Mapos, Majene — Pihak Pelaksana Wahana Rumah Hantu di Lantai II Pusat Pertokoan Majene Sulawesi Barat yaitu Sanggar Sandeqora tidak main-main dalam berkegiatan.
Pada wahana dikelolanya memang menampilkan sajian sangat mirip makhluk astral di dunia nyata. Setiap pengunjung pasti merasakan sensasi berhadapan langsung dengan hantu benaran.
Bagitu wahana ditutup, lorong langsung gelap total. Di ujung sudah nampak sosok perempuan berambut panjang duduk membelakangi pengunjung dengan kepala terkulai.
Saat langkah kaki mendekat, kepalanya menoleh 180 derajat secara perlahan tanpa menggerakkan badan, diiringi suara yang pelan. Di tikungan berikutnya, hantu yang lain menanti tanpa suara, kain kafan yang dikenakan menjuntai ke tanah terseret di lantai dan berhenti tepat satu jengkal dari wajah pengunjung yang paling depan.
Belum sempat mundur, dari atas jatuh sehelai rambut panjang tepat di bahu. Ketika pengunjung refleks menengadah, Setiap sudut punya “penghuninya”.
Ada yang diam di balik tirai lusuh dan tiba-tiba tertawa melengking saat dilewati. Ada yang melotot dengan mata merah di sudut-sudut lorong, ada yang berlari diiringi suara hantu. Mereka tiba-tiba muncul lalu menghilang.
Di lorong berikut, begitu masuk, langkah pengunjung langsung berubah. Dari yang awalnya jalan normal jadi menapak pelan, bahu terangkat, dan mata menyapu setiap sudut gelap.
Nafas mereka terdengar lebih berat karena menahan tegang. Saat siluet putih di ujung lorong menoleh, sebagian besar langsung tersentak mundur, ada yang spontan merapat ke dinding sambil menutup mulut, ada yang menggenggam lengan temannya erat-erat sampai berbekas.
Di titik jumpscare para pocong mengikik bersamaan semakin membuat bulu kuduk merinding. Satu pengunjung refleks jongkok sambil melindungi kepala, yang lain berbalik mau lari tapi tertahan karena rombongannya sendiri panik.
Jantung berdebar kencang terlihat dari dada yang naik-turun cepat saat mereka diam terpaku di tengah hening.
Rombongan berlima yang masuk dengan formasi sejajar, keluar dengan formasi kacau: yang tadinya di depan justru terdorong ke belakang, saling tarik agar tidak tertinggal.
Meski begitu, wajah mereka fokus. Mereka masuk ke dalam cerita yang diciptakan para hantu kami. Dari tegang, kaget, sampai gemetar. Itulah yang dirasakan 300an lebih pengunjung saat berhadapan langsung dengan “penghuni” Rumah Hantu Sanggar kami.
(*)






