Bingung Pilih Caleg? Coblos Logo Partainya Saja, Sah

Gambar Bingung Pilih Caleg? Coblos Logo Partainya Saja, Sah

Mapos. Pemilu Serentak 2019 yang baru pertama kali digelar dalam sejarah karena menggabungkan Pileg dan Pilpres dalam satu hari, membuat masyarakat harus mencoblos 5 surat suara sekaligus: Capres-cawapres, caleg DPR RI, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota, dan DPD.

Untuk surat suara Pilpres sangat mudah karena hanya memilih satu dari dua capres-cawapres. Namun, memilih calon anggota dewan, banyak sekali pilihannya. Misal, memilih calon anggota DPR RI.

Di surat suara DPR RI, ada 16 partai politik nasional yang masing-masing mencalonkan maksimal 10 orang. Jika tiap parpol mencalonkan 10 orang, maka pemilih harus mencoblos 1 dari 160 nama yang ada (hanya nama, tanpa foto).

Sejumlah pekerja menyortir dan melipat surat suara di Gedung Eks Bandara Polonia Medan, Sumatera Utara. Foto: Antara/Septianda Perdana
Di surat suara DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota, jumlahnya tergantung banyaknya calon di tiap provinsi. Ada yang tiap parpol maksimal 10 nama, ada yang 12 nama.

Simak penjelasannya:

Nah, tips sederhana bagi yang sudah punya pilihan: Cari posisi parpol di surat suara, lalu pilih nama caleg yang diinginkan. Coblos dengan paku yang disediakan.

Tapi bagi yang bingung apalagi tak mengenal caleg yang akan dipilih (DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kab/Kota), cukup mencoblos pada lambang atau nomor parpolnya saja. Maka akan tetap dihitung sah.

Opsi ini lebih baik daripada golput dengan tidak mencoblos, atau mencoblos sembarangan hingga merusak surat suara dan dihitung tidak sah.

“Nyoblos parpol saja tetap sah,” ucap komisioner KPU Viryan Aziz, Rabu (28/3/2019).

Ketentuan itu diatur dalam UU Pemilu Pasal 35 Ayat 2 Huruf e:

“Pemberian suara pada surat suara anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dilakukan dengan cara mencoblos 1 kali pada nomor, atau tanda gambar partai politik, dan/atau nama calon dalam partai politik yang sama.”

Semua suara yang masuk ke caleg maupun yang mencoblos parpolnya saja, akan dihitung sebagai perolehan suara parpol. Bagaimana menentukan parpol dan caleg yang lolos parlemen? Simak tulisan lain di bawah ini.

Cara Menghitung Suara Caleg yang Lolos Parlemen dengan Sainte Lague

Calon anggota legislatif terlibat perang terbuka di Pileg 2019 demi melanggeng ke parlemen sebagai anggota dewan periode 2019-2024. Pertarungan bukan hanya antarparpol, tapi caleg dalam satu parpol juga berebut suara.

Kondisi itu diperkuat dengan ketentuan dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2017 tentang Pemilu yang menaikkan ambang batas parlemen dari 3,5% menjadi 4% di Pileg 2019. Dengan syarat itu, parpol yang sekarang ada di parlemen atau parpol baru, bisa jadi gagal lolos parlemen nanti.

Lalu bagaimana menentukan seorang caleg lolos di Pileg 2019?

Metode yang diterapkan untuk Pemilu 2019 disebut sebagai Sainte Lague, berbeda dari Pemilu 2014 yang menggunakan metode Kuota Hare atau Bilangan Pembagi Pemilih (BPP).

Sebelum menentukan caleg mana yang akan mendapatkan kursi, perlu lebih dulu mengetahui parpol yang lolos parliamentary thresold atau memperoleh minimal 4% suara sah nasional. Ada 16 partai politik nasional di Pileg 2019, parpol yang suaranya di bawah 4%, otomatis gagal masuk DPR RI.

Namun, penting dicatat, parliamentary threshold hanya diberlakukan untuk DPR RI, sementara untuk DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota, semua parpol dianggap lolos ke parlemen. Tinggal diikutsertakan dalam penentuan suara metode Sainte Lague, untuk menentukan caleg yang berhak duduk di parlemen sesuai jatah kursi yang ada.

Dasar Hukum

Metode Sainte Lague untuk menentukan caleg yang lolos ke parlemen, dimuat dalam UU Pemilu. Berikut uraiannya:
Pasal 414

(1) Partai politik peserta pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara paling sedikit 4% dari jumlah suara sah secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan kursi anggota DPR.

(2) Seluruh partai politik peserta pemilu diikutkan dalam penentuan perolehan kursi anggota DPRD provinsi dan DPRD (kabupaten/kota)
Pasal 415

(2) Dalam hal penghitungan perolehan kursi DPR, suara sah setiap partai politik yang memenuhi ambang batas perolehan suara dibagi dengan bilangan pembagi 1 dan diikuti secara berurutan oleh bilangan ganjil 3, 5, 7, dan seterusnya.

(3) Dalam hal penghitungan perolehan kursi DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota, suara sah setiap partai politik dibagi dengan bilangan pembagi 1 dan diikuti secara berurutan oleh bilangan ganjil 3, 5, 7, dan seterusnya.

Cara Menghitung

Setelah menentukan parpol nasional yang lolos parliamentary threshold, selanjutnya mengikutsertakan semua parpol itu dalam penghitungan metode Sainte Lague. Penting dicatat, penghitungan dilakukan berdasarkan daerah pemilih (dapil).

Berikut langkahnya:

1. Mengetahui alokasi kursi tiap dapil (cek di sini)

2. Mengetahui suara sah tiap parpol, yang diperoleh dari coblosan untuk logo parpol atau caleg di surat suara.

3. Perolehan suara sah seluruh parpol dibagi dengan bilangan ganjil 1, 3, 5, 7, dan seterusnya sesuai alokasi kursi di tiap dapil.

3. Hasil pembagian di atas kemudian diperingkatkan berdasarkan suara terbanyak untuk mengetahui perolehan kursi masing-masing partai.

4. Jumlah kursi yang didapat parpol tersebut diisi oleh caleg dengan suara terbanyak secara berurutan.
Berikut simulasinya sekiranya di dapil punya alokasi 5 kursi:

Konversi Suara Sainte Lague (Foto: kumparan)

Dari tabel di atas, diketahui Partai A mendapatkan jumlah 3 kursi di dapil tersebut, Partai B dapat 1 kursi, Partai C dapat 1 kursi, Partai D dan E tidak mendapatkan kursi. Parpol yang mendapatkan kursi, menyerahan kursi itu kepada caleg dengan suara terbanyak secara berurutan.

Partai yang tidak mendapatkan kursi di dapil itu, bisa jadi mendapatkan kursi di dapil lainnya karena bagaimanapun dia sudah lolos parliamentary threshold 4% sura sah nasional. Di Pileg 2019 ada 80 dapil seluruh Indonesia. (Kumparan)

(*)

Baca Juga