Disiplin Tubuh ASN Pemprov Sulbar (bagian terakhir)

Gambar Disiplin Tubuh ASN Pemprov Sulbar (bagian terakhir)

(Potret Cara Berpikir Kolonial ABM Juncto Muh. Idris DP)

DUNIA sedang mengarah dan tengah menyerahkan dirinya untuk menjadi tawanan teknologi. Tak mungkin daerah ini dikelola dengan cara-cara kolonial.

Ini zaman millenial. Kita harus menyiapkan diri menyambut kebiasaan baru dengan desain meja kerja di kantor tak lagi seperti saat ini dengan kelengkapan PC desktop. Melainkan akan dilengkapi konektor smartphone ke monitor dan keyboard ukuran desktop. Besar kemungkinan banyak kantor tidak lagi menerapkan hadirnya karyawan secara fisik setiap hari sebagai langkah penghematan dan efisiensi pula.

Dari analisa dan data yang ada ini, tampaknya era PC memang akan segera berganti wajah. Perangkat yang ada di dalam smartphone dan tablet saat ini lebih unggul dibandingkan PC satu, dasawarsa bahkan lima tahun yang lalu. Di masa depan, pola kerja akan berubah, begitu pula dengan trend di kalangan para pegawai. Karena itu mengelola daerah dengan metode 80 tahun yang lalu adalah tindakan yang membuktikan bahwa para penentu kebijakan di Sulbar tidak update dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Tentu semua itu tidak mudah dan mungkin saja tidak terlalu dekat, tetapi ke arah sana seharusnya kita menuju.

Cara berpikir kolonial hanya akan menciptakan manusia-manusia sempoyongan, tidak tegak, hidup penuh beban dan tidak tenang. Cara berpikir dipenuhi dengan anasir-anasir lama warisan mantan penjajah. Sulit untuk keluar darinya. Apatahlagi ketika upaya ‘dekolonisasi pikiran’ tidak dijalankan secara terstruktur, sistematis, dan massif. Pada akhirnya akan melahirkan penyakit psikologis bekas jajahan yakni sifat oportunis.

“Menjilat ke atas, menindas ke bawah”. Cari aman sendiri dan tidak peduli dengan nasib orang lain. Pikiran sebagai mantan jajahan ini mesti dibersihkan dari inferioritas, prasangka, stereotip, sikap oportunis sebagai akibat dari struktur, sistem, regulasi dan kebijakan. Berhentilah menyalahkan orang yang sudah terang benderang dikekang struktur dan sistem. Bebaskan mereka dari jebakan itu, selain menyesakkan dada, juga menunjukkan kedangkalan berpikir. Kenaifan berpikir adalah penyakit lintas personal, tidak peduli siapa dia, bergelar sarjana sampai doktor dan profesor sekalipun. Obatnya hanya cara berpikir kritis kata Paulo Freire dan eksponen Mazhab Frankfurt atau RE. Sipayo Tobara’ Lembang Kalumpang, mungkin juga Pua penjaga dan perawat tradisi di Balaesang Tanjung dari balik rumah tumbuh segan.

Fenomena ini sedikit membuat saya malu hati berupaya merampungkan buku bertajuk Mandar-Kaili 4.0, pemerintah Sulbar yang penduduknya didominasi etnis Mandar justru memilih arah berbalik mundur ke zaman kolonial. Padahal dunia sekarang adalah milik millennial 4.0. Belum tahu apa-apa kita tentang 4.0, Society 5.0 telah diperkenalkan di Kantor Perdana Menteri Jepang.

Dunia sedang berlomba memacu pikiran, sementara ABM dan Muh. Idris DP masih sibuk urusi tubuh. Disaat dunia sedang bicara coworking space, smart city, smart goverment, iCloud, Internet of Things (IoT), hingga blockchain, sementara kita masih berurusan dengan pintu gerbang. Kita memang sepertinya masih primitif.

Tapi apa hendak dikata, sepertinya kita memang masih harus bersabar menunggu naiknya satu level IQ (Intelligence Quotient) pemerintah kita. Kecerdasan intelektual yang saya maksudkan adalah sifat-sifat berpikir yang meliputi pemecahan masalah, menalar dan memahami gagasan, hingga daya tangkap dan berpikir abstrak. Termasuk IDE TOMALA’BI’ sebagai sebuah gagasan akan diuji konsistensinya pada tulisan berikutnya.

Sambil menunggu, andai masih boleh menitip harapan, saya berharap sebelum mendisiplinkan tubuh ASN Sulbar, seharusnya gubernur Ali Baal Masdar lebih dahulu mendisiplinkan lingkaran keluarga yang tidak pernah sepi dari desas-desus setoran awal perburuan proyek. Mendisiplinkan para kepala dinas yang piawai memainkan SPPD dan berbagai kelihaian lainnya yang tidak mala’bi’.

Atau mendisiplinkan seorang Ketua Unit Layanan Pengadaan (ULP) saudara Dani yang lebih banyak terlibat dalam pembicaraan cost politic Pilkada. Termasuk rencana putera ABM yakni Andi Iyan menjadi calon wakil bupati pada Pilkada Mamuju Utara.

(*)

Oleh : Muhaimin Faisal
Oleh: Muhaimin Faisal
Direktur Eksekutif Celebes Employers ‘ Federation (CEF)

Baca Juga