MAJENE, Mapos — Rapat Kerja Daerah (Rakerda) dan Pelantikan Pengurus DPC Partai Amanat Nasional (PAN) se-Kabupaten Majene tidak hanya menjadi momentum konsolidasi struktur, tapi juga desain program strategis yang menempatkan kaderisasi, penguatan ranting, pelayanan aspirasi, tata kelola, dan kolaborasi sebagai satu rangkaian kerja organisasi untuk 12 bulan ke depan menjadi atensi oleh Ketua DPD PAN Kabupaten Majene H. Abdul Wahab, S.H.
Hal ini ia tegaskan di hadapan para kader yang tengah melaksanakan kegiatan di Aula BPMP Sulawesi Barat, Majene, Minggu, 13 September 2026,
Turut hadir Ketua DPW PAN Sulawesi Barat sekaligus Anggota DPR RI, jajaran pengurus DPD PAN Kabupaten Majene, pengurus DPC dan DPRt, partisipan, serta relawan PAN Kabupaten Majene.
H. Abdul Wahab, yang berlatar belakang sarjana hukum ini menegaskan organisasi tidak cukup hanya memiliki struktur, tetapi harus memiliki sistem kerja yang hidup, terukur, dan sampai kepada masyarakat.
Bertemakan “Berakar, Bergerak, Berdampak”, PAN bertekad untuk mengarahkan organisasinya menjadi lebih modern, tertib, responsif, dan berkelanjutan dengan empat orientasi utama: kader berkualitas, struktur yang hidup hingga ranting, aspirasi masyarakat yang terlayani, serta tata kelola yang tertib dan terukur.
Yang menjadi titik utama presentasi Abdul Wahab adalah lahirnya enam program unggulan, yakni MAPAN Academy, AKAR PAN, Rumah Amanat, SAPA Majene, JAGA PAN, dan SIOLA PAN.
Enam program tersebut tidak didesain sebagai kegiatan seremonial yang berdiri sendiri. Dalam konsep yang dipaparkan, semuanya berada dalam satu mata rantai organisasi: kader dibentuk, struktur diaktifkan, aspirasi masyarakat dihimpun, pelayanan dijalankan, tata kelola diperkuat, dan kolaborasi antarstruktur dibangun.
MAPAN Academy menjadi pintu masuk penguatan sumber daya kader. Program ini didesain sebagai kaderisasi yang terstruktur, berjenjang, dan berkelanjutan. Materinya mencakup nilai-nilai PAN, kepemimpinan, komunikasi publik hingga kebijakan daerah, dengan metode kelas, workshop, mentoring, simulasi dan penugasan.
Targetnya bukan sekadar penyelenggaraan pelatihan, tetapi terbentuknya database kader serta kader potensial yang siap diberi tanggung jawab organisasi.
Setelah kaderisasi, penguatan struktur diterjemahkan melalui AKAR PAN — Akselerasi dan Penguatan Ranting PAN. Program ini diarahkan untuk menghidupkan DPC dan DPRt hingga desa dan kelurahan melalui verifikasi kepengurusan, pembinaan serta koordinasi rutin. Salah satu konsep yang diperkenalkan adalah AKAR PAN 365, dengan pendekatan aktivitas rutin di tingkat ranting agar struktur tidak hanya ada secara administratif.
Dengan pola tersebut, Rakerda diarahkan bukan sebatas menyusun kalender kegiatan, melainkan membangun ritme organisasi dari tingkat kabupaten sampai struktur paling bawah.
Rumah Amanat: Aspirasi Tidak Berhenti pada Pertemuan
Salah satu bagian yang menonjol dalam program strategis tersebut adalah Rumah Amanat.
Program ini dirancang menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, konsultasi dan pengaduan melalui layanan langsung maupun kanal digital. Setiap aspirasi direncanakan untuk dicatat, diklasifikasi, diverifikasi dan diteruskan, kemudian perkembangannya dipantau dan dilaporkan. Layanan tersebut dalam dokumen program dinyatakan terbuka bagi masyarakat Majene.
Konsep Rumah Amanat kemudian dipadukan dengan SAPA Majene — Serap Aspirasi dan Pelayanan untuk Majene.
Jika Rumah Amanat menyediakan ruang masyarakat datang dan menyampaikan aspirasi, SAPA Majene menggunakan pendekatan sebaliknya: struktur organisasi yang bergerak mendatangi masyarakat.
