Buat Mubes IJS yang Zaman NOW

Oleh : Adi Arwan Alimin Redaktur Khusus mapos.com/pengamat media

Oleh : Adi Arwan Alimin
Redaktur Khusus mapos.com/pengamat media

Mapos, MEDIA baru terus berkembang dalam kecambah informasi dan teknologi. Pertumbuhannya mengikuti tren dan ragam kepentingan publik sebagai pengamat, pembaca, bahkan pengelola newsroom. Mobilitas yang makin tinggi juga menempatkan kultur warga pada urgensi mencecap informasi ikut berubah.

Kini media tak memerlukan cara lebih lama dalam mengumpulkan data atau materi yang akan dikemas menjadi bahan laporan. Meski media konvensional masih memegang peranan penting dalam arus gagasan, dan isu, namun pelan tetapi pasti bahwa cara warga dunia makin berubah dalam mengelola setiap informasi yang diterimanya. Publik kian kritis.

Pada titik ini media memiliki tanggung jawab untuk mencerdaskan pembacanya. Sejatinya, setiap wartawan mengeksplorasi dirinya untuk makin lebih berkualitas dan terus menghasilkan karya jurnalistik bernas. Media pun sebagai medium informasi dan komunikasi mesti terus meningkatkan kapasitas manajemen, konten, dan penguatan jejaringnya.

Pembaca atau publik yang makin pandai, dan eksis di media sosial, dalam banyak kesempatan telah mengambil sebagian peran reporter atau wartawan di lapangan. Fenomena ini harus menjadi landas berpikir secara serius bagi newsroom untuk mengubah haluan, meletakkan isu secara tepat. Juga memikirkan pola berbeda antarmedia dalam meramu sudut pandang dalam memilin wacana.

Akhir-akhir ini penulis mengamati lajur pemberitaan bermain dalam pola tertentu.
Keseragaman berita tidak memendarkan spektrum yang memungkinkan kita mencermati konteks setiap media dalam konten yang enak dibaca, dan diperlukan sebagai asupan mengayakan nalar.

***
IMG-20171118-WA0111Catatan khusus ini penulis buat ketika menerima undangan dari Ikatan Jurnalis (IJS) Sulawesi Barat, Kamis, 23 November siang. Forum wartawan yang terbilang besar di bekas Afdeling Mandar ini akan menggelar Musyawarah Besar ke-II. Bagi penulis, mubes ini merupakan momentum penting secara internal untuk merefleksi visi, misi dan peran srategisnya selama ini.

Paling tidak penulis melihat beberapa poin utama. Bahwa IJS sebuah rumah tempat bernaung jurnalis atau wartawan yang memiliki semangat membara. Forum ini juga mengumpulkan sejumlah figur muda potensial di masa datang. Arus berpikir yang kencang dan cukup penuh gelegak di perkumpulan ini memerlukan wadah, sekaligus pemimpin yang kuat, dan terpercaya.

Sebut saja IJS sebagai candradimuka untuk melahirkan pewarta padat prestasi di kemudian hari. Walau tantangan menjadi seorang wartawan hari ini lebih berat. Jurnalis “Zaman NOW”, meminjam istilah yang lagi tren, memerlukan kompetensi untuk memenuhi kepatutan dan kelayakan  seseorang untuk berkecimpung dalam pekerjaan tidak ringan ini. Meski terlihat gampang, dan mudah profesi wartawan sesungguhnya amat mulia hingga membutuhkan orang-orang terbaik.

Untuk Mubes IJS kali ini penulis berharap, wadah ini akan tetap menjadi forum bersama untuk menautkan ide, gagasan dan tindakan yang konstruktif bagi tumbuh-kembang media apapun di daerah kita. Muruah IJS sangat ditentukan semua awaknya. Beberapa bakal punggawanya pun yang penulis kenal sama peluangnya.

IJS kita harapkan menjadi sumbu, atau bahkan benang tasbih yang menyatukan banyaknya bulir harapan untuk menempatkan forum wartawan tetap eksis secara elegan. Kemajemukan yang jamak dalam tubuh IJS. Ini sesuatu yang lumrah dan harus terus dijaga dalam kaidah bersama.

Jadikan IJS sebagai garda terdepan. Sebab tak hanya cukup dengan kata IJS NOW semata untuk media kekinian. Tetapi juga IJS yang WOW. Bermusyawarah dalam kebesaran hati. Salamaq!

Mamuju, 23 November 2017

(*)