Pasien di RSUD Regional Meninggal, Diduga Tak Tertangani Dengan Baik

Mapos, Mamuju – Seorang pasien bernama Sabdiming (Amming) penderita penyakit paru-paru, asal kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulbar, meninggal dunia di RSUD Regional Sulbar pada hari Rabu, 04/10/2017, sekitar pukul 16:00 Wita. Penyebab meninggalnya pasien tersebut, diduga karena tidak tertangani dengan baik.

IMG_20171006_135219

Keluarga Pasien yang meninggal saat memberikan keterangan kepada Awak Media

Kakak korban Adriani, menuturkan, sejak masuk di rawat Di RSUD regional sulbar empat hari yang lalu, korban tidak mendapat penanganan serius dari pihak rumah sakit.

Dokter ahli paru-paru yang dijanjikan pihak rumah sakit untuk menangani korban tidak kunjung datang. Korban Empat hari terbaring dirumah sakit hanya mendapat tindakan medis dari dokter umum, itupun tidak rutin.

Dokter ahli paru-paru berjanji mau datang memeriksa dan menangani adik saya, hingga dia meninggal dunia dokter ahli tersebut tidak kunjung datang, tutur Adriani( kakak korban ) di depan mayat adiknya.

sewaktu masuk di rawat di RSUD Regional adik saya memiliki dan tercatat sebagai peserta BPJS kesehatan, akan tetapi tidak di berikan kamar rawat inap dengan alasan kamar penuh, sehingga lama terbaring diruang ICU. Setelah pihak keluarga melakukan pembayaran selisih harga kamar perawatan kelas dua ke kelas satu, barulah pihak rumah sakit memberikan kamar di ruang perawatan maleo, tambah Adriani.

Sementara itu, salah seorang perawat yang bertugas mengatakan, dokter ahli paru-paru di RSUD regional sulbar, lagi perjalanan dinas luar daerah dan hanya satu dokter ahli paru-paru yang bertugas disana.

Dokter ahli paru-paru lagi dinas luar, dan hanya satu di Rumah sakit ini. Dokter umum yang menangani pasien. Perkembangan kesehatan pasien terus di komunikasikan kepada dokter ahli paru-paru guna untuk melakukan tindakan medis, kata salah satu perawat yang bertugas.

Selain itu, ketersediaan obat-obatan juga sangat terbatas, rata-rata pasien yang berobat disana membeli dan menkonsumsi obat yang dibeli dari luar. Ketersediaan formalin juga tidak ada di rumah sakit kebanggaan sulbar ini, sehingga keluarga pasien yang meninggal membeli formalin ke Apotek  RSUD Mamuju, untuk disuntikkan ke tubuh korban.

Sementara itu, pihak keluarga korban juga mengeluhkan layanan kendaraan ambulance di RSUD Regional, sebab untuk membawa mayat korban, pihak rumah sakit meminta bayaran senilai Rp. 1,4 juta, untuk diantar kekediamannya di Karossa.

Terpaksa pihak keluarga menghubungi kendaraan ambulance lainnya untuk mengantar jasad korban ke kediamannya di kec. Karossa, Mateng.

(joni)