Mapos, Majene — Antrean panjang kendaraan kembali terjadi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Lembang, Kelurahan Lembang, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Jumat (21/8/2026) pagi.
Pantauan Mapos sekitar pukul 06.00 Wita, kendaraan roda empat hingga roda dua tampak mengular untuk mendapatkan BBM. Antrean bahkan terlihat semakin panjang karena bukan hanya kendaraan yang ikut mengantre, tetapi juga sejumlah jeriken dengan berbagai ukuran.
Pemandangan tersebut memunculkan kembali pertanyaan klasik: mengapa masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan BBM?
Seorang petugas SPBU yang meminta namanya tidak disebutkan mengatakan, antrean panjang tersebut bukan hal baru. Menurutnya, kondisi itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari.
“Sudah biasa seperti ini. Pasokan dari Pertamina tidak selalu sama setiap hari,” ujarnya.
Ia menyebutkan, jumlah pasokan yang masuk ke SPBU Lembang berbeda-beda. Dalam kondisi tertentu, pasokan bisa mencapai 16 ton, namun pada hari lainnya hanya sekitar 8 ton.
“Kadang masuk 16 ton, kadang pula 8 ton, tergantung hari apa,” katanya.
Ketidakpastian jumlah pasokan tersebut membuat masyarakat harus berebut mendapatkan BBM ketika stok tersedia.
Kondisi itu pada akhirnya menciptakan antrean panjang yang berulang.
Yang menarik perhatian, di tengah antrean kendaraan tersebut terlihat pula jeriken dengan berbagai ukuran. Keberadaan jeriken tentu menjadi bagian yang perlu mendapat perhatian serius, terutama jika BBM yang dibeli merupakan BBM bersubsidi yang semestinya disalurkan secara tepat sasaran.
BPH Migas sendiri menegaskan pentingnya pengawasan distribusi BBM bersubsidi agar tepat sasaran dan tepat volume. Pengawasan juga diperlukan untuk mencegah pembelian berulang maupun dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi.
Sementara itu, hingga pantauan dilakukan Jumat pagi, tidak terlihat petugas kepolisian yang melakukan pengaturan di lokasi.
Padahal, antrean panjang di SPBU Lembang bukan persoalan baru. Pada April 2026 lalu, antrean BBM di SPBU yang sama juga dilaporkan membludak hingga membutuhkan pengerahan personel Polres Majene untuk mengamankan dan mengurai kemacetan.
Kondisi ini tentu patut menjadi perhatian Pertamina, pemerintah daerah, dan aparat terkait. Sebab, jika antrean panjang terjadi hampir setiap hari, persoalannya bukan lagi sekadar antrean biasa, melainkan menyangkut ketersediaan, pemerataan distribusi, pengawasan, serta akses masyarakat terhadap kebutuhan energi.
Masyarakat tentu berharap persoalan tersebut tidak terus berulang. Jangan sampai antrean BBM menjadi rutinitas yang dianggap biasa, sementara penyebab utamanya tidak pernah benar-benar dibenahi.
(*)






