Oleh : Hajrul Malik *
Mapos, “KALAU kita bicara literasi, kita sedang bicara masa depan Sulawesi Barat.”
Pesan itu saya tegaskan pada Festival Literasi yang sekaligus menjadi Kick Off rangkaian HUT ke-22 Provinsi Sulawesi Barat.
Sulawesi Barat tidak boleh menjadi penonton di tengah perkembangan teknologi dan sains yang begitu cepat. Anak-anak kita harus mampu menguasai teknologi, memahami sains, dan memiliki pengetahuan yang membuat mereka bisa berdiri sejajar dengan siapa pun.
Tetapi saya ingin mengingatkan: semua itu bermula dari membaca. Bahkan Tuhan sendiri mengawali wahyu-Nya dengan perintah yang sangat jelas: Iqra’—Bacalah!
Karena itu, bagi saya membaca bukan sekadar urusan perpustakaan. Membaca adalah strategi pembangunan. Literasi adalah jalan kita mengejar ketertinggalan.
Hari ini Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat sedang bekerja keras mengejar berbagai ketertinggalan. Kita membangun infrastruktur, memperbaiki pelayanan, mendorong ekonomi dan menyiapkan sumber daya manusia. Tetapi pembangunan fisik saja tidak cukup. Kita juga harus membangun isi kepala masyarakat Sulawesi Barat.
Itulah mengapa kita mendorong Sulbar Mandarras. Saya ingin gerakan membaca menjadi gerakan bersama. Kita dorong masyarakat, terutama generasi muda, untuk membaca dan menuntaskan 20 buku. Bukan soal mengejar angka 20 bukunya, tetapi bagaimana kita membangun kebiasaan membaca, rasa ingin tahu, kemampuan berpikir, dan keberanian untuk bermimpi lebih besar. Saya ingin gerakan ini masuk sampai ke desa-desa.
Melalui kolaborasi dengan Perpustakaan Nasional, kita mendorong KKN Tematik Literasi. Saat ini baru dua perguruan tinggi yang terlibat. Saya ingin lebih banyak perguruan tinggi ikut. Mahasiswa harus hadir di desa bukan hanya menyelesaikan kewajiban akademik, tetapi membawa pengetahuan, menghidupkan ruang baca, mendampingi masyarakat dan menjadi motor gerakan literasi.
Literasi juga jangan dikurung di dalam perpustakaan. Bawa buku ke desa. Bawa buku ke ruang publik. Bawa literasi ke tempat masyarakat berkumpul.
Kita ingin aktivitas literasi hadir berdampingan dengan kegiatan UMKM, termasuk di ruang publik seperti Car Free Day. Sebab masyarakat yang literat bukan hanya masyarakat yang gemar membaca, tetapi masyarakat yang mampu membaca peluang, memahami teknologi, mengelola usaha, dan meningkatkan kualitas hidupnya.
Pada usia 22 tahun Sulawesi Barat, saya ingin kita memiliki keberanian untuk mengatakan: Sulbar harus berlari mengejar ketertinggalan.
Dan untuk berlari, kita membutuhkan manusia-manusia yang berpengetahuan.
Jangan pernah menganggap buku sebagai sesuatu yang sederhana. Dari buku lahir pengetahuan. Dari pengetahuan lahir penguasaan teknologi dan sains. Dan dari manusia-manusia berpengetahuan itulah kita membangun masa depan Sulawesi Barat.
Jadi kalau kita ingin Sulbar maju, mari mulai dengan membaca. Kalau kita ingin anak-anak Sulbar menguasai masa depan, dekatkan mereka dengan buku.
Dan kalau kita ingin Sulawesi Barat berdiri sejajar dengan daerah-daerah maju lainnya, bangun manusianya, kuatkan literasinya.
Sulbar Mandarras
Membaca untuk mengejar ketertinggalan. Membaca untuk menguasai masa depan.
(***)






