Warga di Majene Keluhkan Semprotan Disinfektan

  • 2 Apr 2020
  • Majene
  • R Fajar Soenoe
  • 568
Gambar Warga di Majene Keluhkan Semprotan Disinfektan

Mapos, Majene — Sejumlah masyarakat pelintas di jalur Trans Sulawesi tepatnya di depan Dinas Perhubungan Kabupaten Majene mengeluh lantaran masih disemprot cairan disinfektan oleh petugas yang tergabung dalam Tim Gugus Penanganan (TGP) Covid 19 Kabupaten Majene.

Oleh masyarakat awam menilai, berdasarkan informasi yang mereka terima dari para dokter maupun ahli melalui media TV dan media sosial serta sumber resmi lainnya menyebutkan, penggunaan cairan disinfektan hanya diperuntukkan bagi benda mati.

“Jika disemprotkan langsung ke tubuh bisa menimbulkan efek pada seseorang terutama yang alergi terhadap zat kimia dan penderita penyakit asma. Itu yang saya dengar dari pendapat para ahli,” sebut salah seorang pelintas, Alfian, Rabu (01/03/2020) malam usai disemprot cairan disinfektan di Posko Karantina Sementara Kabupaten Majene.

Dikatakan, tidak masalah jika orang yang disemprot tidak alergi terhadap zat-zat kimia tertentu. Tapi, meskipun yang bersangkutan tidak ada keluhan, kalau setiap lewat dari Tinambung kemudian pulang lagi sebanyak tiga kali, maka pasti juga akan berdampak pada kesehatannya,” ungkap Alfian.

Dia minta supaya pihak terkait agar mempertimbangkan semprotan disinfektan kepada tubuh orang sebelum berdampak buruk pada kesehatan seseorang.

“Bisa jadi kita tidak kena corona, tapi timbul penyakit lain yang lebih berbahaya,” keluhnya.

Ketua TGP Covid 19 Majene, Ilhamsyah dikonfirmasi via telepon genggamnya malam tadi tidak bisa memberikan keterangan pasti soal dampak penyemprotan disinfektan.

“Silakan menghubungi orang farmasi. Karena menurut dia, disinfektan yang disemprotkan ke badan orang di Dinas Perhubungan adalah memang untuk orang. Disinfektan kan ada bermacam-macam. Ada yang diperuntukkan untuk orang, untuk rumah dan sebagainya. Silakan hubungi farmasinya,” ucap Ilhamsyah.

Terpisah, pihak farmasi TGP Covid 19 Majene, Nur Eka mengatakan, ada yang mesti dipahami terkait desinfektan dan antiseptik, keduanya menggunakan bahan kimia.

“Biasanya konsentrasi yang digunakan sama atau lebih besar, jika digunakan pada benda mati disebut desinfektan dan jika pada manusia disebut antiseptik. Sebenarnya, tergantung bahan apa yang kita gunakan,” ungkap Nur Eka.

Ia memberi contoh, klorhexidin pada konsentrasi 4 persen berfungsi sebagai deinfektan cuci alat medis, pada konsentrasi 2 persen sebagai bahan cuci tangan dan pada konsentrasi 0,2 persen sebagai mouthwash atau cairan untuk membilas mulut.

“Jadi intinya, tergantung berapa konsentrasi bahan yang kita gunakan,” tegasnya.

Mengenai penggunaan chamber/desinfektan kabin lanjutnya, memang tidak boleh karena zat aktif bahan kimia langsung masuk ke dalam saluran pernapasan yang jika terhirup bisa merusak paru-paru dan beberapa bahan kimia desinfektan mengandung zat yang bersifat karsinogenik penyebab kanker.

“Kami atau pemerintah tidak akan mencederai masyarakat dengan menggunakan bahan tanpa analisis. Ingat ya, bukan disinfektan yang kita semprotkan ke tubuh masyarakat, tapi cairan antiseptik,” imbuhnya seraya menambahkan agar masyarakat tidak perlu takut untuk disemprot dengan catatan supaya menutup mata karena dapat menyebabkan iritasi.

“Mari kita bersama memutus mata rantai penyebaran Covid 19 ini dengan berpola hidup bersih,” pungkasnya.

(ipunk)