Kunjungan dirancang bergilir ke desa, kelurahan, dan kecamatan dengan forum yang menyentuh kelompok pemuda, perempuan, UMKM, petani, nelayan, serta isu pendidikan dan kesehatan. Setiap kegiatan ditargetkan menghasilkan daftar aspirasi dan rekomendasi berdasarkan persoalan yang ditemukan di masyarakat. Program ini dirancang berlangsung minimal satu kali setiap bulan.
Dengan demikian, dua program tersebut membentuk dua jalur komunikasi: masyarakat memiliki ruang menyampaikan kebutuhan, sementara pengurus juga dituntut aktif menjangkau wilayah.
Tidak Hanya Bergerak, tetapi Diukur
Aspek lain yang menjadi perhatian dalam presentasi Abdul Wahab adalah tata kelola.
Melalui JAGA PAN — Jaringan Pengawasan dan Tata Kelola Amanah PAN, organisasi merancang sistem pembinaan, pendataan, dokumentasi, pelaporan, pemahaman regulasi hingga penyusunan standar operasional prosedur. Tahapannya mencakup rekrutmen, pendataan, pembinaan, pelatihan, simulasi dan evaluasi.
Sementara SIOLA PAN — Sinergi dan Kolaborasi Barisan PAN diarahkan untuk memperkuat hubungan kerja antara DPD, DPC, DPRt, kader muda dan perempuan. Konsep tersebut mengambil inspirasi dari nilai siola dan sibaliparriq, yakni berjalan bersama, saling membantu dan saling menopang.
Pendekatan berbasis kultur Mandar tersebut juga menjadi salah satu karakter yang ditonjolkan. Selain Siola dan Sibaliparriq, dokumen program memasukkan nilai Malaqbiq, yang dimaknai dengan sikap bermartabat, santun, serta menjaga kehormatan amanah.
DPC dan DPRt Masuk Sistem Scorecard
Yang membuat rancangan program kerja tersebut berbeda dari pola kegiatan semata adalah diperkenalkannya PAN Majene Scorecard.
Instrumen ini dirancang untuk mengevaluasi kinerja DPC dan DPRt melalui 10 aspek, yaitu struktur, aktivitas, kaderisasi, administrasi, laporan, kegiatan sosial, inovasi, kerja sama, keaktifan dan tata kelola. Hasil scorecard nantinya menjadi dasar pembinaan dan perbaikan organisasi.
Artinya, kepengurusan DPC yang dilantik dalam momentum Rakerda tersebut bukan hanya menerima mandat struktural. Dalam rancangan program yang dipresentasikan, setiap struktur memiliki aktivitas dan indikator yang dapat dievaluasi.
Program juga telah dituangkan ke dalam matriks kerja empat kuartal. MAPAN Academy dimulai dari desain modul hingga evaluasi kader; AKAR PAN bergerak dari verifikasi, pembinaan, aktivasi hingga scorecard; Rumah Amanat dari launching hingga rekap aspirasi; SAPA Majene dari penentuan rute sampai penyusunan rekomendasi; sementara JAGA PAN dan SIOLA PAN memiliki tahapan tersendiri sepanjang tahun.
Targetnya: Program Berubah Menjadi Kultur Kerja
Pada akhirnya, arah yang dipaparkan Abdul Wahab menempatkan keenam program tersebut dalam satu siklus: kader kuat, struktur kuat, kolaborasi kuat, aspirasi terhimpun, pelayanan berjalan dan tata kelola terjaga. Dokumen program menegaskan bahwa seluruhnya merupakan satu alur kerja untuk membina kader, menghidupkan struktur, mendengar masyarakat, melayani, dan menjaga amanah.
Dalam 12 bulan, lima perubahan menjadi sasaran, kader yang terdata, terlatih dan siap ditugaskan; DPC serta DPRt yang aktif dengan agenda bulanan; aspirasi masyarakat yang tercatat dan ditindaklanjuti; administrasi, dokumentasi dan SOP yang berjalan; serta kerja lintas struktur yang menjadi kebiasaan organisasi.
Dengan kerangka tersebut, Rakerda PAN Majene menempatkan pelantikan pengurus DPC sebagai titik awal pelaksanaan program, bukan akhir dari agenda konsolidasi.
(*)






