Oleh : Hajrul Malik *
Mapos, SALAH satu alasan paling kuat mengapa taking the good itu penting
adalah karena cara kerja otak kita sendiri.
Dalam psikologi, dikenal sebuah konsep yang disebut negativity bias. Artinya sederhana, tetapi dampaknya besar:
otak manusia jauh lebih cepat menangkap, menyimpan, dan mengulang pengalaman buruk dibandingkan pengalaman baik.
Ketika seseorang mengalami keburukan seperti disakiti, dikecewakan, diremehkan maka otak meresponsnya dengan sangat cepat. Bahkan tanpa diminta, ingatan itu muncul kembali, seolah mencari bukti bahwa: “Ia memang sering berbuat buruk.”
Pengalaman buruk itu melekat kuat,
seperti velcro yg lengket, sulit dilepas, dan bertahan lama. Akibatnya, stres pun mudah muncul dan berlarut-larut.
Sebaliknya, saat kita mengalami kebaikan –
dibantu, dipahami, diperlakukan dengan tulus – anehnya, pengalaman itu justru cepat menghilang.Otak kita seperti teflon: licin saat menerima kebaikan, mudah tergelincir dari ingatan.
Karena itulah para ahli menyebutkan,
untuk menyeimbangkan satu pengalaman buruk, kita perlu empat sampai lima kali
menghadirkan dan mengendapkan pengalaman baik secara sadar.
Di sinilah taking the good menjadi latihan yang sangat penting. Ia bukan menolak kenyataan buruk, tetapi mengoreksi kecenderungan otak yang terlalu berat sebelah.
Ia mengajarkan kita untuk dengan sengaja
menahan kebaikan lebih lama di dalam diri,
agar tidak kalah oleh satu keburukan yang lewat.
Menariknya, prinsip ini sudah diajarkan
oleh Rasulullah ﷺ jauh sebelum psikologi modern mengenalnya.
Rasulullah ﷺ mengingatkan agar kita
tidak terjebak melihat keburukan semata,
hingga melupakan kebaikan yang jauh lebih banyak.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً،
إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
(رواه مسلم)
“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah.
Jika ia tidak menyukai satu perangainya,
pasti ia akan ridha pada perangai yang lain.”
(HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan keseimbangan batin:
jangan biarkan satu keburukan menghapus seluruh kebaikan. Jangan biarkan pikiran terpaku pada satu sisi, hingga lupa sisi lain yang lebih menenangkan.
Inilah esensi taking the good. Ia melatih kita untuk berkata pada diri sendiri:
“Aku melihat keburukan itu,
tetapi aku memilih menyimpan kebaikan yang lebih banyak.”
Saat kita sengaja mengendapkan kebaikan-
mengingatnya, merasakannya, mengulangnya dalam batin – kita sedang membangun pertahanan jiwa yang sehat dan kuat.
Bukan dengan menyangkal luka, tetapi dengan memperbanyak cadangan kebaikan
agar luka tidak menguasai seluruh ruang hati.
Hari keempat ini mengajak kita memahami:
taking the good bukan sekadar teknik merasa bahagia, melainkan cara sadar
untuk menata ulang cara otak dan hati bekerja.
Karena jiwa yang sehat bukan jiwa yang tak pernah terluka, tetapi jiwa yang tahu
kebaikan mana yang perlu disimpan lebih lama.
(***)






