Diberitakan Lakukan Kekerasan, Ini Klarifikasi Kepala Sekolah Yayasan Syahid Al Hidayah

IMG-20171026-WA0026
Kepala Sekolah Yayasan Syahid Al Hidayah “Abdul Rasyid”.

Mapos, Mamuju – Kepala Yayasan Syahid Al Hidayah Abd. Rasyid mengaku heran dengan pemberitaan di salah satu media online di Mamuju. Abd. Rasyid menilai isi berita tersebut tidak benar dan kejadiannya tidak demikian. Pemberitaan yang diangkat itu kejadiannya sudah dua tahun yang lalu dan kejadiannyapun tidak seperti yang diberitakan.

“Pemberitaan yang diangkat di salah satu Media Online itu tidak benar, adapun kejadian itu sudah dua tahun yang lalu dan peristiwanya tidak seperti yang diberitakan, ” jelas Abd. Rasyid. Kamis (26/10/2017).

Ia meluruskan, tidak mungkin saya melakukan hal-hal demikian terhadap anak didik saya sendiri.

Didalam isi pemberitaan yang diberitakan itu, saya melakukan kekerasan kepada siswa saya sendiri, katanya saya menempeleng siswa pakai buku, membungkam mulutnya siswa pakai plakban serta mengikat tangan siswa, menggigit kemaluan Siswa hingga menodongkan senapan angin dikepala siswa. Itu tidak benar dan sangat merusak nama baik saya dan yayasan, ungkapnya.

Ia menceritakan, perlu dipahami ke empat anak itu dikategorikan nakal, namun sebagai kepala sekolah saya harus mendidiknya, mendidik dengan cara yang bijak bukan dengan cara kekerasan seperti yang diberitakan. Terbukti ke empat anak itu tidak mengalami cacat fisik dan ada perubahan yang dulunya bandel kini menjadi penurut dan rajin.

Sebelum para anak-anak itu menjadi anak didik saya, sesuai dengan pesan orang tuanya masing-masing, kalau anak saya nakal pukul saja pak, namun sebagai kepala sekolah kami memiliki hak sebagai anak didikan untuk diberikan hukuman bila anak-anak itu nakal namun didikan yang tidak mencederai, ujarnya.

Olehnya itu, saya selaku kepala sekolah Yayasan Syahid Al hidayah meluruskan semua. Apalagi orang tua masing-masing siswa tidak ada yang keberatan dan memberikan sepenuhnya kepada saya untuk dilakukan didikan.

Demi menjaga nama baik saya dan yayasan, saya berharap agar media yang memuat berita tersebut untuk mengklarifikasi kembali sesuai dengan kode etik jurnalis dan Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Sementara itu, Arsyad, orang tua Marlan mengatakan, anaknya tidak mungkin berbicara persoalan yang belum diketahui. Apalagi Marlan baru berusia 10 tahun.

“Ya kecuali kalau ada yang mengarahkan untuk berbicara bahwa Marlan mendapat perlakuan kekerasan fisik dari Kepsek MI Syahid Al Hidayah. Dan kejadian yang diungkap sudah dua tahun lalu,” katanya, Senin (23/10/2017).

Arsyad menyesalkan wawancara tanpa seijinnya. Kendati.demikian, dia mengaku tidak keberatan dengan pemberitaan tersebut, hanya perlu diluruskan.

“Itu bukan kekerasan, itu adalah didikan. Karena saya sendiri yang menyampaikan kepada kepala sekolah bila anak saya nakal tegasi saja. Saya mendukung keputusan Kepsek itu sepanjang tidak berlebihan,” jelas Arsyad.

Hal sendana juga disampaikan oleh orang tua Randi dan Dayat, Kanalia (35), orang tua Rusli, Raslia (30) dan orang tua Alam, Marni (34). Mereka menilai, sanksi itu masih wajar dan untuk kebaikan anak-anaknya. Mereka pun menandatangani surat pernyataan tidak keberatan.

Sementara Kasat Reskrim Polres Mamuju AKP Jamaluddin mengatakan, terkait adanya pemberitaan bahwa adanya siswa di Yayasan Syahid Al Hidayah di Mamuju, langsung mendatangi kediaman masing-masing siswa di jalan Ahmad Yani Simbuang dan melakukan pengembangan.

Hasilnya, setelah kami meminta keterangan atas kejadian itu, pihak para orang tua siswa tidak mempersoalkan kejadian itu dan tidak keberatan atas kejadian yang menimpa anaknya apalagi kejadiannya sudah dua tahun yang lalu, ungkap Jamaluddin.

Ia menuturkan, dari keterangan para orang tua siswa, mereka mengatakan tidak keberatan, malahan mereka merespon tindakan kepala sekolah itu demi untuk kebaikan anaknya.

“Pihak orang tua siswa tidak mempersoalkan kejadian itu, malahan masing-masing orang tua telah melakukan tanda tangan pernyataan tidak keberatan atas kejadian itu “, tuturnya.

Keempat orang tua siswa itu telah menanda tangani surat pernyataan tidak keberatan, mereka itu adalah Orang tua Rusli, Raslia (30), Orang tua Marlan, Arsyad (40), Orang tua Alam, Marni (34), Org tua Randi dan Dayat, Kanalia (35), tutup Jamaluddin.

(usman)

error: Maaf... ! Web ini di Protek yaaa...