Koalisi Maju Malaqbi Diprediksi Pecah Jelang Pilbup 2018

images(12)

Ilustrasi

Mapos. Polman – Partai pendukung ABM-ENNY yang tergabung dalam Koalisi “Maju Malaqbi” diprediksi akan pecah menjelang pemilihan umum bupati (Pilbup) tahun 2018. Situasi politik yang dinilai menguntungkan masing-masing partai diprediksi menjadi penyebabnya pecahnya Maju Malaqbi.

Tanda-tanda bakal karamnya bahtera koalisi partai yang meraih kesuksesan di Pemilukada 2017 itu kian nyata setelah beberapa partai yang tergabung dalam gerbong maju malaqbi telah menentukan sikap bakal mengusung siapa di Pemilukada Mamasa dan Polman tahun 2018 mendatang.

Seperti diberitakan, PAN dan NasDem yang menjadi salah satu motor penggerak utama di koalisi maju malaqbi telah memutuskan untuk melabuhkan pilihannya ke Salim S Mengga untuk Pemilukada Polman dan Ramlan Badawi di Mamasa.

Keputusan kedua partai di atas di Polman dan Mamasa justru menimbulkan tanda tanya besar. Sebab jauh hari sang Gubernur, Ali Baal Masdar santer dikabarkan telah menyiapkan jagoan di kedua Pemilukada 2018 tersebut; Andi Ibrahim Masdar di Polman, serta Obed Nego Depparinding di Mamasa.

Upaya untuk tetap membuat ‘mesra’ pertautan koalisi maju malaqbi di Pemilukada 2018 sebenarnya telah disuarakan oleh Gerindra. Dihubungi belum lama ini, Sekretaris DPD Gerindra Sulawesi Barat, Isra D Pramulya bahkan menyebut, bangunan koalisi maju malaqbi justru akan mendapat tambahan kekuatan dari partai lain, partai yang di Pemilukada Sulawesi Barat yang lalu tak mendukung pasangan Ali Baal Masdar-Enny Anggraeni Anwar.

Ditanya soal kemungkinan retaknya perahu koalisi maju malaqbi di Pemilukada 2018, pengamat politik, Munawir Arifin memaparkan pandangannya. Ia menyebut, Pemilukada Sulawesi Barat dengan Pemilukada Polman dan Mamasa masing-masing punya kepentingan yang berbeda.

“Saya kira tidak ada koalisi partai yang pakem jika ranah dan kontestasinya wilayahnya berbeda. Seperti Pilpres yang beda dengan Pilgub. Begitupun Pilgub berbeda denga Pilbup,” ungkap Munawir Arifin saat dihubungi, Kamis (12/10).

Ia menambahkan, yang kemungkinan besar bakal terjadi di Pemilukada 2018 ialah psikologi pertarungan Pemilukada Sulawesi Barat yang terbawa ke Pemilukada Polman dan Mamasa.

“Sisa pertarungan elit di Pilgub kemarin mungkin masih tersisa dan akan mewarnai,” ujarnya.

Lepasan Universitas Indonesia itu menambahkan, peran sejumlah tokoh politik di Sulawesi Barat dipastikan bakal menambah aroma Pemilukada Sulawesi Barat di pemilukada baik di Polman maupun di Mamasa.

“Semisal SDK dan Salim yang bersatu melawan petahana Andi Ibrahim. Sementara kita tahu bersama, Andi Ibrahim adalah kekuatan utama Ali Baal saat memenangkan Pemilukada khususnya di Polman,” pungkas Munawir Arifin.

Terpisah, Direktur Eksekutif Indeks Politik Indonesia (IPI), Suwadi Idris menganggap, potensi pecahnya koalisi maju malaqbi di Pemilukada serentak 2018 nanti merupakan hal yang wajar.

“Sebab memang beda kepentingannya antara Pilgub dan Pilbup. Di Pilbup Parpol punya kepentingan langsung ke akar rumput. Para kader Parpol juga menjadikan Pemilukada sebagai ajang untuk menjadi Kepala Daerah,” kata Suwadi.

Suwadi juga menyebut, isu kurang harmonisnya hubungan Ali Baal Masdar dengan Enny Anggraeni dalam menahkodai pemerintahan di Sulawesi Barat juga jadi salah satu alasan gerbong maju malaqbi bakal pecah di Pemilukada 2018 mendatang.

“Tentu gerbong Parpol yang dekat dengan keduanya mencari jalannya masing-masing,” pungkas Suwadi Idris.

(Manaf)