Mapos, SEJENAK obrolan di WhatsApp Group (WAG) HMI dan KAHMI FISIP Unmer Malang setengah serius saat mengarah ke urusan politik. Pemilu serentak 2019.
Ada chat menarik dari senior kami, Ihwan Salam. Tanpa ba bi bu, saya pun minta ijin men-share. Setelah dapat ijin, saya pun mencoba untuk merangkainya dalam sebuah tulisan jurnalistik.
Surga bukan cerita, Indonesia memang surga…
Musim dingin, ketika salju turun, di Eropa atau Amerika Utara, suhu bisa mencapai minus 40 derajat celsius. Artinya, kulkasmu masih lebih hangat.
Itulah saat semua tetumbuhan “mati”, kecuali pohon cemara. Itulah saatnya darahmu bisa berhenti menjadi es ketika kamu keluar rumah tanpa pakaian khusus.
Musim salju adalah ketika manusia bertahan hidup dan beraktivitas yang mungkin, tanpa bisa berjalan jika tak ada bantuan peralatan dan teknologi. Tanpa itu, mati kedinginan. Dan ada satu periode dimana salju berbentuk badai. Badai salju. Terbayang apa yang bisa dilakukan selain bertahan hidup di ruangan berpemanas.
Padang pasir. Begitu keringnya sampai-sampai manusia yang berdiam disana membayangkan sungai-sungai yang mengalir sebagai surga.
Hanya ada beberapa jenis pohon yang bisa hidup dalam suhu bisa diatas 40 derajat celcius. Keringatmu bisa langsung menguap bersama cairan tubuhmu. Dan keberadaan air adalah persoalan hidup mati. Sungguh bukan minyak.
Saya sungguh tidak mengerti ketika ada orang yang masih belum percaya bahwa Indonesia itu serpihan surga.
Cobalah kamu bercelana pendek, pakai kaos dan sandal jepit jalan-jalan di Kanada ketika musim dingin. Atau jalan-jalan dipadang pasir. Dijamin mati.
Disini, di negaramu, kapan saja, mau siang mau malam kamu bisa jalan-jalan kaosan tanpa alas kaki. Mau hujan mau panas, selamat.
Di Eropa Amerika paling banter kamu akan ketemu buah-buahan yang sering kamu pamer-pamerkan. Apel, anggur, sunkist, pier, dan semacamnya. Di Timur tengah paling kamu ketemu kurma, kismis, kacang arab, buah zaitun, buah tin.
Di Indonesia, kamu tak akan sanggup menyebut semua jenis buah dan sayuran, umbi-umbian, kacang-kacangan, bunga-bunga, rempah-rempah, saking banyaknya.
Di Amerika Eropa, kamu akan ketemu makanan. Lagi lagi sandwich, hot dog, hamburger. Itu-itu saja yang divariasi. Paling banter steak, es krim, keju. Di Timur tengah ? Roti. Daging dan daging.
Di Indonesia ? Dari Sabang sampai Merauke, mungkin ada ratusan ribu varian makanan. Ada puluhan jenis soto, varian sambal, olahan daging, ikan dan ayam tak terhitung macamnya. Setiap wilayah ada jenisnya. Kue basah, kue kering ada ribuan jenis. Varian bakso saja sudah sedemikian banyak. Belum lagi singkong, ketan, gula, kelapa bisa menjadi puluhan jenis nama makanan.
Dan tepian jalan dari Sabang sampai Merauke adalah garis penjual makanan terpanjang di dunia. Saya pun tidak berhasil menghitung jumlah penjual makanan, bahkan hanya dari Kemayoran ke Cempaka Putih.
Di Indonesia, kamu bebas mendengar pengajian, sholawatan, dang dut koplo, konser rock, jazz, gamelan dan ecrek-ecrek orang ngamen. Di Eropa, Amerika, dan Timur tengah belum tentu kamu bisa menikmati kecuali pakai head set.
Saya ingin menulis betapa surganya Indonesia dari segala sisi. Hasil buminya, cuacanya, orang-oragnya yang cerdas-cerdas kreatif dan bersahabat. Budayanya, toleransinya, guyonannya, keindahan tempat-tempat wisatanya dan seterusnya. Saya tidak mungkin mampu menulis itu semua meskipun jika air laut menjadi tintanya.
Saking tak terhingganya kenikmatan anugerah Allah SWT pada bangsa Indonesia.
Indonesia ini negara kesayangan Tuhan. Jika kamu tidak bisa mensyukuri itu semua…Jiwamu sudah mati.
Pesan dari tulisan di atas adalah janganlah surga kita ini dihancurkan hanya karena syahwat berkuasa dan keserakahan ketamakan tiada batas.
Janganlah kehangatan persaudaraan yang dicontohkan oleh embah, kakek, opung kita dihancurkan hanya karena kita merasa paling benar dan paling pintar. Padahal, ketahuilah, ilmu yang dimiliki manusia itu atas ijin penciptanya. “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. At-Thalaq : 12).
Tuhan hanya mensyaratkan kamu semua bersyukur agar surga ini tidak jadi neraka. Bahkan andai kamu sering bersyukur, maka nikmat-nikmat itu akan ditambah.
Bersyukur itu diantaranya, tidak merusak apa-apa yang sudah baik. Baik alam lingkungan, sistem nilai, budaya asli dan semacamnya.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)