GP. Ansor Mamuju Peringati Sewindu Haul Gus Dur

0
164

Mapos, Mamuju – Gerakan Pemuda (GP) PAC Ansor Mamuju memperingati Haul Gusdur di warkop Moga jalan Abd. Syakur. Sabtu (30/12/2017).

Kegiatan tersebut dihadiri para pemuka agama diantaranya, tokoh agama Islam Nambru Asdar, tokoh agama Hindu Made Artayasa, tokoh agama Budha Imming Wijaya, tokoh agama Nasrani pendeta Markus Tosa.

Ketua PAC Ansor Mamuju, Muslim Fatillah Asis mengatakan, meski KH. Abd Rahman Wahid yang diyakini telah di surga tapi pemikiran-pemikiran yang brilian, religius yang penuh humanis masih abadi hingga saat ini. Sehingga pertemuan ini untuk merefleksikan kembali pemikiran-pemikiran KH. Abd Rahman Wahid yang biasa disapa Gusdur.

“Sang maha guru bangsa, Sang pembebas keadilan, Sang bapak kemanusiaan yang anti diskriminasi Alm. Gus Dur telah dipanggil oleh Allah SWT tepat pada tanggal 30 Desember 2009 namun karya bhaktinya masih terpatri kepada kita semua,” ungkap Muslim

Muslim melanjutkan, Gus Dur merupakan tokoh bangsa yang hingga saat ini dan masa masa yang akan datang masih relevan untuk terus diteladani dan diperaktekan. Gus Dur merupakan pemersatu bangsa tanpa membedakan agama dan suku bangsa.

“Seperti diketahui, bangsa kita telah dirongrong oleh sekelompok organ-organ yang mengatasnamakan kebenaran, hingga mereka ingin menumbangkan kebinnnekaan, keberagaman kita sebagai bangsa yang majemuk,” tuturnya.

Padahal Ir. Sukarno, kata Muslim, telah merumuskan kemerdekaan bersama-sama dengan para ulama, pendeta, Pastor dan para tokoh tokoh agama dan pemuda telah merumuskan sebuah idiologi yang menjadi landasan kita berorganisasi yakni Pancasila.

Ditempat yang sama, Ketua GP Ansor cabang Mamuju Muhammad zahril mengatakan, tujuan kegiatan Haul Gus Dur bukan untuk memuja Gus Dur tapi mengenang dan mengingat dari sosok Gus Dur yang telah banyak berbuat untuk bangsa ini.

“Yang paling penting kita ketahui adalah Gus Dur merupakan pejuang kemanusiaan. Hampir separuh masa hidupnya hanya untuk mengabdi kepada manusia dan negara. Itu tercermin dari ketauhidan acaranya Islam Ahli Sunnah waljamaah bahwa manusia adalah cerminan dari Allah SWT, ” ucapnya.

Sementara itu, tokoh agama Budha Imming Wijaya mengaku bahwa, Gus Dur merupakan tokoh bangsa yang sangat berjasa terhadap Agama budha yang ada di Indonesia.

“Pada saat itu ada Kepres yang melarang perayaan Imlek di Indonesia tapi Gusdur pada saat itu membatalkan Kepres tersebut dan menerbitkan Kepres baru bahwa Imlek diakui sebagai hari raya Nasional,” katanya.

(fitria)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.