Relawan Wahdan jadi Guru Ngaji di Tenda Pengungsian

0
729

Mapos, HUJAN baru saja reda malam itu, jalan utama basah sempurna. Aktivitas pengungsi juga sama dengan hari-hari sebelumnya. Mereka tak bisa kembali ke rumah, yang dekat dengan laut.

Sumber gempanya dari sana, meski beberapa rumah masih tampak tegak, namun retakan di beberapa sisi bangunan masih mengundang ketakutan para pengungsi. Mereka adalah nelayan-nelayan yang tak punya pekerjaan sampingan, kecuali hanya itu saja.

Posko Bayangan di Bukit Harapan Kab. Mamuju Kec Tapalang Kelurahan Galung Lingkungan Galung Timur yang dibangun relawan Wahdah Islamiyah, kini bisa menjadi harapan baru. Tidak hanya sebagai posko mengumpulkan bahan logistik untuk warga Tapalang, namun juga dijadikan sebagai pos da’i, tempat belajar, sekaligus tempat menimba ilmu agama.

https://mamujupos.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20210212-WA0059.jpg

Letaknya memang sedikit jauh dari jalan poros Provinsi. Disana relawan mengajar mengaji. Jadwalnya sudah ada. Selesai sholat Maghrib dan Subuh ada jadwal pengajian. Pagi sampai siang, mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an, dan membagikan beberapa paket sembako ke pos-pos pengungsian terdekat.

Anak perempuan dan lelaki tersebut tampak rapi menggunakan peci, baju koko, dan jilbab, manis sekali. Di tangan mereka, tertangkup Al-Quran dan buku tipis yang mereka sebut Buku Dirosah semacam buku Iqra.

Berjalan mengikuti bocah-bocah itu, kami tiba di sebuah masjid sederhana. Masjid itu berada di antara deretan kamp-kamp pengungsian kumuh dan pengap. Tapi di tempat itu, nihil nelangsa. Justru sebaliknya, surau kecil itu penuh dengan keceriaan.

Mereka berkumpul. Dihadapan guru ngaji, yang sebenarnya adalah seorang relawan. Jumlah mereka ada belasan anak. Yang sudah lancar mengaji Al Quran punya kelompoknya sendiri. Sementara yang masih mulai mengeja huruf hijaiyah juga punya kelompoknya sendiri.

Hampir tak ada yang berbeda, cara mereka mengaji pun serupa dengan cara mengaji anak-anak Indonesia kebanyakan. Namun dibalik kesempatan itu, ada haru yang mereka pendam. Mereka adalah korban, sebuah musibah yang sebenarnya mereka tak inginkan.

Tapi, kami menyimak satu hal: ada harapan masa depan yang cerah jika menyimak betapa semangat anak-anak ini mengaji. Tengok saja di salah satu sudut langgar, kumpulan bocah yang masih mengeja huruf hijaiyah berdiri melingkar, lelaki dan perempuan masing-masing mengaji bersama dalam satu lingkaran sambil berdiri.

“Aaa, Baaa, Taa, Tsaaa,” suara mereka mengeja hijaiyah. Sementara itu, relawan Wahdah Islamiyah, Abu Aadzim, tampak sumringah, melihat betapa mulianya tugas ini. Jadi relawan, bisa berbaur dengan para penyintas bencana.

(*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.