Dari Istiqlal pada Subuh 10 Muharram: Mengenang Karbala dan Mencari Jalan Persatuan Umat

Secangkir Kopi

Oleh : Hajrul Malik *

Mapos, USAI menunaikan shalat Subuh di Masjid Istiql al Jakarta, saya memilih duduk sejenak menikmati suasana pagi yang masih teduh. Jamaah mulai berangsur meninggalkan ruang utama masjid. Sebagian masih larut dalam zikir dan doa, sebagian lainnya bergegas menyambut aktivitas hari itu. Cahaya matahari perlahan menembus sudut-sudut bangunan megah yang menjadi simbol kebanggaan umat Islam Indonesia.

Hari ini adalah 10 Muharram.

Bagi umat Islam, Asyura adalah hari yang istimewa. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa pada hari inilah Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun. Rasulullah ﷺ bahkan menganjurkan umatnya untuk berpuasa sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas kemenangan kebenaran atas kezaliman.

Namun setiap kali 10 Muharram tiba, ingatan saya juga melayang kepada sebuah peristiwa yang terjadi lebih dari empat belas abad lalu di sebuah padang tandus bernama Karbala. Pada hari itu, cucu Rasulullah ﷺ, Sayyidina Husain bin Ali ra., gugur bersama keluarga dan para sahabat setianya dalam sebuah tragedi yang hingga hari ini masih meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah Islam.

Saya lahir dan tumbuh dalam tradisi Sunni. Karena itu, saya tidak menulis catatan ini untuk memperdebatkan persoalan teologis yang selama berabad-abad menjadi perbincangan antara Sunni dan Syiah. Saya juga tidak bermaksud membuka kembali luka lama yang telah banyak menguras energi umat. Saya justru ingin memandang Karbala sebagai pelajaran sejarah dan peradaban yang relevan bagi umat Islam masa kini, termasuk bagi kita di Indonesia.

Empat belas abad telah berlalu sejak darah Husain membasahi pasir Karbala. Para pelaku sejarah telah lama meninggalkan dunia. Dinasti Umayyah telah runtuh. Kekuasaan berganti dari satu tangan ke tangan lainnya. Namun ada satu hal yang menarik untuk direnungkan. Nama Husain tetap hidup dalam hati umat Islam di berbagai penjuru dunia, sementara banyak penguasa yang dahulu begitu ditakuti kini hanya menjadi catatan dalam buku-buku sejarah.

Barangkali di situlah letak pelajaran pertama dari Karbala. Kekuasaan dapat memenangkan pertempuran, tetapi hanya keteladanan dan integritas yang mampu memenangkan sejarah.

Sejarah mencatat bahwa tragedi Karbala berawal dari dinamika politik setelah wafatnya Muawiyah bin Abi Sufyan. Ketika kekuasaan beralih kepada putranya, Yazid, muncul berbagai pandangan di tengah umat Islam mengenai proses suksesi tersebut. Dalam situasi itulah Husain menerima banyak surat dari penduduk Kufah yang memintanya datang untuk memimpin mereka.

Husain bukanlah sosok yang haus kekuasaan. Jika tujuan beliau adalah mencari keselamatan pribadi, tentu lebih mudah baginya untuk tetap tinggal di Madinah. Namun beliau memilih menempuh jalan yang diyakininya benar. Bersama keluarga dan sejumlah pengikut setia, beliau berangkat menuju Irak. Akan tetapi sejarah kemudian memperlihatkan ironi yang menyakitkan. Mereka yang mengirim surat dukungan ternyata tidak mampu memberikan pembelaan ketika beliau benar-benar membutuhkan pertolongan.

Di Karbala, Husain dan rombongannya dikepung. Akses terhadap air dibatasi. Jumlah pasukan yang menghadapinya jauh lebih besar. Pada tanggal 10 Muharram 61 Hijriah, pertempuran yang tidak seimbang itu berakhir dengan gugurnya Husain bersama banyak anggota keluarga Rasulullah ﷺ.

Bagi saya, tragedi Karbala bukan sekadar kisah peperangan. Ia adalah kisah tentang benturan antara moralitas dan kekuasaan. Ia adalah kisah tentang keberanian mempertahankan prinsip ketika jalan yang ditempuh hampir pasti membawa risiko besar. Ia juga merupakan kisah tentang bagaimana pengkhianatan sering kali lebih menyakitkan daripada perlawanan dari pihak yang memang sejak awal berseberangan.

Karbala mengajarkan bahwa sebuah perjuangan tidak selalu gagal karena kuatnya lawan, tetapi kadang karena rapuhnya komitmen dari mereka yang sebelumnya menyatakan dukungan. Pelajaran ini tetap relevan hingga hari ini, baik dalam kehidupan politik, organisasi, maupun kehidupan bermasyarakat.

Namun yang lebih menarik lagi adalah bagaimana sebuah peristiwa yang terjadi pada tahun 680 M masih mampu memengaruhi kehidupan politik dunia modern. Tidak banyak tragedi dalam sejarah yang memiliki daya hidup sepanjang itu. Karbala adalah salah satunya.

