Menguji Konsistensi IDE To Mala’bi’ (bagian kedua dari tiga tulisan)

Gambar Menguji Konsistensi IDE To Mala’bi’ (bagian kedua dari tiga tulisan)

Mapos, SUDAHLAH…hentikan seluruh omong kosong dan basa-basi-busuk, faktanya Sulawesi Barat menurut penilaian hasil survey Ombudsman RI. mendapatkan rapor merah dengan nilai 33,6 untuk urusan pemenuhan komponen standart layanan publik, ini belum termasuk kualitas layanan. Hasil rapor uji kepatuhan ini merupakan indikator konkrit kegagalan mengurusi birokrasi. Indikator kegagalan ABM memimpin Sulbar akan diulas secara bernas pada tulisan dengan tajuk yang lain.

Semua ucapan ABM hanya semacam template, sebagaimana para pramugari menyapa kita di pintu pesawat dan kita tidak merasakan apa-apa sehingga jamak orang berlalu begitu saja tanpa senyum dan jawaban apa-apa atas ucapan selamat datang sang pramugari.

Sementara Muhammad Idris DP menyatakan bahwa kick off budaya kerja Mala’bi’ adalah momentum dimulainya budaya kerja baru. Beberapa hal penting yang harus diwujudkan melalui gerakan ini yakni integritas, disiplin, etos kerja dan terus inovatif.

Kick off, lanjut Muhammad Idris DP, sebetulnya lebih dikenal dalam dunia sepakbola, dimana dimulainya sebuah pertandingan. Maka semangat pertandingan sepakbola ini kita ingin bawa ke dunia kerja di Sulbar. Semangat kick off kita mulai hari ini. Maka dinamisasi kegiatannya tidak
boleh berhenti. Kick off menandakan dinamisasi antara pimpinan, seluruh perangkat dan staf, semuanya bahu membahu untuk membangun budaya kerja baru.

Ternyata kick off itu juga menandakan dimulainya penghinaan pada kata Mala’bi’ dengan menempatkannya di bawah kalkulasi ekonomi, menjadikannya sebagai casing untuk mengakumulasi kapital. Saya percaya ABM dan Muhammad Idris DP tidak terlibat dalam urusan yang tidak Mala’bi’ itu, tapi saya juga yakin bahwa Muhammad Idris DP sangat paham dengan teori butterfly effect bahkan kemungkinan di kepalanya mengalami surplus teori.

Apakah menuju kick off yang Anda maksudkan adalah para ASN harus membayar baju kaos bertuliskan IDE To Mala’bi’ dengan desain dan kualitas rendah serta buku saku IDE To Mala’bi’ juga dengan desain, editan, pilihan font seadanya dan tidak konsisten dengan kualitas cetak yang berselera rendah. Tapi anehnya oleh sebagian pimpinan OPD dijual dengan harga yang tidak pantas yaitu Rp. 150.000,-. Bahkan tidak sedikit ASN yang sudah membayar tapi barangnya tidak ada. Apa boleh buat para ASN harus membayar karena diliputi rasa takut tidak boleh menandatangani absen kehadiran di acara I tersebut dan itu akan dilaporkan ke pak sekprov. Hehe…. lucu kan… induk ayam saja tidak meminum telurnya sendiri.

Agak aneh rasanya kalau saudara Muhammad Idris DP tidak tahu-menahu persoalan ini. Jika Anda tidak tahu berarti terlalu naif, bagi publik yang membayar pajak kepada negara untuk menggaji para pejabat tukang urus publik. Untuk berharap sesuatu dari Anda sebab Anda tidak punya kemampuan monitoring dan evaluasi yang baik.

Padahal kehadiran Anda di Sulbar sebagai mantan Deputi Bidang Diklat Aparatur Lembaga Administarasi Negara (LAN) Republik Indonesia, diawal mendapat ekspektasi publik yang cukup bagus. Sekadar mengingatkan bahwa memberikan kesempatan kepada orang lain berbuat salah, juga merupakan sebuah kesalahan, apalagi dalam posisi Anda yang seharusnya dapat mengendalikan.

Oleh: Muhaimin Faisal
Direktur Eksekutif Celebes Employers ‘ Federation (CEF)

(*)

Baca Juga