Aswas Kejati Sulselbar – Wito, SH : Waspadai Narkoba Lewat Pintu Parepare

  • 14 Mar 2019
  • Majene
  • R Fajar Soenoe
  • 619
Gambar Aswas Kejati Sulselbar – Wito, SH : Waspadai Narkoba Lewat Pintu Parepare

Mapos, Majene – Kasus yang paling menonjol di Sulawesi Selatan dan Barat adalah kasus narkoba.

“Saya lihat dari hasil pemetaan BNN dan penyidik POLRI itu ada pintu masuk dari Parepare. Di situ kan ada pelabuhan. Ini yang perlu kita waspadai bersama, karena hasil penelitian teman-teman jaksa peneliti maupun teman-teman penyidik dari Pelabuhan Parepare, mayoritas berkas dari situ dan dari luar daerah dari Parepare asalnya dari Nunukan, Tarakan dan Malaysia. Yang jadi repot, kita kan lautan. Tapi saya kira penegak hukum juga sudah maksimal tekan jaringan narkoba,” beber Asisten Bidang Pengawasan (Aswas) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Selatan – Barat (Sulselbar) Wito, SH MH saat press release di Kantor Kejaksaan Negeri Majene, Kamis (14/3/2019).

Dikatakan, dalam penegakan hukum pihaknya tidak ada istilah tebang pilih.

“Tidak ada prioritas dalam perkara. Kalau ada pihak yang dirugikan, kita proses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan tidak boleh tebang pilih yang penting ada fakta hukum dan data jelas,” tegas Wito.

Lebih jauh kata dia, setelah melihat dan mengamati situasi kondisi sejak tahun 2018 sampai dengan sekarang, pihaknya tidak menemukan kekurangan dalam memantau kinerja kejaksaan terutama di Sulawesi Barat mulai dari Pasangkayu, Mamuju, Majene Polewali Mandar dan Mamasa.

“Ya, kalau misalkan ada yang kurang-kurang bisa diperbaiki. Tapi syukur Alhamdulillah mulai hari Senin tim pengawasan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dimulai dari Pasangkayu, Mamuju Majene terus kemudian Polewali Mandar dan Mamasa turut gembira bahwa teman-teman yang dipimpin oleh Pak Kajari ada di samping kanan-kiri saya luar biasa, kerjanya bagus,” puji Wito kepada Kajari di Sulbar.

Ada beberapa penilaian yang dialamatkam kepada para Kajari yang dinilai bagus oleh Wito yaitu, dari kelola administrasi, koordinasi dengan sesama penegak hukum, kinerjanya dengan pemerintah daerah dan komunikasi dengan masyarakat juga cukup bagus.

“Cukup bagus Pak. Menggembirakan, mudah-mudahan inilah langkah awal sebagai penegak hukum melayani masyarakat dengan baik,” sebut Wito.

Menurut dia, kasus yang agak menonjol di Sulselbar yaitu narkoba, untuk itu ia minta agar seleuruh elemen masyarakat secara bersama-sama harus waspada terhadap narkoba.

“Bagaimana cara kita mengatasi. Yang pertama, yaitu mulai dari penyidikan yang dilakukan oleh penyidik POLRI maupun BNN. Apalagi Pak Kajari Majene juga mantan dari BNN sangat tahu persis, termasuk Kajari yang lain juga membackup kinerja kepolisian,” kata Wito.

Dalam penagakan hukum atas narkoba katanya, diharapkan supaya penuntut umum tidak kesulitan menentukan pasal mana yang disangkakan, karena ada beda pertama kita harapkan pada kesempatan ini hasil evaluasi dari 28 Kejakaksaan Negeri se Sulawesi Selatan dan Barat dan 9 cabang masih ada problematik. Problematiknya yaitu ada kewajiban bersama-sama bagaimana akibatnya. Terutama harus ada hasil pemeriksaan fisik dari dokter yang ditunjuk oleh BNN.

“Kedua setelah itu, apakah sudah juga dilakukan pemeriksaan psikis kondisi, harus ada dari psikolog Semua asesmen diwanti-wanti juga supaya Jaksa tidak kesulitan menentukan arah pasal mana yang bakal disangkakan. Apakah pengedar apakah pengguna. Yang menentukan itu adalah ahli dari dokter yang ditunjuk oleh BNN, tidak semua dokter boleh melakukan pemeriksaan seperti itu kecuali ada penunjukan. Seperti di sini, kan jauh. Itu harus ada kerjasama dengan BNN dan dokter, tanpa itu nggak bisa,” ujar Wito.

Akhirnya, ia berharap agar semua masyarakat menjauhi narkoba.

(ipunk)