Ketika saya mencoba memahami mengapa Iran mampu bertahan menghadapi tekanan internasional yang begitu besar selama beberapa dekade terakhir, saya menemukan bahwa jawabannya tidak hanya terletak pada kekuatan militernya, kemampuan teknologinya, atau sumber daya alamnya. Ada faktor yang lebih dalam, yaitu memori sejarah.

Para ilmuwan politik seperti Ervand Abrahamian, Nikki Keddie, dan Hamid Dabashi menjelaskan bahwa Karbala telah menjadi bagian penting dari kesadaran kolektif bangsa Iran. Pengorbanan Husain dipahami sebagai simbol keberanian menghadapi tekanan dan ketidakadilan. Narasi itu terus diwariskan dari generasi ke generasi hingga menjadi bagian dari identitas nasional mereka.

Karena itu, ketika Iran menghadapi embargo ekonomi, tekanan diplomatik, maupun konfrontasi dengan Amerika Serikat dan sekutunya, banyak warga Iran tidak melihatnya semata-mata sebagai persoalan politik kontemporer. Dalam kesadaran historis mereka, selalu ada ingatan tentang keteguhan Husain di Karbala. Ada keyakinan bahwa sebuah bangsa harus memiliki keberanian untuk bertahan meskipun berada dalam posisi yang sulit.

Tentu saja, memahami sumber kekuatan Iran tidak berarti harus menyetujui seluruh kebijakan politik negara tersebut. Dalam dunia modern, setiap negara memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Akan tetapi, ada satu pelajaran penting yang dapat dipetik. Bangsa yang mampu merawat memori sejarahnya sering kali memiliki daya tahan yang lebih kuat dibanding bangsa yang kehilangan narasi besar tentang dirinya sendiri.

Di sinilah saya melihat relevansi Karbala bagi dunia Islam secara umum dan Indonesia secara khusus. Kita tidak perlu mengimpor konflik mazhab dari Timur Tengah. Kita juga tidak perlu mewarisi permusuhan yang lahir dari pergolakan politik berabad-abad silam. Yang kita perlukan adalah kemampuan mengambil hikmah dari sejarah untuk menjawab tantangan zaman.

Indonesia berdiri di atas fondasi persatuan. Dari Aceh hingga Papua, dari berbagai suku, bahasa, dan latar belakang keagamaan, bangsa ini memilih hidup bersama dalam satu rumah besar bernama Indonesia. Pilihan itu tidak selalu mudah, tetapi terbukti menjadi sumber kekuatan kita.

Karena itu, ketika mengenang Karbala pada hari Asyura, saya justru melihat pentingnya menjaga persatuan umat. Sejarah menunjukkan bahwa perpecahan internal sering kali menjadi pintu masuk bagi melemahnya sebuah peradaban. Sebaliknya, persatuan mampu mengubah keragaman menjadi kekuatan.

Hari ini umat Islam menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibanding masa Husain. Kita menghadapi kemiskinan, ketimpangan pendidikan, ketertinggalan ilmu pengetahuan, ketergantungan teknologi, dan berbagai persoalan sosial yang memerlukan kerja sama serta kebijaksanaan. Energi umat seharusnya diarahkan untuk membangun peradaban, bukan untuk menghidupkan kembali permusuhan masa lalu.

Duduk di Istiqlal pada pagi 10 Muharram ini, saya semakin memahami bahwa sejarah tidak pernah meminta kita untuk menjadi tawanan masa lalu. Sejarah hanya meminta kita untuk belajar darinya. Husain telah menunaikan tugasnya pada zamannya. Beliau menunjukkan kepada dunia bahwa kehormatan tidak selalu diukur oleh kemenangan politik dan bahwa prinsip tidak selalu dapat dibeli oleh kekuasaan.

Tugas generasi kita adalah memastikan bahwa pengorbanan itu melahirkan hikmah, bukan kebencian; melahirkan persatuan, bukan perpecahan; melahirkan peradaban, bukan permusuhan.

Ketika matahari pagi mulai meninggi di atas kubah Istiqlal, saya menyadari bahwa Karbala sesungguhnya bukan hanya tentang bagaimana seorang cucu Nabi gugur di medan perjuangan. Karbala adalah tentang keberanian mempertahankan nilai, tentang keteguhan memegang prinsip, dan tentang pentingnya menjaga persatuan umat agar sejarah kelam tidak terulang dalam bentuk yang berbeda.

Dan mungkin, itulah pesan terbesar yang masih dapat kita dengar dari padang Karbala hingga hari ini. Bukan seruan untuk membenci, melainkan panggilan untuk belajar. Bukan ajakan untuk terpecah, melainkan undangan untuk bersatu. Sebab pada akhirnya, sejarah yang paling berharga bukanlah sejarah yang terus dipertengkarkan, melainkan sejarah yang mampu menerangi jalan menuju masa depan yang lebih baik.

(*)

 

 

* Tenaga Ahli Gubernur Sulawesi Barat
error: Maaf... ! Web ini di Protek yaaa...