Meraih Kemuliaan Lailatul Qadr

Gambar Meraih Kemuliaan Lailatul Qadr

بسم الله الرحمن الرحيم

INSYAAALLAH kita semua bisa Meraih Kemuliaan Lailatul Qadr

Allāh taâlā berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ۞ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۞ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ۞

_”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan (Al-Qadr). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”_ QS. Al-Qadr: 1-

Beberapa pelajaran antara lain

1. Mereka terkagum-kagum…
_Ibnu Abi Hātim berkata, “Yūnus telah mengabarkan kami bahwa Ibnu Wahb telah mengabarkan kepada kami bahwa ia berkata ‘Musallamah bin Àlī telah mengabarkan padanya dari Àlī bin Ùrwah, bahwa ia berkata, ‘Rasulullāh ﷺ pada suatu hari bercerita tentang 4 orang dari kalangan bani Isrāil yang telah beribadah kepada Allāh selama 80 tahun lamanya dan tidak pernah bermaksiat.

Walaupun sekejap mata sekalipun, beliau sebutkan: Ayyūb, Zakariyyā, Hizqīl bin Al-Àjūz dan Yūsya’ bin Nūn’. Para sahabat Nabi ﷺ pun merasa kagum terhadap mereka. Maka, datanglah malaikat Jibrīl dan berkata, “Wahai Muhammad! Ummatmu telah kagum terhadap mereka yang beribadah dan tidak pernah bermaksiat kepada Allāh selama 80 tahun, padahal Allāh telah menurunkan ayat yang lebih baik daripada itu!”. Malaikat Jibrīl lalu membacakan ayatnya:_

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ۞ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۞ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ۞

_”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan (Al-Qadr). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”_ QS. Al-Qadr: 1-3.

_’Ini lebih baik daripada yang telah engkau dan ummatmu kagumi itu.’_

_Maka, Rasulullāh ﷺ dan orang-orang yang bersama beliau saat itu bergembira dengannya.”_

Oleh karena itulah di saat lailatul qadr amal ibadah itu mengalahkan amal ibadah yang digunakan selama 1000 bulan, dan Rasulullāh ﷺ bersabda, _”Barangsiapa yang menghidupkan lailatul Qadr dengan dasar iman dan ihtisab, maka akan diampuni segala dosa-dosanya”._ (Muttafaq ‘alaihi)

2. Potret Sang-Nabi ﷺ pada 10 akhir Ramadhan mengejar lailatul qadr*
Âisyah radhiallāhu ànhā berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ، أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَشَدَّ الْمِئْزَرَ.

_”Rasulullāh ﷺ itu selalu jika telah masuk 10 akhir Ramadhan, menghidupkan malam-malamnya dan membangunkan keluarganya serta mengencangkan ikat pinggangnya”._ HR. Bukhari.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, _”Maksud dari ‘menghidupkan malamnya’ adalah begadang di kebanyakan waktu malam dengan shalat dan selainnya dari amal ibadah, disebut dengan ‘menghidupkan’ karena begadang dengan berbagai amalan karena itulah dikatakan ‘menghidupkan’, (tidak tidur), sebab tidur adalah saudara kematian.”_

Dan dalam riwayat Muslim, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ .

_”Rasulullāh ﷺ itu selalu bersungguh-sungguh di 10 akhir dengan kesungguhan yang mengalahkan di waktu lainnya”_.

Dan dalam riwayat Bukhari-Muslim, Ibnu Ùmar berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ

_”Rasulullāh ﷺ selalu i’tikaf di saat 10 akhir bulan Ramadhan”_.

3. Kiat-kiat untuk mendapatkan keutamaan lailatul qadr*
✅ _Menanamkan niat yang kuat untuk beramal ibadah agar mendapatkan keutamaan tersebut dari Allāh di malam-malam Ramadhan, khususnya di saat-saat yang diharapkan lailatul qadr._

Karena:

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى

_”Sesungguhnya amalan-amalan itu hanyalah tergantung niat-niatnya dan setiap orang hanyalah mendapatkan balasan berdasarkan niatnya”._ (HR. Bukhari-Muslim)

✅ _Betapa semangatnya mereka…_
Termasuk usaha sebagai wujud nyata dari para Salafush Shalih, untuk mendapatkan lailatul qadr dengan mereka berpenampilan yang optimal.

