Pengeroyokan Pegawai KPK, Ketua DPR Papua: Kami Pikir Mereka Mau OTT

  • 4 Feb 2019
  • Hukum
  • Sudirman Al Bukhori
  • 347
Gambar Pengeroyokan Pegawai KPK, Ketua DPR Papua: Kami Pikir Mereka Mau OTT

Mapos, Jakarta – Ancaman terhadap para petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali terjadi. Kali ini dua pegawai KPK menjadi korban kekerasan sekelompok orang. Insiden itu terjadi di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu menjelang tengah malam (2/2). Kuat dugaan, dua pegawai KPK itu tengah mengintai pergerakan sejumlah pejabat Papua yang menggelar acara di hotel bintang lima tersebut.

KPK masih menyimpan rapat nama dua pegawai itu. Namun, berdasar penelusuran Jawa Pos, salah seorang pegawai yang menjadi korban adalah M. Gilang W. Nama dan nomor pokok pegawai (NPP) tercantum dalam ID pegawai barcode biru yang dikenakannya. Dari NPP itu, sangat mungkin Gilang adalah pegawai baru.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, hingga tadi malam dua pegawai tersebut masih dirawat di rumah sakit. Rencananya mereka menjalani operasi lantaran mengalami luka retak pada hidung dan sobek pada wajah. Luka cukup parah itu diduga akibat pukulan keras dari sekelompok orang.

“KPK telah membawa mereka ke RS (rumah sakit, Red) untuk dilakukan visum,” kata Febri. Pihak KPK sore kemarin (3/2) telah melaporkan penganiayaan itu ke Polda Metro Jaya. Informasinya, kasus tersebut ditangani Unit Jatanras (Kejahatan dan Kekerasan) Kriminal Umum (Krimum) Polda Metro Jaya.

Versi KPK, insiden terjadi ketika dua pegawai itu melakukan pengecekan di lapangan terhadap informasi masyarakat tentang adanya indikasi korupsi. Saat melaksanakan tugas, sejumlah orang tiba-tiba menganiaya keduanya. “Meski telah diperlihatkan identitas KPK, pemukulan tetap dilakukan,” ungkap Febri.

Cerita lain diungkapkan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) Yunus Wonda. Seperti dilaporkan Cenderawasih Pos, Yunus menyebut bahwa petugas KPK tiba-tiba mengambil gambar para pejabat Papua yang baru menggelar rapat membahas RAPBD bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Pengambilan gambar dilakukan di lobi hotel. Selain anggota DPRP, di lobi itu juga ada Gubernur Papua Lukas Enembe dan jajaran pejabat Pemprov Papua. “Acara sudah selesai dan kami akan pulang (ke Papua, Red),” ungkap Yunus.

Para pejabat itu merasa risi dengan gelagat dua pegawai KPK itu. Spontan, beberapa orang yang diduga bagian dari petugas pengamanan rombongan pejabat tersebut langsung menangkap pegawai KPK. Mereka melakukan pemeriksaan, mulai mengecek identitas hingga memeriksa hasil jepretan. Bahkan, mereka memeriksa chat WhatsApp para pegawai KPK untuk memastikan identitas.

“Kami merasa tidak nyaman, seperti dicurigai. Kami pikir mereka mau melakukan operasi tangkap tangan. Kami tegaskan, kami tidak ada deal-deal dengan pihak mana pun. Semua sesuai aturan,” tegas politikus Partai Demokrat tersebut.

Terkait cerita itu, Febri menegaskan, apa pun alasannya, tidak dibenarkan melakukan tindakan main hakim sendiri. Apalagi, pegawai KPK sudah menunjukkan identitas saat ditanya. “Kami memandang penganiayaan dan perampasan barang (ponsel, Red) merupakan serangan terhadap penegak hukum yang sedang menjalankan tugas,” ungkapnya.

Berdasar informasi yang dikumpulkan Jawa Pos, serangan terhadap pegawai KPK dengan model sejenis pernah terjadi. Tepatnya pada September 2017 atau nyaris bersamaan dengan putusan praperadilan mantan Ketua DPR Setya Novanto. Kala itu dua pengintai dari KPK yang kerap disebut tim S sedang bertugas memata-matai aparatur pengadilan.

Saat melaksanakan tugas, dua pegawai itu dihalangi sekelompok orang. Mereka lantas dibawa ke suatu tempat alias diculik. Beberapa saat kemudian, pegawai itu dilepaskan dan dijemput KPK. Sampai saat ini, kasus “penculikan” tersebut belum pernah ditindaklanjuti KPK ke pihak kepolisian.

Ketua Wadah Pegawai (WP) KPK Yudi Purnomo mengecam keras tindak kekerasan terhadap tugas pemberantasan korupsi tersebut. Bagi WP, kasus dugaan penganiayaan kemarin merupakan bentuk teror yang nyata terhadap pegawai KPK. Pihaknya berharap kepolisian segera menangkap para pelaku. “Saat ini kami fokus untuk kesembuhan kawan kami,” tuturnya.

Sejauh ini, belum ada satu pun teror terhadap KPK yang diungkap pihak kepolisian. Mulai kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan yang terjadi 11 April 2017 sampai yang terbaru teror bom di rumah dua pimpinan KPK, Agus Rahardjo dan Laode M. Syarif. Begitu pula kasus kejahatan jalanan (street crime) lain yang menimpa penyidik.

Sementara itu, Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombespol Argo Yuwono menerangkan, Sabtu malam (2/2) anggotanya mendapat laporan keributan di Hotel Borobudur. Anggotanya lantas mendatangi tempat kejadian perkara (TKP). “Setelah diinterogasi, ternyata penyelidik, bukan penyidik. Penyelidik KPK,” ucapnya.

Siapa pelaku penganiayaan? Argo tidak menjawab dengan jelas. Dia juga tidak tahu apakah Gubernur Papua Lukas Enembe ada di lokasi saat pengeroyokan berlangsung. “Bukan sama gubernurnya, bukan (dipukul, Red). Ada seseorang di situ yang memukul,” kata dia.

(Sumber: JawasPos.com)