Sosok Pemimpin Amanah

  • 12 Nov 2018
  • Opini
  • Sudirman Al Bukhori
  • 94
Gambar Sosok Pemimpin Amanah Ilustrasi
  • Oleh: Muh. Sudirman Al Bukhari (Redaktur mamujupos.com)

“Kullukum ra’in, wa kullukum masulun an-ra’iyyatih (Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan diminta pertanggungjawaban).” (HR. Bukhari Muslim)

Khalifah Umar justru tidak melihat kesempatan untuk memperkaya diri

Umar bin Abdul Aziz berdiri di atas mimbar di hari Jumat. Ia kemudian menangis. Ia telah dibaiat umat Islam sebagai pemimpin. Di sekelilingnya terdapat para pemimpin, menteri, ulama, penyair dan panglima pasukan.

Ia berkata, ”Cabutlah pembaiatan kalian!” Mereka menjawab, ”Kami tidak menginginkan selain Anda!” Ia kemudian memangku jabatan itu, sedang ia sendiri membencinya.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz selesai di bai’ah umat Islam, sesampai di rumahnya dia menangis. Ketika ditanya isterinya mengapa menangis, dia menjawab, “Saya takut kepada Allah Swt, karena sebagai khalifah, kalau ada seorang saja rakyat yang mati kelaparan, sayalah yang ditanya Tuhan.”

Tidak sampai satu minggu kemudian, kondisi tubuhnya sangat lemah dan air mukanya telah berubah. Bahkan ia tidak mempunyai baju kecuali hanya satu. Orang-orang bertanya kepada istrinya tentang apa yang terjadi pada khalifah.

Istrinya menjawab, ”Demi Allah, ia tidak tidur semalaman. Demi Allah, ia beranjak ke tempat tidurnya, membolak-balik tubuhnya seolah tidur di atas bara api, Ia mengatakan, ”Ah, ah, aku memangku urusan umat Muhammad SAW, sedang pada hari Kiamat aku akan dimintai tanggungjawab oleh fakir dan miskin, anak-anak dan para janda.”

Itulah sosok pemimpin yang amat memegang amanah serta tanggung jawab, melebihi apapun. Khalifah Umar justru tidak melihat kesempatan untuk memperkaya diri atau memanfaatkan jabatannya itu, melainkan beban berat yang dipikulnya di hari Kiamat kelak.

Oleh karenanya, sejarah mencatat, selama kepemimpinan nya, sang Khalifah benar-benar bertindak dengan mendahulukan kepentingan umat. Dan hal tersebut juga ditanamkan kepada segenap anggota keluarganya.

Maka seorang pemimpin yang memimpin orang banyak adalah gembala yang akan diminta pertanggungjawabannya atas gembalaannya.

“Seorang isteri adalah gembala atas rumah tangga suaminya dan ia diminta pertanggungjawaban atas gembalaannya”

Karena itu menurut konsep Islam, semua orang adalah pemimpin, dan setiap orang harus mempertanggungjawabkan tindakannya kepada sesamanya di dunia dan kepada Allah kelak di akhirat.

Di samping amanah, sifat adil juga harus ada pada setiap pemimpin. Karena adil dimaknai menempatkan sesuatu pada tempatnya. Tidak memihak dan diskriminatif. Seorang yang terpilih menjadi pemimpin harus mampu berdiri di atas semua golongan, dengan tidak mengutamakan golongan tertentu (QS. al-Maidah: 8).

Amanah dan adil merupakan satu prinsip yang harus ditegakkan oleh pemimpin.

Amanah itu kekuasaan

Ada ungkapan menarik menyebutkan bahwa “amanah” identik dengan “kekuasaan”. Ungkapan ini menyiratkan dua hal: Pertama, apabila manusia berkuasa di bumi, menjadi khalifah maka kekuasaan itu diperoleh sebagai suatu pendelegasian kewenangan dari Allah Swt (delegation of outhority), karena Allah sebagai sumber segala kekuasaan, yang suatu saat nanti harus dipertanggungjawabkannya, dan; Kedua, karena kekuasaan itu pada dasarnya amanah, maka pelaksanaannya pun memerlukan amanah.

Amanah dalam hal ini adalah sikap penuh pertanggungjawaban, jujur, dan istiqamah. Amanah adalah sesuatu yang berat, tidak seperti dipahami sementara orang yang hubbud dunya (cinta dunia). Ketika Allah swt menawarkan amanah kepada langit, bumi dan kepada gunung, semuanya enggan dan menolak menerimanya karena dikhawatirkan tidak mampu mengembannya. Namun ketika tawaran itu ditujukan kepada manusia, manusia langsung menerimanya, sekalipun manusia kata Allah “zalim dan bodoh” (QS. al-Ahzab: 72).

Amanah tidak lagi diartikan sebagai sesuatu yang harus ditunaikan kepada pemberi amanah (QS, an-Nisa‘: 57), akan tetapi diartikan sebagai rezeki yang harus disujud syukuri. Sekarang ini kita saksikan banyak peminat

mencalonkan diri jadi pemimpin, caleg dan lainnya, mereka menguber dan mengumbar dengan seribu janji, ia lupa bahwa al-wa’du daynun (janji itu adalah utang). Innal ‘ahda kana masula (setiap janji akan diminta pertanggungjawaban).

Bahkan tidak sedikit pula yang bermain dengan uang (money politics) untuk sampai ke kursi pimpinan.

Kita juga menyaksikan banyak pejabat yang dilantik, disertai “sumpah” dengan bersaksikan Alquran di atas kepalanya. Ini tentu berat sekali risikonya bila suatu saat nantinya ia mengkhianati sumpahnya.

Barangkali inilah satu penyebab banyaknya pejabat yang tidak berkah dalam jabatannya, menjadi tersangka korupsi dan dijebloskan ke dalam penjara.

Imam al-Ghazali pernah mengatakan bahwa rusaknya negara adalah karena rusaknya para penguasa, dan rusaknya para penguasa adalah karena rusaknya para ulama, dan rusaknya para ulama adalah karena rusaknya para hakim.

Seperti diutarakan al-Ghazali paling tidak karena tiga hal, yaitu: Pertama, tidak adanya kepemimpinan (krisis kepemimpinan).

Kedua, tidak adanya akhlak dan hati nurani (krisis akhlak)

Ilustrasi

Ketiga, tidak adanya pelaksanaan hukum yang benar dan adil (homo homuni lupus). Alasan ini sangat logis, karena semua kita memahami bahwa penguasa itu lambang dari kepemimpinan, para ulama adalah lambang dari akhlak (akhlaqul karimah), dan para hakim adalah lambang terlaksannya hukum yang benar dan adil.

(*)