Majene  

Alishter dan KP3 Provinsi Sulbar Latih Petani di Majene

Mapos, Majene – Untuk meningkatkan pengetahuan petani tentang bagaimana menggunakan pestisida agar aman, baik aman untuk petaninya, juga aman bagi lingkungan dan ekosistem, Aliansi Stewardship Herbisida Terpadu (Alishter) bekerja sama dengan Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) mengadakan pelatihan kepada ratusan petani Kabupaten Majene, Kamis (28/3/2019) di salah satu hotel di Majene.
Ketua Alishter pusat, Mulyadi Benteng mengatakan, untuk di Provinsi Sulbar, Kabupaten Majene adalah daerah keenam yang dilatih.Dikatakan, terbentuknya Alishter sejak tahun 2015 silam bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani atas penggunaan herbisida sehingga meminimalisir risiko terhadap manusia, lingkungan dan tanaman.

“Kadang petani dalam menggunakan pestisida tidak memperhitungkan dampak yang timbul. Termasuk cara menggunakan handsprayer. Kalau menyemprot tanaman secara asal-asalan bisa mengakibatkan tanaman produktif ikut mati,” ungkap Mulyadi.

Menurut dia, pelatihan yang dilakukan bertujuan agar para petani dalam memakai herbisida supaya dapat digunakan secara optimal dengan memahami label yang sesuai dengan kebutuhan petani, sehingga terhindar dari dampaknya negatif.

Pelibatan semua pihak termasuk dinas kesehatan sangat diperlukan supaya petani paham dampak pestisida terhadap tubuh manusia.

Mulyadi mengaku, pihaknya sudah melatih sedikitnya 12.074 orang dan bagi petani yang telah mengikuti pelatihan ini diberikan sertifikat oleh KP3 dari provinsi masing-masing.

Metode pelatihannya menurut Mulyadi, sudah tertuang dalam Permentan Nomor 39 tahun 2016 tentang kerja sama antar Alishter dengan pemerintah.

Disinggung soal hasil yang dicapai petani setelah mengikuti pelatihan, Mulyadi Betteng mengatakan, pola petani dalam menggunakan pestisida sudah berubah.

“Kita ajarkan bagaimana menggunakan alat pelindung diri seperti baju, kaos tangan, masker dan lain-lain. Ini merupakan ganggu jawab kita sebagai distributor. Semua sudah mengerti, sehingga dampak negatif dari pestisida terminimalisir,” akunya.

Dengan menggunakan teknologi herbisida para kuat lanjutnya, akan dapat mengendalikan hama tanaman secara sempurna dengan tindak menggunakan banyak tenaga kerja.

Lebih jauh dikatakan, sebagai mitra pemerintah, pihaknya terus melakukan upaya membekali petani dengan ilmu dan tidak membebani pemerintah dari segi pembiayaan.

“Kita dukung pemerintah melalui peningkatan sumber daya manusia dalam mewujudkan swasembada pangan sebagai wujud tanggung jawab produsen herbisida,” pungkas Mulyadi Betteng.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Majene, Burhan mengapresiasi Alishter, karena kegiatan yang dia lakukan adalah implementasi perwujudan visi misi Bupati Majene Fahmi Massiara yang tagline nya Majene Profesional, Majene Proaktif dan Majene Produktif (MP3).

“Pelatihan ini menjadi keuntungan tersendiri bagi masyarakat dan Pemkab Majene sebab tidak dibiayai oleh Pemkab. Jangan kita bebankan terus pemerintah, meskipun pemerintah juga sudah banyak memberi bantuan kepada petani berupa sejumlah program,” kata Burhan.

Ia mengaku jumlah petani di Majene mencapai 70 persen, artinya jika mereka dibekali ilmu pengetahuan mulai dari bercocok tanam hingga penanggulangan hama dan penyakit tanaman, maka revolusi hijau pemerintah Kabupaten Majene akan terwujud.

“Masyarakat kita adalah masyarakat agraris sehingga sangat dibutuhkan pelatihan seperti ini,” kata Burhan.

Ia berharap, dari hasil pelatihan yang didapat dalam penggunaan pestisida dapat ditransfer kepada petani lainnya, karena Alishter tidak mengakomodir semua petani yang ada.

(ipunk)
error: Maaf... ! Web ini di Protek yaaa...