Disiplin Tubuh ASN Pemprov Sulbar (bagian pertama dari tiga tulisan)

Gambar Disiplin Tubuh ASN Pemprov Sulbar (bagian pertama dari tiga tulisan)

(Potret Cara Berpikir Kolonial ABM Juncto Muh. Idris DP)

BEBERAPA bulan terakhir saya mengakrabkan diri dengan Financial Technology (FinTech) untuk urusan fasilitas kredit bagi ribuan petani jagung di Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat dan Jember Jawa Timur.

FinTech merupakan hasil gabungan antara jasa keuangan dengan teknologi yang akhirnya mengubah model bisnis dari konvensional menjadi moderat, sebelumnya jika hendak melakukan transaksi harus bertatap-muka dan membawa sejumlah uang. Kini dapat melakukan transaksi berbasis teknologi via handphone dengan aplikasi android maupun ios tanpa harus kemana-mana.

Para petani yang bergabung dalam program pendanaan ini perlahan memulai perubahan penyesuaian metode hidup yang telah didominasi dan dikendalikan teknologi informasi yang efektif dan serba cepat. Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia mendorong berbagai perubahan di beberapa sektor, termasuk perilaku industri perkantoran dengan bermunculannya ruang kerja kreatif kolaboratif dan eksositem kerja yang kondusif.

Perkembangan zaman dan teknologi berperan besar pada perubahan jalur karir dan kehidupan pegawai di kantor. Berbagai perubahan seharusnya membuat para pegawai berevolusi dan menciptakan trend baru di dunia kerja. Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan, konsep Aparatur Sipil Negara (ASN) bekerja dari rumah merupakan bentuk keluwesan pemerintah menghadapi perkembangan zaman.

“Ada konsep kalau kerja lebih enak yang fleksibel, mungkin generasi-generasi ke depan juga akan memilih cara-cara seperti itu, jadi kenapa tidak kita akomodir dari sekarang.”

Karena itu, pemerintah pusat sendiri mulai mendorong birokrasi berbasis digital sejalan dengan berkembangnya revolusi industri 4.0. Melalui kementerian PPN/Bappenas berinisiatif melakukan ujicoba penerapan cara kerja baru yang lebih fleksibel, baik dalam hal waktu maupun tempat
kerja, serta berbasis digital (smart office).

Terkait fleksibilitas pekerjaan ASN tak harus dilakukan di kantor. Pekerjaan coba dilakukan melalui smartphone sehingga akan efisien dan memperpendek alur birokrasi. Ada sejumlah syarat untuk mewujudkan birokrasi yang berbasis 4.0 yakni percepatan layanan, efisiensi layanan, akurasi layanan, fleksibilitas kerja, dan berdampak sosial. Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pun mendukung dan mulai berminat berkembangnya model kantor baru ini.

Berbanding terbalik dengan perkembangan dunia mutakhir dan arah masa depan kemana dunia menuju. Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dibawah kepemimpinan Ali Baal Masdar (ABM) juncto Muhammad Idris DP. (Sekretaris Provinsi Sulawesi Barat), justru memilih pendisiplinan tubuh ASN dengan kaku ala kolonial. Saya tidak menyebut nama Enny Anggraeni (Wakil Gubernur Provinsi Sulawesi Barat) karena memang tidak pernah dilibatkan dalam pengelolaan pemerintahan. Tugasnya hanya mewakili gubernur di beberapa pembukaan acara, bahkan namanya sering dilupa atau susah disebut oleh ABM.

Pintu gerbang berdiri kokoh di pintu keluar masuk, hanya dibuka satu pintu saja, sehingga kemacetan luar biasa dengan tanjakan lumayan tinggi. Walaupun tak ada lonceng/bel berbunyi tetapi suasananya lebih mencekam dari sekolah dasar. Dijaga dengan barisan Satpol Pamong Praja yang harus datang lebih awal walau dengan gaji sebagai tenaga kontrak tiga kali di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) dan lebih sering harus menunggu 3 bulan untuk dibayarkan.

Kebijakan satu pintu gerbang, sejak tanggal 6 januari 2020 membuat jalan arteri berubah menjadi arena melebihi MotoGP. Sebab motor dan mobil balapan liar tanpa aturan. Potensi terpercik air tergenang kalau sebelumnya terjadi hujan berakibat makian dan umpatan. Para ASN melaju dan saling menyalip dalam kecepatan tinggi berebut posisi dengan para pelajar yang juga takut terlambat tiba di sekolah. Perlombaan dengan anak sekolah tak dapat dihindari sebab jadwal masuk yang semula pukul 08.00 wita dimajukan ke pukul 07.30 wita.

Tentu saja ABM dan Muh. Idris DP tidak punya pengalaman empirik soal ini karena tidak pernah mencoba naik motor ikut dalam ‘balap liar’ di jalan arteri ini.

(*)

Oleh : Muhaimin Faisal
Oleh: Muhaimin Faisal
Direktur Eksekutif Celebes Employers Federation (CEF)

Baca Juga