Persoalan Harta Gono Gini, Rumah Jadi Sasaran Perusakan

  • 8 Feb 2018
  • Peristiwa
  • Sudirman Al Bukhori
  • 345
Gambar Persoalan Harta Gono Gini, Rumah Jadi Sasaran Perusakan Ilustrasi

Mapos, Mamuju – Persoalan harta gono gini sering menimbulkan permasalahan baru. Seperti yang terjadi di Desa Salugatta Kecamatan Budong-budong Kabupaten Mamuju Tengah.

Selepas bercerai, rumah H. Nuhung menjadi sasaran. Pasalnya, H. Nuhung pada saat rumahnya dibongkar tidak berada ditempat. Namun persoalan itu sudah dilaporkan ke Polsek Budong-budong. Alhasil laporan H. Nuhung tak diproses dengan alasan masih harta milik bersama.

Menanggapi soal laporan tidak diproses, Kapolres Mamuju AKBP Moh. Rivai Arvan mengatakan, tidak lanjut di proses karna pelaku adalah istri dari pelapor. Kenapa tidak di proses karna status harta gono gini belum di bagi artinya barang-barang yang diambil maupun barang-barang yang dirusak sama dengan barang milik sendiri.

“Pelapor dan terlapor adalah suami istri yang bercerai dan meninggalkan harta, salah satunya rumah tersebut. Namun putusan pengadilan agama tentang harta gono gini belum ada, sehingga status barang tersebut masih milik bersama, maka unsur perbuatan pidana tidak terpenuhi sehingga prosesnya tidak di lanjutkan,” tutur Rivai.

Ilustrasi

Menanggapi statement Kapolres Mamuju, H. Nuhung mengatakan, apa yang dikatakan Kapolres Mamuju memberikan peluang untuk seseorang melakukan hal-hal diluar kewenangannya, artinya persoalan baru akan muncul kembali bila segala perbuatan yang melanggar hukum dibiarkan dengan dalil harta milik bersama.

“Kalau begitu tanggapan pihak Kepolisian bahwa masih harta bersama berarti saya wajib juga dong merusak rumah yang ditempati mantan istri saya karena masih harta bersama,” kata H. Nuhung saat dihubungi via handphone. Kamis (8/2/2018).

Dikatakan, bila ada lampu hijau demikian tanpa diproses pelakunya, maka menjadi suatu kesempatan besar pemilik harta bersama bisa merusak barang-barang semaunya.

Secara ototmatis, tidak akan ada efek jera kepada pelaku. Semaunya saja merusak barang-barang.

“Menjadi pertanyaan besar, bila saya yang berbuat, misalkan saya merusak rumah yang ditempati mantan istri, bagaimana ?,” terang H. Nuhung.

Seharusnya pihak Kepolisian memberikan efek jera kepada pelaku, agar perbuatan yang serupa tidak terulang lagi.

“Disaat rumah kosong, tidak ada pemberitahuan sama sekali kepada saya bahwa rumah itu akan dibongkar. Apalagi saat kejadian, saya tidak berada ditempat, rumah yang menjadi tempat bernaung selama ini dibongkar. Sekarang saya tinggal dikebun tanpa pakaian pengganti. Seluruh pakaian saya pun turut diambil tanpa meninggalkan sehelaipun,” tutup H. Nuhung.

(toni)

Baca Juga