Ibnu Jarir berkata:

“كانوا يستحبون أن يغتسلوا كل ليلة من ليالي العشر الأخير، ومنهم من كان يغتسل ويتطيب في الليالي التي هي أرجى ليلة القدر وعن أنس أنه كان يفعل ذلك ليلة أربع وعشرين ويلبس حلة إزارا ورداء، فإذا أصبح طواها فلا يلبسها”

_”Mereka itu suka mandi pada setiap malam di 10 akhir, ada di antara mereka yang mandi dan mengenakan parfum di malam-malam yang diharapkan lailatul qadr padanya, bahkan Anas itu melakukannya di malam ke 24 beliau mengenakan pakaian, sarung dan setelan yang bila telah pagi beliau lepas dan tidak kenakan lagi”_.

Oleh karena itulah, Ibnu Hajar Al-Haitami Al-Makkiy rahimahullāh berkata:

“فبان بهذا أنه ينبغي في الليالي التي ترجى فيها ليلة القدر التنظيف والتنزين والتطيب بالغسل والطيب واللباس الحسن كما شرع ذلك في الجمع والأعياد”

_”Jelaslah dengan keterangan ini selayaknyalah pada malam-malam yang diharapkan lailatul qadr itu untuk berbersih dan berhias dengan mandi dan mengenakan wewangian serta pakaian yang rapih, sebagaimana disyariatkan hal itu di saat hari Jum’at dan hari Raya”._

✅ _Apakah harus ber-i’tikaf untuk mendapatkannya?_
Tidaklah diragukan sedikitpun dengan ber-i’tikaf akan lebih besar peluang untuk mendapatkan keutamaan lailatul qadr -insyaAllah-, sangat diutamakan agar bisa menghidupkan malam dengan amalan. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullāh, namun hal itu bukanlah sebuah keharusan atau kewajiban i’tikaf untuk mendapatkan keutamaan tersebut. Atau tidak pula dikatakan bahwa keutamaan tersebut terbatas hanya bagi yang beri’tikaf. Akan tetapi, para Ulama kita memahami secara umum berdasarkan konteks hadits-hadits dalam masalah ini.

Kita semua, yang ber-i’tikaf atau tidak ber-i’tikaf memiliki peluang untuk mendapatkan keutamaan tersebut, insyaAllah.

Dalam Al Muwaththa’, Ibnu Musayyib rahimahullah berkata,

من شهد العشاء ليلة القدر في جماعة فقد أخذ لحظه منها

_”Barangsiapa yang menghadiri shalat Isya dengan berjamaah di saat lailatul qadr dengan berjamaah maka ia telah mendapatkan bagian dari keutamannya tersebut”_.

Jarīr berkata kepada Adh-Dhahāk, _”Apakah para wanita yang sedang nifas, haidh, musafir, bahkan yang tertidur itu semua berpeluang mendapatkan keutamaan lailatul qadr?”_ beliau mejawab:

نعم، كل من يقبل الله عمله ويعطيه نصيبه من ليلة القدر

*_”Ya, semua orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dengan amalnya, ia akan mendapatkan bagian dari keutaman lailatul qadr”._*

Semua kita berpeluang…
Jangan berkecil hati…
Mungkin, bagi engkau yang sedang bekerja…
Engkau yang sedang mencari nafkah…
Engkau yang sedang di dapur…
Engkau yang sedang bikin kue…
Engkau yang sedang berjuang…
Engkau yang sedang di hutan…
Dst…
Engkau yang luput tidak bisa ber-i’tikaf…

Iringi dan isi waktu-waktumu dengan amal ibadah, apapun bentuknya walaupun hanya dengan menggerakan lisan untuk berdzikir, barangkali bertepatan dengan lailatul qadr sehingga menjadi dzikir yang bernilai lebih baik dari semua amal ibadah selama 1000 bulan, ampunan dari Rabb pun kau dapatkan.

