Menguji Konsistensi IDE To Mala’bi’ (bagian terakhir)

Gambar Menguji Konsistensi IDE To Mala’bi’ (bagian terakhir)

Mapos, TERLALU banyak bukti inkonsistensi IDE To Mala’bi’ sebagai sebuah gagasan. Tapi penulis hanya menyajikan beberapa saja yang ada hubungannya dengan tulisan sebelumnya.

Diantaranya, pada buku saku IDE To Mala’bi’ halaman 6 tentang pentingnya budaya kerja. Dikatakan bahwa kesadaran dalam bekerja dan melayani untuk menciptakan budaya kerja yang maksimal tanpa merasa tertekan dan terpaksa.

Kebijakan yang muncul justru hanya membuka satu pintu gerbang kantor Gubernur Sulawesi Barat untuk ASN Pemprov Sulbar dengan barisan penjagaan ketat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang sekali lagi makan minumnya hanya janji-janji saja. Belum lagi pos jaga yang tidak layak.

Penulis mewawancarai 3 orang istri Satpol PP yang masih berstatus tenaga kontrak. Ia menceritakan kondisi ekonominya yang makin sulit karena suaminya tidak punya waktu untuk mencari penghasilan tambahan. Juga sering bertengkar untuk urusan antar anak ke sekolah, karena suaminya harus berangkat lebih pagi daripada tenaga kontrak pada dinas atau ASN lain yang hendak melewati pintu gerbang kantor gubernur. Lucunya, instansi vertikal yakni BKKBN dan Kemenkumham yang berada satu kawasan perkantoran turut jadi pihak yang terkena imbasnya.

Juga beberapa kegiatan dinas yang berupaya cari muka dengan menyisipkan kata-kata IDE To Mala’bi’ mulai dari sekadar baligho hingga yang seakan-akan serius ada semacam sosialisasi atau sekadar yel-yel. Faktanya kegiatan tersebut tetap saja terindikasi dikelola, dengan skill standart saja sebenarnya. Untuk mensiasati administrasi guna mengakumulasi kapital.

Sayangnya, ABM sebagai pengendali pemerintahan tertinggi di provinsi ini, tidak tahu banyak tentang IDE To Mala’bi’ sebagai sebuah gagasan. ABM hanya bangga membacakan sambutan yang memang tinggal dibacakan saja sebagaimana lazimnya para pejabat di republik ini.

Seorang ABM hanya menikmati panggung depan, tidak memahami dengan baik hendak kemana IDE To Mala’bi’ sebagai sebuah gagasan. Gagasan yang tidak memiliki sistem monitoring dan evaluasi yang baik sehingga klimaksnya justru terletak pada launchingnya.

Apakah ada perubahan dan pergeseran keadaan menuju dan mendekati tujuan utama ?. Penggagasnya sudah kehilangan energi dan gairah untuk tahu lebih dalam. Padahal semua orang yang ada dalam organisasi pemerintahan harus dipastikan menjadi bagian dalam proses memperjuangkan dan mewujudkan pencapaian tujuan atau target. 

Pada lain sisi, harus dipastikan bahwa ada apresiasi yang memadai pada kinerja yang baik kepada para Satpol. Ada tindak lanjut pada apa yang telah dikerjakan. Bukan hanya diberikan harapan palsu tentang makan – minum dan insentif tambahan. Ini sangat menentukan untuk tetap mengarahkan setiap orang bekerja dengan penuh semangat menuju target.

Penyimpangan perilaku sebagai indikator ketidakkonsistenan ini tidak boleh lepas dari peran dan tanggung jawab seorang ABM. Sebab pada tataran implementasi tak ada prajurit yang bodoh, yang ada adalah jenderal yang tolol.

Ini menandakan bahwa IDE To Mala’bi’ sebagai sebuah gagasan dari awal memang tidak konsisten. Apakah kita akan bertahan terus-menerus di kick off atau kita ramai-ramai tiup pluit panjang tanda pertandingan berakhir ???…

Oleh: Muhaimin Faisal
Direktur Eksekutif Celebes Employers ‘ Federation (CEF)

(*)

Baca Juga