Ramadhan Hampir Berlalu: Jangan Sampai Kita Termasuk yang Celaka

Secangkir Kopi

Oleh : Hajrul Malik *

Mapos, RAMADHAN l berjalan begitu cepat. Hari demi hari berlalu seperti angin yang tidak terasa.

Baru kemarin kita menyambutnya dengan penuh harapan. Kini ia hampir meninggalkan kita.

Pertanyaannya bukan lagi berapa hari kita telah berpuasa, tetapi apa yang telah berubah dalam hati kita?

Ada sebuah peristiwa yang sangat menggugah dalam hadits Nabi ﷺ. Dari Ka‘ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu, suatu hari Rasulullah ﷺ naik mimbar.

Ketika beliau menaiki anak tangga pertama beliau berkata:

“Aamiin.”

Ketika naik tangga kedua beliau berkata lagi:

“Aamiin.”

Ketika naik tangga ketiga beliau kembali berkata:

“Aamiin.”

Para sahabat merasa heran, karena itu bukan kebiasaan yang mereka lihat sebelumnya.

Mereka bertanya:

“Wahai Rasulullah, hari ini kami mendengar sesuatu yang tidak biasa.”

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Malaikat Jibril datang dan berdoa, lalu beliau mengamininya.

Doa pertama: Celaka seseorang yang mendapati Ramadhan tetapi tidak diampuni dosanya.

Bayangkan…Ramadhan adalah bulan rahmat. Pintu surga dibuka. Pintu neraka ditutup. Setan dibelenggu.

Namun jika seseorang masih keluar dari Ramadhan tanpa ampunan, maka betapa ruginya hidup itu.

Ramadhan bukan sekadar menahan lapar. Ramadhan adalah kesempatan membersihkan jiwa.

Jika hati masih keras, dosa masih dipelihara, dan ibadah hanya sekadar rutinitas…maka kita perlu bertanya dengan jujur pada diri kita: Apakah Ramadhan benar-benar menyentuh hati kita?

Doa kedua dari Jibril: Celaka seseorang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya tetapi tidak membuatnya masuk surga.

Orang tua adalah pintu surga yang paling dekat. Kadang kita sibuk mengejar banyak hal dalam hidup, tetapi lupa bahwa ridha Allah sering tersembunyi dalam ridha orang tua.

Satu panggilan mereka, satu senyum mereka, satu doa mereka…bisa menjadi sebab keselamatan kita di akhirat.

Dan doa ketiga: Celaka seseorang yang ketika nama Nabi disebut, tetapi ia tidak bershalawat kepadanya.

Betapa sering kita mendengar nama Nabi Muhammad ﷺ, tetapi hati kita tidak bergerak. Padahal beliau adalah orang yang paling mencintai umatnya.

Beliau menangis untuk kita. Beliau berdoa untuk keselamatan kita. Maka shalawat adalah tanda cinta.

Ia bukan sekadar ucapan, tetapi pengakuan hati bahwa kita berhutang budi kepada Rasulullah ﷺ.

Hari ini Ramadhan hampir berlalu. Jangan biarkan ia pergi begitu saja tanpa meninggalkan bekas dalam hati kita.

Mari kita gunakan sisa waktunya untuk: memperbanyak istighfar. memperbaiki hubungan dengan orang tua memperbanyak shalawat kepada Nabi ﷺ dan kembali kepada Allah dengan hati yang lebih jujur.

Karena Ramadhan yang pergi tidak akan kembali lagi, dan kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih dipertemukan dengannya.

Semoga kita bukan termasuk orang yang didoakan celaka oleh Jibril dan diaminkan oleh Nabi ﷺ.

Tetapi termasuk hamba yang keluar dari Ramadhan dengan dosa yang telah diampuni dan hati yang telah dibersihkan.

اللهم بلغنا العفو والمغفرة في رمضان

Ya Allah, pertemukan kami dengan ampunan-Mu di bulan Ramadhan ini.

Aamiin…

 

(***)

 

* Tenaga Ahli Gubernur Sulawesi Barat
error: Maaf... ! Web ini di Protek yaaa...