4. Tentang do’a di saat lailatul qadr.
Pada sebagian do’a untuk Lailatul Qadr yang terdengar di tengah kita, terdapat lafadhz “Karīm”:

*”اللهم إنك عفو [كريم] تحب العفو فاعف عني”*

[Allahumma innaka ‘afuwwun [Karīm], tuhibbul ‘afwa fa’fu’anniy]

“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan [Maha Mulia], Engkau mencintai kemaafan maka maafkanlah daku”

Lafadhz [kariim] ini, ternyata setelah diteliti oleh para Ulama kita, maka mayoritas para ulama menghukuminya sebagai tambahan yang tidak berasal dari riwayat yang shahih.

Adapun yang shahih, tanpa ada lafaz Karīm.

Berdasarkan hadits, ketika Aisyah bertanya kepada Nabi ﷺ : _”Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku tahu malam terjadinya Lailatul Qadr, maka apa yang aku ucapkan?”, Nabi ﷺ menjawab, “Ucapkanlah:_

*اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي*

_[Allahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa fa’fu’anniy]_

_”Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai kemaafan maka maafkanlah daku”.¹_

Asy-Syaikh Al-Albaniy rahimahullah berkata:
_”Perhatian!, Dalam sunan At-Tirmidzi terdapat *tambahan* setelah kata (‘Afuwwun) ada kata *(Karīm)* dan tambahan ini tidak ada asalnya sama sekali dari kitab-kitab referensi dan rujukan terdahulu, dan selainnya dari kitab-kitab yang biasa dinukil darinya.”_

Adapun riwayat dengan tambahan kata *[Karīm]* yang dibawakan oleh imam Abu Ya’la dalam Musnadnya dan Imam Ath-Thabraniy dalam Al-Ausath, dengan redaksi:

عن أبي سعيد الخدري قال: جاء شاب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، علمني دعاء أصيب به خيرا؟ قال له: ” ادنه “، فدنا حتى كادت ركبته تمس ركبة رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: ” قل: اللهم اعف عني فإنك عفو تحب العفو، وأنت عفو كريم “.

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy, ia berkata _”Ada seorang pemuda mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, ajarkan padaku do’a yang dengannya aku mendapatkan kebaikan!’, maka Nabi ﷺ berkata padanya, ‘Kemarilah mendekat!’, maka pemuda itu mendekat hingga hampir-hampir lututnya menempel dengan lutut Rasulullah, lalu beliau ﷺ bersabda, ‘Panjatkanlah:_

*اللَّهُمَّ اعْفُ عَنِّي فَإِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ ، وَأَنْتَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ*

_[Allahumma’ Fu ‘anniy Fa innaka ‘Afuwwun tuhibbul ‘afwa, wa anta ‘Afuwwun Karīm]_

_”Ya Allah, maafkanlah hamba karena sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai kemaafan, dan Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia”_.

Hadits ini tidaklah shahih sebab di dalam jalur periwayatannya ada perawi yang bernama _Yahya bin Maimun bin Atha’_ yang teranggap dusta dalam periwayatannya, Imam Ibnu Hajar berkata, _”Mereka para Ahli Hadits meninggalkan riwayatnya, demikian juga kata Adz-Dzahabiy”._

Sehingga, selayaknya bagi kita untuk mencukupkan yang dituntunkan Rasulullah ﷺ sebagai wujud nyata keimanan kita bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi kita Muhammad ﷺ , dengan memanjatkan do’a:

*اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي*

[Allahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa fa’fu’anniy]

_”Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai kemaafan maka maafkanlah daku”._

Tanpa tambahan kata *[Karīm].*

_Semoga Allāh memberikan kesempatan untuk mendapatkan keutamaan lailatul qadr dan senantiasa memberi taufik, hidayah serta istiqomah kepada kita semuanya._

-Selesai-

والحمدلله

 

_________________
Referensi:
– Tafsir Ibnu Katsīr, QS. Al-Qadr.
– Ùmdatul Qāriy Fī Syarhil Bukāriy, Bāb Al-Àmal Fil Àsyril Awākhir min Ramadhan.
– Ittihāf Ahlil Islām bi Khushushiyāt Ash-Shiyām, karya Ibnu Hajar Al-Haitami Al-Makkiy rahimahullāh .
– As-Silsilatush-Shahihah, no. 3337.

 

(*)