Oleh : Hajrul Malik *
Mapos, ANAK-ANAK belajar tentang dunia pertama kali bukan dari sekolah, bukan dari ceramah, tetapi dari rumah. Mereka menyerap bukan hanya kata-kata orang tuanya, melainkan cara orang tua menghadapi tekanan, kekecewaan, dan konflik. Cara ayah atau ibu merespons masalah hari ini akan menjadi “bahasa emosi” yang dipelajari anak untuk menghadapi hidupnya kelak. Di sinilah letak persoalan yang sering luput kita sadari: amarah orang tua dapat menjelma menjadi takdir emosi anak.
Al-Qur’an menegaskan pentingnya keteladanan dalam diri seorang pemimpin dan orang tua adalah pemimpin pertama bagi anak-anaknya:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. al-Ahzab: 21)
Ayat ini bukan hanya bicara tentang meneladani Rasulullah ﷺ, tetapi juga mengingatkan bahwa manusia belajar melalui contoh nyata. Dalam konteks keluarga, anak meneladani orang tuanya. Jika orang tua terbiasa menyelesaikan masalah dengan teriakan, ancaman, atau diam yang dingin, anak belajar bahwa itulah cara menghadapi konflik. Sebaliknya, jika orang tua menunjukkan ketenangan dan dialog, anak pun belajar bahwa emosi dapat dikelola dengan dewasa.
Psikologi menyebut proses ini sebagai modeling atau pembelajaran melalui peniruan. Albert Bandura, tokoh teori Social Learning, menjelaskan bahwa manusia -terutama anak- belajar perilaku melalui observasi terhadap figur signifikan di sekitarnya. Anak tidak hanya meniru perilaku yang diajarkan, tetapi terutama perilaku yang ia lihat berulang-ulang. Maka, nasihat tentang kesabaran akan terdengar hampa jika setiap hari yang ia saksikan adalah kemarahan.
Rasulullah ﷺ memberi contoh nyata tentang bagaimana ketenangan dan kelembutan membentuk karakter. Dalam banyak riwayat, beliau menghadapi kesalahan orang lain dengan kesabaran. Bahkan ketika diperlakukan kasar, beliau membalas dengan akhlak yang mulia.
Al-Qur’an menggambarkan kelembutan ini:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Ayat ini sangat relevan dalam dunia parenting. Anak-anak tidak tumbuh dalam iklim kasih sayang ketika rumah dipenuhi kekerasan verbal dan emosi yang meledak. Kelembutan orang tua bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan yang menumbuhkan kedekatan emosional.
Dalam praktik re-parenting, kita diajak untuk sadar bahwa amarah yang sering kita tampilkan bukan hanya reaksi sesaat, tetapi pesan jangka panjang yang direkam oleh anak. Anak yang tumbuh dalam suasana penuh amarah berisiko menginternalisasi kemarahan itu sebagai cara ‘normal’ menghadapi dunia. Kelak, ketika ia menjadi orang tua, pola yang sama mudah terulang. Inilah yang membuat amarah terasa seperti “takdir emosi” yang diwariskan.
Namun takdir ini bukan sesuatu yang tidak bisa diubah. Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra‘d: 11)
Ayat ini memberi harapan besar: pola emosi yang diwariskan bisa dihentikan. Dengan kesadaran, latihan, dan kesungguhan untuk menenangkan diri, orang tua dapat menulis ulang ‘takdir emosi’ bagi anak-anaknya.
Anak tidak harus mengulang luka yang sama. Ia bisa mewarisi pola baru: ketenangan, dialog, dan rasa aman.
Menjadi orang tua bukan tentang tidak pernah marah. Marah adalah emosi manusiawi. Tetapi menjadi orang tua yang sadar adalah tentang bagaimana kita mengelola marah itu agar tidak menjadi bahasa utama di rumah. Di situlah re-parenting menemukan maknanya: orang tua belajar menjadi ‘orang dewasa’ bagi dirinya sendiri, agar anak tidak lagi menanggung beban emosi yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang tua.
(***)






