Majene  

Maulid di Pendopo Bupati Majene: Jangan Berhenti pada Seremoni, Persatuan Harus Jadi Kerja Nyata

Bupati Majene Andi Achmad Syukri Tammalele Saat Memberi sambutan pada Maulid di Pendopo Rujab Bupati Majene. Foto: Ist

Mapos, Majene — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Majene, Senin (14/9/2026), kembali mengingatkan bahwa keteladanan Rasulullah SAW bukan sekadar untuk dikenang, tetapi harus diterjemahkan dalam kehidupan sosial dan tata kelola pemerintahan.

Maulid kali ini mengangkat tema “Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai Momentum Sejarah Menumbuhkan Persatuan dan Kepedulian dalam Mewujudkan Majene yang Maju, Mandiri, dan Berbudaya”

Kegiatan tersebut digelar Pemerintah Kabupaten Majene bersama sejumlah organisasi keagamaan dan sosial, diantaranya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Majene, Perhimpunan Hari Besar Islam (PHBI), Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), Dharma Wanita Persatuan (DWP), TP PKK, Dewan Masjid Indonesia (DMI), serta Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Majene.

Kolaborasi tersebut tentu patut diapresiasi. Namun, peringatan Maulid sejatinya tidak boleh berhenti pada panggung seremoni, pembacaan sejarah, dan pesan-pesan moral yang kemudian hilang setelah acara usai.

Sebab, tema persatuan dan kepedulian yang diusung justru menyimpan pekerjaan rumah yang jauh lebih besar. Persatuan harus terlihat dalam pelayanan publik. Kepedulian harus terasa oleh masyarakat, terutama mereka yang masih berhadapan dengan persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, lingkungan, hingga kebutuhan dasar lainnya.

Keteladanan Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar berbicara tentang kekuasaan, melainkan tentang keberpihakan kepada masyarakat dan hadirnya rasa keadilan.

Karena itu, semangat Maulid di lingkungan pemerintahan idealnya menjadi momentum untuk melakukan introspeksi: sejauh mana nilai-nilai akhlak Rasulullah telah mewarnai kebijakan dan pelayanan pemerintah kepada masyarakat?

Begitu pula dengan semangat ASN BerAKHLAK yang disebut menjadi bagian dari pelaksanaan kegiatan tersebut. Nilai itu tidak cukup hanya menjadi slogan dalam berbagai agenda pemerintahan. Ia harus tampak dalam perilaku aparatur, kualitas pelayanan, transparansi, disiplin, serta kesungguhan menyelesaikan persoalan masyarakat.

Maulid Nabi Muhammad SAW akhirnya menjadi lebih bermakna ketika nilai yang disampaikan di Pendopo Rumah Jabatan Bupati itu benar-benar dibawa keluar, menyentuh masjid, rumah-rumah warga, pasar, sekolah, kantor pelayanan, hingga pelosok desa.

Persatuan tidak lahir hanya dari satu acara. Kepedulian pun tidak cukup dibuktikan melalui seremoni.

Keduanya harus menjadi gerakan nyata. Sebab, Majene yang Maju, Mandiri, dan Berbudaya bukan hanya membutuhkan slogan yang indah, tetapi membutuhkan kerja nyata, pelayanan yang berintegritas, serta pemerintah dan masyarakat yang benar-benar menjadikan akhlak Rasulullah SAW sebagai pedoman dalam kehidupan.

(*)

error: Maaf... ! Web ini di Protek yaaa...