ABM Sudahlah…

Gambar ABM Sudahlah…

Mapos, PENULIS memulai dengan menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa Coronavirus (COVID-19) yang semakin hari penyebarannya di tanah air semakin massif. Semakin hari menurut pemberitaan media semakin banyak terinfeksi, semakin banyak yang takut, ketakutan massal yang entah disengaja atau tidak telah diproduksi banyak pihak terutama oleh media mainstream yang diduga pemiliknya lebih mudah dibeli daripada perangkat medianya.

Terlepas dari perdebatan apakah COVID-19 merupakan fenomena by design atau by accident? Apakah virus alat perang atau bukan?. Siapa saja kelompok yang mencoba merubah peta dunia bahkan memutarnya ke arah berlawanan? Deretan pertanyaan mendasar bisa dijejer lebih panjang lagi. Tapi sudahlah penulis tidak sedang bermaksud membahas itu.

Yang pasti, COVID-19 menjelma menjadi kuda tak bertuan, yang ramai-ramai ditunggangi para joki yang kekurangan kuda. Pertanyaan pertama untuk jadi pisau analisis adalah siapa yang berpotensi meraup keuntungan dalam peristiwa ini? Baik di tingkat lokal maupun global?

Sementara pada mayoritas orang di kerak ekonomi paling bawah yang hidup dari pendapatan harian, harus menyangga ketidakpastian setiap hari. Dan dibiarkan yatim piatu, terancam tak mampu menyangga hidup dibalik intimidasi sirine dan intaian shadow anak-anaknya bakal melewati malam dengan perut kosong. Bagi sedikit pihak seakan tak menjadi ancaman, seakan tak menuntut pertanggungjawaban apa-apa dari para pemimpin karena seluruh waktunya seolah-olah dihabiskan untuk corona. Tapi bukan waktunya untuk saling menyalahkan dalam konteks kemanusiaan yang utuh. Walau dalam konteks tanggung jawab publik, tentu tetap ada ruang untuk menuntut kepala dan tubuh publiknya.

Tapi sudahlah… selalu ada ilmu hikmah dibalik sebuah peristiwa, termasuk COVID-19 pandemik yang meruntuhkan dunia kesehatan global sampai hari ini. Yang sangat mungkin perusahaan farmasi gigantik juga berada di belakang semua ini dan kini meraup untung. Tapi kalau ini yang mau kita bahas persoalannya bisa panjang sekali, biar kertas lain saja yang menceritakannya.

Penulis sudahi saja soal COVID 19 dengan tawaran cara pandang dari sisi lain bahwa boleh jadi begini cara Allah SWT memutar kehidupan, menciptakan keseimbangan baru, menata ulang peta dunia dan memberi kesempatan setiap bangsa untuk menentukan posisi, memberikan tutorial mempergauli alam dengan harmoninya tanpa kebisingan yang lebih banyak mengacaukan irama. Termasuk mempergauli anggota keluarga, serta mempergauli makhluk lain.

Jika selama ini kita senantiasa mengejar kebahagiaan di luar rumah, tak pernah bercengkrama dengan anak, maka Allah SWT menginterupsi seluruh kebiasaan itu dengan COVID-19. Kemudian perlahan kita dirayapi rasa dan kesadaran bahwa berpelukan dengan pasangan hidup dan buah hati memacu hormon kebahagiaan untuk berkerja lebih hikmat. Walau hakikat hidup penulis bukan untuk mengejar bahagia.

Dahulu, ada seorang pengusaha kaya di Eropa menghabiskan banyak waktunya untuk berkeliling mengunjungi seluruh tempat wisata terbaik di dunia. Dan pada akhirnya dia mengatakan bahwa saat yang paling indah dan menyenangkan adalah ketika kita kembali pulang ke rumah.

Lantas bagaimana dengan Ali Baal Masdar (ABM) yang lebih dari separuh hidupnya dihabiskan dengan menjadi seorang pejabat? Tahun-tahun terakhir menjadi gubernur tanpa ditemani sang istri. Istri yang cantik, bersahaja dan berkharisma harus menjalani episode-episode akhir kehidupannya dengan menjadi anggota DPR-RI. Harus lebih banyak menjalani hari-harinya tidak dengan sang suami, anak-anak
dan cucu.

Walau penulis tidak begitu dekat, penulis percaya bahwa sebagai pribadi ABM adalah orang baik, perilaku hidup sederhana adalah hal yang original dalam dirinya. Ketaatannya pada ritual keagamaan tak perlu disangsikan. Tetapi tidak semua orang baik sanggup menjadi pemimpin yang baik. Karena ini bukan urusan rumah tangga, penulis tidak sedang membicarakan kepala rumah tangga. Tetapi seorang kepala daerah dalam hal ini seorang Gubernur Sulawesi Barat. Jadi saya tidak sedang menyorot tubuh ABM sebagai pribadi, tetapi sedang berupaya menginterupsi tubuh publiknya. Karena itu, jarak tidak akan mempengaruhi kritisisme terhadap kemampuannya memimpin daerah ini.

Sangat boleh jadi Allah SWT, tidak sekadar melakukan lockdown pada beberapa fungsi-fungsi organ tubuh ABM. Tetapi sudah pada tahap shutdown seiring dengan usia yang terus menua. Tentu tidak rasional dan manusiawi menuntut ABM melakukan sesuatu yang melebihi dari kapasitasnya saat ini.

Karena itu mumpung lagi trend stay at home, mungkin akan lebih bijaksana dan membahagiakan bagi ABM dan segenap keluarga besarnya kalau ini menjadi momentum untuk stay at home. Dan menjalani episode-episode akhir kehidupan tanpa tekanan dan pertanggungjawaban atas segala persoalan-persoalan yang masih bakal menghadang pada dua tahun ke depan sisa waktu kepemimpinan ABM.

Jangan pernah berkhayal pasca COVID 19 situasi akan membaik begitu saja, sebagaimana orang sembuh dari flu. Pandemi sedahsyat ini pasti punya konsekuensi yang panjang terhadap ekonomi politik, terutama kepada rakyat yang ABM pimpin di Sulawesi Barat ini. Dimasa COVID 19 saja masih terus memaksa diri menjalani hidup seperti biasa, bukan karena tidak takut bahaya COVID 19 tapi live must go on. Jadi mulailah membayangkan situasi yang jauh lebih sulit pasca COVID 19.

Jadi ABM, Sudahlah… inilah waktunya untuk di rumah saja dan bukan rumah jabatan sekali lagi bukan rumah jabatan. Sudahlah…..ABM.

Oleh : Muhaimin Faisal
Direktur Eksekutif Celebes Employers Federation (CEF)

(*)

Baca Juga