Mapos, Majene — Mewujudkan Kabupaten Majene sebagai daerah yang layak huni tidak cukup hanya dengan membangun rumah. Hunian harus aman dan layak, kawasan permukiman perlu ditata, sementara urusan pertanahan juga harus memiliki kepastian dan keteraturan.
Pesan itulah yang kini digaungkan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimtan) Kabupaten Majene melalui kampanye “Ayo Bersama Perkimtan, Kita Wujudkan Majene Layak Tinggal.”
Dalam kampanye tersebut, Perkimtan menegaskan bahwa pembangunan perumahan dan kawasan permukiman harus diarahkan untuk menciptakan lingkungan yang nyaman, sehat, aman serta memiliki tata ruang dan pertanahan yang tertib.
“Bukan untuk ditinggalkan, apalagi sampai tertinggal.”
Kalimat tersebut menjadi salah satu pesan utama yang ditampilkan Perkimtan Majene. Sebuah penegasan bahwa pembangunan kawasan permukiman harus memberikan dampak nyata terhadap kualitas hidup masyarakat, bukan sekadar menghadirkan bangunan fisik.
Ada tiga fokus yang menjadi perhatian, yakni hunian layak dan aman, kawasan permukiman yang tertata dan hijau, serta tata ruang dan pertanahan yang teratur.
Ketiganya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam membangun sebuah kawasan yang benar-benar layak ditinggali masyarakat.
Menurut Kepala Dinas Perkimtan Kabupaten Majene, Syahrimayani, melalui Kepala Bidang Kawasan Permukiman, Nursalam Rabu (28/10/2026) hunian yang layak, misalnya, tidak hanya berbicara tentang rumah berdinding dan beratap. Lebih jauh, rumah harus memenuhi aspek keamanan, kesehatan dan kenyamanan bagi penghuninya.
Begitu pula kawasan permukiman. Penataan lingkungan menjadi penting agar pertumbuhan permukiman tidak berlangsung tanpa arah. Ketersediaan ruang terbuka, akses jalan, lingkungan yang bersih serta penataan kawasan menjadi bagian penting dari wajah sebuah daerah.
Sementara dari sisi pertanahan, keteraturan dan kepastian menjadi hal yang tidak kalah penting. Pengelolaan aset dan tanah pemerintah maupun penataan kawasan harus dilakukan secara tertib agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Karena itu, pembangunan permukiman idealnya tidak berhenti pada pembangunan fisik semata. Ada pekerjaan besar di baliknya, yakni memastikan masyarakat mendapatkan lingkungan tempat tinggal yang benar-benar memenuhi standar kelayakan.
Kampanye Perkimtan Majene tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa wajah sebuah daerah salah satunya dapat dilihat dari bagaimana pemerintah menata kawasan permukimannya.
Majene yang layak tinggal bukan sekadar slogan. Tantangannya adalah bagaimana konsep tersebut diterjemahkan menjadi program yang menyentuh kebutuhan masyarakat dan dirasakan manfaatnya secara nyata.
Pada akhirnya, rumah yang layak, lingkungan yang tertata dan pertanahan yang teratur bukan hanya soal pembangunan infrastruktur. Semuanya bermuara pada satu tujuan: meningkatkan kualitas hidup masyarakat Majene.
(*)





