PWI Sulbar Gelar Pelatihan Jurnalistik Tingkat Pelajar dan Mahasiswa

Gambar PWI Sulbar Gelar Pelatihan Jurnalistik Tingkat Pelajar dan Mahasiswa

Mapos, Polman – Membangun kreatifitas pelajar dan mahasiswa dalam dunia jurnalistik menuju Sulawesi Barat yang maju malaqbi, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulbar menggelar pelatihan jurnalistik tingkat pelajar dan mahasiswa.

Pelatihan tersebut digelar di DDI Al Ihsan Kanang, Kabupaten Polman, Jumat (22/11/2019), dan dihadiri Kapolres Polman AKBP Muh. Rifai diwakili oleh Kanit Sat Binmas Aipda Mayuddin, Ketua PWI Sulbar Naskah M Nabhan, Dewan Kehormatan PWI (DKP), Sulaiman Rahman, Wakil Ketua Bidang Pembelaan Wartawan Mursalim Majid, Pimpred Harian Sulbar Ekspress Solihin (Bendahara PWI), dan Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Sulbar, Fadiah Asis, pengurus PWI lainnya serta pelajar dan mahasiswa.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Ketua PWI Sulbar diwakili Wakil Ketua Pembelaan Wartawan PWI Sulbar, Mursalim Majid. Acara dipandu oleh Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Sulbar, Fadiah Asis.

Hoax atau berita bohong adalah kabar yang belum benar, begitu isi materi yang dibawakan oleh Kanit Binmas Polres Polman Aipda Mayuddin.

Sebelum menyaring berita, terlebih dahulu adalah mendeteksi informasi itu, agar tidak hoax.

“Tantangan penyebar hoax adalah pidana. Intinya adalah tabayyum,” sebut Mayuddin.

Dia mengatakan, ancaman hukuman penyebar hoax disanksi kurungan penjara 6 tahun dan denda Rp 1 milyar. Hal itu tertuang dalam UU No 29 tentang Perubahan UU No 11 tahun 2008 terkait Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Karena itu, tambah Mayuddin, setiap warga dalam mendapatkan informasi jangan mudah begiultu cepat dipercaya. Jangan cepat disebarkan, tapi sebelumnya menyaring dulu informasi tersebut agar tidak tersandung pidana.

“Warga yang baik adalah mereka yang dalam mendapatkan informasi tidak mudah percaya,” tutupnya.

Sementara, Ketua PWI Sulbar Naskah M Nabhan menjelaskan, peran wartawan tidak hanya membuat berita tapi harus memiliki skill.

Wartawan yang profesional, mereka yang bisa menjunjung tinggi kode etik jurnalis.

Disamping itu, Naskah juga menyampaikan bahwa di dunia kewartawanan, jurnalis tidak mengenal yang namanya berita hoax. Sebutan yang pasnya adalah fake news (berita bohong).

“Dalam dunia jurnalis, berita hoax itu tidak ada, yang ada bagi kami adalah fake news,” terang Naskah.

Dia menyebut, wartawan merupakan pekerja intelektual, membangun kreatifitas dalam dunia jurnalistik, peran wartawan sangat penting dalam mengawal pembangun daerah.

Dia menambahkan, wartawan dituntut untuk terus mengasa ilmu. “Dengan banyak membaca, nalar dan isi berimbang,” ucapnya.

Kemampuan dalam berdialog didepan narasumber, harus dikuasai oleh seorang jurnalis, bahkan dalam mengelola hasil wawancaranya sesuai kunci 5W+1H yang kemudian dituangkan dalam berita.

(usman)

Baca Juga