Mapos, Polewali – Pada sesi debat antar paslon Salim S. Mengga-Marwan dan Andi Ibrahim Masdar-Muhammad Natsir Rahmat, terjadi tanya jawab yang cukup menarik. Pasangan nomor urut 1, Salim S Mengga-Marwan diberi kesempatan pertama untuk melontarkan pertanyaannya ke pasangan nomor unit 2, Andi Ibrahim Masdar-Muhammad Natsir Rahmat.
“Polman katanya sudah dua kali memperoleh WTP. Katanya tidak ada korupsi di Polman ini. Perlu saya jelaskan, WTP itu bukan indikator tidak adanya korpusi. DPR saja sudah empat kali dapat WTP, toh sekarang Ketua DPR nya yang ditangkap. Pertanyaan saya, apa langkah yang saudara ambil untuk mengatasi korupsi di Polman? Misalnya, melihat kasus 144 Kepala Desa yang diperiksa Kejaksaan karena kasus lampu jalan. Termasuk kasus fingerprint di seluruh sekolah,” kata Salim, Selasa (19/06/2018) di gedung Gabungan Dinas (Gadis).
Menjawab pertanyaan itu, Andi Ibrahim Masdar (AIM) mengungkapkan bahwa pengadaan lampu jalan itu sampai sekarang beIum bisa dikategorikan perbuatan korupsi. Sebab, aparat penegak hukum belum menetapkan tersangka dalam kasus yang telah berguiir sejak beberapa bulan terakhir itu.
“Kalau masalah Kepala Desa diperiksa, itu bagus. Itu berarti kita disayang oleh Kejaksaan agar kita tidak melakukan kesaIahan. Kalau ada saiahnya, siIahkan diperiksa. Kita belum bisa menjawab apa salahnya, karena belum ada keputusannya. Apa yang mau kita jawab? Dimana salahnya?,” kata AIM balik bertanya.
Calon Bupati incumbent itu menambahkan, kasus lampu jaIan mestinya tak perlu dibesar-besarkan. Apalagi jika pihak pihak yang merasa dirugikan atas kasus tersebut bersedia membuka ruang diskusi dengan pemerintah, kasus tersebut tidak akan seheboh sekarang ini.
“Ini diperiksa karena ada yang meIapor. Saya bilang, kalau perlu, lapor sampai ke Tuhan. Marilah kita ini saling bergandengan tangan membangun PoIman. Lapor ki yang betul-betul ada buktinya. Jangan ke Kejaksanaan, kalau perIu sampai ke Tuhan. Saya tidak takut. Itu ditender pak, pemenangnya pun saya tidak tahu. Semua berjalan sesuai mekanisme. Kalau ada kesalahan saya, silahkan kasih tahu, jangan langsung melapor. Ke kantor saja kita diskusi. Apanya yang salah ?,“ paparnya.

Selanjutnya giliran AIM mengajukan pertanyaan. Dia menyinggung andil Salim S. Mengga saat menjadi anggota DPR RI.
“Kak Salim, dulu kami bahu membahu di Polman, kita tidak pernah disebut. Kami mau membangun Balanipa, kita pun tidak pernah disebut. Selama menjadi anggota DPR RI, apa yang telah anda lakukan untuk pembangunan Sulbar dan Polman ?,” tanya AIM.
Salim menjelaskan, selama duduk di senayan, tidak memiliki banyak kesempatan untuk membawa ‘sesuatu’ ke Sulawesi.
“Saudara kan tahu, DPR RI itu punya 11 komisi. Saya di komisi I. Tidak satu pun mitra saya yang berkaitan langsung dengan daerah,” kata Salim.
Salim pun mengaku telah banyak memberikan bantuan kepada sejumlah masyarakat di segala penjuru di Sulawesi Barat. Dan semua tidak dipublikasikan.
“Seluruh dana reses saya selama di DPR tidak pernah saya ambil. Semua saya gunakan untuk membantu masyarakat mulai dari Polman, Mamasa, Mamuju hingga Pasangkayu. Hanya, saya tidak pernah publish karena publikasi hanya untuk para politisi. Sementara saya ini bukan politisi,” jelas Salim S Mengga.
Jalannya debat publik putaran terakhir yang dipandu oleh Yundini Husni Djamaluddin hari itu mendapat pengawasan ketat dari aparat kepolisian.
(*)






