Tokoh Muda Sendana Sayangkan Video Orasi Politik Rusbi Hamid

0
83

Mapos, Majene — Beredarnya video orasi Politik oleh salah seorang mantan anggota DPRD Majene, Rusbi Hamid mendapat kecaman dari tokoh muda Kecamatan Sendana, Irfan Jalaluddin Pasewang.

Menurut Irfan, seorang tokoh politik senior dan sudah beberapa kali duduk di DPRD Kabupaten Majene tidak pantas melontarkan kata-kata yang menjurus pada ujaran kebencian dan fitnah keji terhadap salah satu pasangan calon (Paslon) Bupati Majene.

Dikatakan, dalam video itu, sangat  jelas kalau Rusbi Hamid melontarkan kalimat yang penuh ujaran kebencian, berbau SARA dan isukan politik identitas.

https://mamujupos.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20210212-WA0059.jpg

“Seharusnya dia paham bagaimana bersosialisasi atau berkampanye secara baik, sebab dia seorang politisi senior di Majene,” kata Irfan Pasewang.

Menurutnya, dengan beredarnya video itu membuktikan bahwa seorang tokoh politik senior gagal dalam memberikan pendidikan  politik bagi generasi muda.

“Saya minta teman-teman generasi muda terutama pemilih pemula dan calon generasi mendatang agar tidak mencontoh cara berpolitik seperti dilakukan Rusbi Hamid,” tegasnya.

Ia juga berharap agar pihak terkait seperti Bawaslu, Gakkumdu dan Panwas supaya tidak membiarkan tim pemenangan salah satu Paslon melakukan orasi politik dengan cara-cara tidak terpuji.

Terpisah, Ketua Bawaslu Kabupaten Majene, Sofyan Ali dikonfirmasi, Senin (26/10/2020) di ruang kerjanya mengatakan, pihaknya belum menerima laporan dugaan pelanggaran seperti video yang sudah viral itu.

Kata dia, jauh hari sebelum tahapan kampanye dilakukan oleh Paslon, pihak Bawaslu Kabupaten Majene sudah menyampaikan kepada masing-masing LO atau penghubung Paslon untuk menaati rambu-rambu yang sudah diatur dalam undang-undang.

Ia menyebut sangat jelas dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 tahun 2014 Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota, pasal 69 sangat jelas tertulis dalam kampanye dilarang menghina, seseorang, agama, suku, ras, golongan, Calon Gubernur, Calon Wakil Gubernur, Calon Bupati, Calon Wakil Bupati, Calon Walikota, Calon Wakil Walikota, dan atau partai politik.

“Termasuk melakukan kampanye berupa menghasut, menghina. Jadi tinggal kami lihat dulu bagaimana? Dalam proses penangan itu ada dua dan kita tetap mengedepankan azas praduga tak bersalah,” jelas Sofyan Ali.

Dia mengaku hingga kini pihaknya belum menerima laporan dari masyarakat terkait adanya salah satu tim pemenangan yang diduga dari Paslon 02 melakukan kampanye hitam.

“Tapi karena sudah ada laporan informasi ke pihak kami, maka kami akan melakukan penelusuran. Nanti proses akhirnya akan kita umumkan melalui papan pengumuman,” tegas Sofyan Ali.

Dia berharap agar kedua Paslon supaya menerapkan makna kampanye dengan memaparkan visi misi kepada masyarakat.

“Makna kampanye itu menyampaikan, memaparkan visi misi. Dan tentu ada larangan dalam berkampanye yaitu tidak mempermasalahkan ideologi negera, menghina suku agama dan ras, menghasut, merusak APKnya orang. Itu ada sekitar 9 dan kita sudah sampaikan jauh hari sebelumnya,” pungkas Sofyan Ali.

(*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.