Mapos, Majene – Membangun kesadaran dalam penerapan budaya hidup bersih, baik untuk diri sendiri maupun lingkungan akan mendatangkan keuntungan yang tak ternilai harganya.
Penegasan ini dikatakan oleh Bupati Majene Fahmi Massiara pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tingkat Kabupaten Majene di Kelurahan Labuang Kecamatan Banggae Timur Kamis (19/4/2018) pagi tadi.
Sampah katanya, merupakan persoalan tersendiri yang dihadapi oleh bangsa Indonesia pada umumnya dan di Kabupaten Majene khususnya.
Hari peduli sampah nasional kata Fahmi, bermula ketika tragedi longsor sampah terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah Bandung pada 21 Februari 2005 yang banyak menelan korban jiwa. “Hal itu dipicu oleh pengelolaan sampah yang buruk di TPA.”
Oleh karena itu, hari peduli sampah nasional diperingati setiap tahun dan diharapkan menjadi tonggak perubahan demi terwujudnya Indonesia bersih dari sampah.
HPSN 2018 diawali dengan pencanangan tiga bulan bersih sampah (TBBS) yang dilaksanakan di seluruh Indonesia dengan thema “SAYANGI BUMI, BERSIHKAN DARI SAMPAH” yang berlangsung pada 21 Januari 2018 sampai 21 April 2018.
Gerakan TBBS, selain merupakan salah satu langkah mewujudkan pengurangan sampah sampai 30 persen dan penanganan sampah hingga 70 persen pada tahun 2025 sesuai Peraturan Presiden Nomor 97 tahun 2017 tentang kebijakan dan strategi nasional pengelolaan sampah, juga dapat mewujudkan masyarakat peduli lingkungan.
Selain itu, upaya dilakukan adalah membangun dialog antar kominitas di tujuh kota besar di Indonesia juga Rakernas dan Rakornas Persampahan.
Kegiatan HPSN 2018 lanjut Fahmi Massiara, bersifat partisipatif yaitu adanya pelibatan berbagai pihak, masyarakat, aktivis, komunitas maupun LSM Lingkungan hingga tokoh-tokoh lainnya dan pemerintah sebagai inisiator.
Sejauh ini kata Fahmi, pemerintah telah berupaya keras mengatasi sampah termasuk menambah sarana dan prasarana dibidang persampahan, baik yang dibiayai oleh APBD maupun APBN melalui DAK dan TP juga berasal dari CSR beberapa perusahaan di daerah. Namun, ketersediaan sarana dan prasarana persampahan tidak akan berarti jika komponen masyarakat tidak terlibat dalam mengurangi volume sampah melalui upaya ′reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle (mengolah/mendaur ulang) sampah yang ada.
“Mind set masyarakat juga harus diubah dengan menekankan bahwa bersih merupakan kebutuhan sehingga mereka sadar dan berperilaku hidup bersih,” tegas Fahmi.
Lebih jauh kata Fahmi, tahun ini pemerintah pusat juga telah mencanangkan program kerja bakti nasional yang bertepatan HPSN sebagai salah satu langkah mewujudkan Indonesia bebas sampah di tahun 2020.
Pemerintah berharap dengan adanya kerja bakti nasional yang dilikan serentak di seluruh penjuru Indonesia akan membuat masyarakat lebih peduli terhadap lingkungannya.
(ipunk)






