Tersangka Korupsi Dijadikan Tahanan Kota, LAK Sulbar: Budaya Bobrok

  • 21 Feb 2019
  • Hukum
  • Sudirman Al Bukhori
  • 441
Gambar Tersangka Korupsi Dijadikan Tahanan Kota, LAK Sulbar: Budaya Bobrok

Mapos, Mamuju – Kejaksaan Tinggi Sulselbar, mengalihkan status tahanan tersangka kasus korupsi alat peraga kampanye (APK) pilgub Sulbar 2016 menjadi tahanan kota.

“Tersangka kini menjadi tahanan kota,” kata Kasi Penkum Kejati Sulselbar, Salahuddin, Kamis (21/2/2019).

Tersangka tersebut adalah Sekretaris KPU Sulbar Abd Rahman Syam

Menurut Salahuddin, pengalihan status tahanan itu karena tersangka telah mengembalikan kerugiaan negara 750 juta. Selain itu, tersangka Abd. Rahman Syam masih aktif sebagai Sekretaris KPU.

Alasan lainnya, kata Salahuddin, sebentar lagi mendekati pemilu, demi kelancaran proses pemilihan umum presiden dan wakil presiden serta legislatif, maka dilakukan penahanan kota Mamuju.

Sebelumnya, sekitar pukul 09.00 Wita pagi tadi, telah dilaksanakan serah terima tersangka dan barang bukti dari Kejati Sulselbar ke Kejari Mamuju.

Tersangka Abd Rahman Syam disangkakan melanggar pasal 2 ayat 1 subsider pasal 3 jo pasal 18 ayat 1 huruf b UU RI Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana diubah dengan UU RI Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI No. 31 tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor.

Sementara, Ketua Laskar Anti Korupsi Sulbar, Musim Fatillah Asiz menilai, suatu budaya bobrok yang dipertontonkan penegak hukum, dalam hal ini kejaksaan.

“Harusnya tersangka kasus korupsi juga di tahan di rutan, seperti halnya tersangka pencuri ayam, judi, narkoba dan lainnya, bukan malah di jadikan tahanan kota, yang artinya tidur nyenyak di rumah tanpa ada gigitan nyamuk,” cetus Muslim.

Lak mendesak, Kajari Mamuju untuk menerapkan asas equality before the law yang artinya berlaku adil dalam menerapkan hukum.

“Jangan hanya masyarakat kecil yang berkasus baru ditahan di rutan, tapi para pejabat yang merampok uang negara justru diberi kenikmatan tahanan kota,” tegasnya.

“Perlakuan istimewa terhadap tersangka kasus korupsi dengan predikat tahanan kota merupakan budaya bobrok,” tutup aktivis anti korupsi itu.

(usman)

Baca Juga
caleg sulbar no 23
caleg sulbar no 27
caleg sulbar no 39
caleg sulbar no 42