziz tak henti – hentinya menyemangati para peserta untuk melempar sejumlah pertanyaan.

Seperti salah satu peserta yang menanyakan bagaimana sikap seorang wartawan jika ditolak seorang narasumber untuk wawancara.

Hampir semua wartawan pernah mengalami nasib yang sama ditolak oleh narasumber.

Dalam UU No 40 1999 ada beberap point yang memang bisa patuhi. Misalanya menyangkut hak privasi narasumber atau off the record.

”Intinya seorang wartawan harus bersikap sopan, tidak menggurui dan mengintrogasi narasumber,” begitu pemaparan Wakil Ketua PWI Sulbar Mursalim Majid dalam materinya.

Rasanya semua produk jurnalistik yang lahir dari tangan wartawan harus berujung pada kode etik jurnalistik.

”Kode etik bagi seorang wartawan amat penting untuk dipatuhi dalam mejalankan tugas jurnalistiknya,” pungkas Ketua DKP PWI Sulbar Sulaeman Rahman dalam materinya.

Hujan yang mengguyur diluar sana, seiring bola jingga itu mulai turun dari kaki kunung kanang. Pukul 17.00 Wita sore helatan yang sederhana itu akhirnya berakhir. Ditutup dengan sesi foto bersama dan plus bagi-bagi hadiah dan sertifikat peserta.

(Mursalim Majid)

Baca Juga