Lemahnya Penegakan Hukum di Polsek Budong-budong

  • 13 Feb 2018
  • Hukum
  • Sudirman Al Bukhori
  • 143
Gambar Lemahnya Penegakan Hukum di Polsek Budong-budong Ilustrasi.

Mapos, Mateng – Sulawesi Barat adalah provinsi yang memiliki supremasi hukum, sehingga tidak ada alasan bagi siapapun untuk tidak mematuhi hukum yang berlaku di daerah ini. Namun yang terjadi saat ini justru berbeda banyak oknum-oknum dari kelompok tertentu yang berusaha memaksakan kehendaknya untuk kepentingan kelompoknya, sehingga masyarakat merasa sudah tidak nyaman lagi dan resah di daerah itu. Seolah-olah kita hidup masa peradaban lama atau jaman jahiliyah dan hukum rimba hampir berlaku sepenuhnya.

Kita saat ini menyaksikan pemandangan yang cenderung tidak patut terjadi, dimana lemahnya penegakan hukum.

Seperti yang terjadi di Kecamatan Budong-budong, Kabupaten Mamuju Tengah. Dimana dalam kasus pencurian gorong-gorong, pelakunya tidak diproses malah dilepaskan oleh pihak Polsek Budong-budong dengan alasan barang yang dicuri telah dikembalikan.

Anehnya lagi, pelepasan para pelaku tanpa sepengetahuan korban yang barangnya dicuri. Barang yang dicuripun dikembalikan diam-diam.

Hingga muncul suatu pertanyaan besar, hukum itu milik siapa ?

Saat ditemui media ini, H. Nuhung mengatakan, heran dengan apa yang dilakukan Polsek Budong-budong, melepaskan para pelaku pencurian tanpa melalui pemberitahuan kepada saya selaku korban. Laporan polisi saya pun tak berarti.

“Anehnya lagi, dua hari setelah ditangkapnya para pelaku, secara diam-diam Polsek Budong-budong melepaskan para pelaku dan esok harinya barang milik saya yang dicuri kembali. Saya pun kaget melihat barang yang telah dicuri kembali semua kepada tempatnya,” tuturnya. Selasa (13/2/2018).

Ia menjelaskan, seharusnya pihak Polsek Budong-budong memanggil saya selaku korban.

“Bila disuruh tarik laporan ya saya tarik asal dipertemukan dan bicara baik-baik, bukan diam-diam melepaskan pelaku,” imbuhnya.

Ilustrasi.

Dikonfimrasi terpisah, terkait dilepaskannya pelaku pencurian, Kanit Polsek Budong-budong, Pattah enggan berkomentar.

“Saya tidak tahu Pak,” ucapnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Metro Mamuju AKP Jamaluddin mengatakan, setelah dilakukan interogasi oleh anggota di Polsek Budong-budong, pelaku tidak mengakui bahwa barang itu mereka curi.

“Pelaku mengira barang itu sudah tidak digunakan lagi, hingga barang itu diamankan tidak jauh dari tempatnya,” tuturnya.

Dalam waktu dekat, kami akan panggil para pelaku dan korban agar persoalan ini lebih jelas.

“Kami akan panggil secepatnya para pelaku dan korban, agar persoalan ini betul-betul jelas,” tutupnya.

Jadi bukan dicuri tapi diamankan, itu menurut Kanit Polsek Budong-budong yang diterima dan disampaikan ke saya.

Sebagaimana diketahui, kasus pencurian dengan nilai jutaan rupiah, yang diduga dilakukan oleh AL dan BR.

Kata H Nuhung, tanggal 30 Januari 2018, la melaporkan ke Polsek Budong-Budong soal hilangnya besi parit peruntukan jembatan, namun hingga kini pelaku tidak diproses dan terkesan dibiarkan.

“Besi parit itu milik saya, rencananya akan saya buat jembatan. Namun dicuri. Saya sudah melaporkan kasus ini hingga kini laporan saya tidak diproses. Ada apa?” tuturnya.

Kejadian pencurian itu tanggal 26 Januari 2018 di Jalan Patis Salugatta. Saya berharap, demi menegakkan rasa keadilan. Saya minta agar kasus pencurian ini segera diproses dan pelakunya segara ditangkap,” harap H Nuhung.

(toni)

 

Baca Juga