Honor Honorer K2 Bapenda Diduga Didiskriminasi

  • 20 Des 2019
  • Majene
  • R Fajar Soenoe
  • 702
Gambar Honor Honorer K2 Bapenda Diduga Didiskriminasi

Mapos, Majene — Belum usai permasalah honor atas honorer K2 di Dinas Perhubungan Kabupaten Majene, kini peristiwa serupa juga dialami hononorer K2 di Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Majene.

Menurut salah seorang honorer di Bapenda, Jum’at (20/12/2019) yang enggan namanya disebut, kesan diskriminasi di Badan yang dipimpin oleh Jazuli M Machmud itu berawal dari kebijakan yang menyebut, bahwa setiap honorer yang tidak masuk kantor akan dikenakan sanksi pemotongan honor.

“Dalam perjalanannya, ada honorer yang tidak menjalankan tugas, bahkan tidak pernah masuk kantor, tapi tetap mendapatkan honor penuh sebesar Rp350 ribu perbulan. Katanya, dia adalah keluarga anggota dewan. Anehnya, kita yang juga tidak hadir di kantor dengan alasan sakit dan sebagainya justru dipotong habis-habisan. Saya tahu dan sadar bahwa saya tidak punya backing anggota dewan atau pejabat. Jadi kita maklum saja,” tegas honorer K2 Bapenda.

Menurutnya, jika aturan pemotongan honor atas K2 diberlakukan, jangan diberlakukan hanya pada orang-orang tertentu saja.

“Tidak adil namanya kalau begitu. Kita ini didiskriminasi oleh kepala badan,” tegasnya.

Selain honor, upah pungut juga disebut-sebut turut dipotong hingga 50 persen.

Sebelumnya, mantan Kepala Bapenda Anwar Lazim ketika dikonfirmasi sebelum dirinya pensiun membantah jika ada diskriminasi di Bapenda.

“Semua honorer kita berlakukan sama. Kesepakatannya, setiap honorer yang tidak menjalankan tugas dalam waktu tertentu akan dikenai sanksi pemotongan honor dan uangnya akan kita kembalikan ke kas daerah,” Anwar Lazim kala itu.

“Tapi nyatanya, meski honorer itu tidak pernah hadir, dia tetap mendapat honor,” timpal Honorer K2 Bapenda yang mewanti-wanti agar namanya tidak disebut.

Sayangnya, Kepala Bapenda Jazuli M Machmud ketika coba dikonfirmasi berkali-kali melalui telepon genggamnya tidak pernah berhasil.

“Teleponnya memang jarang sekali aktif dan sepertinya hilang,” ujar salah seorang staf di Bapenda.

(ipunk)