Kwarda Sulbar Gelar Kursus Pamong Saka

Gambar Kwarda Sulbar Gelar Kursus Pamong Saka

Mapos, Mamuju – Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sulawesi Barat melaksanakan Kursus Pamong Satuan Karya (SAKA) yang berlangsung di Hotel Diana Mamuju, dari tanggal 12-16 Desember 2019.

Laporan panitia, Anhar menjelaskan, jumlah peserta yang ikut sesuai daftar registrasi sebanyak 42 orang, terdiri dari 13 perempuan dan 29 laki-laki. Adapun jumlah pelatih sesuai SK sebanyak 9 orang yang terbagi pada dua kegiatan yaitu Kursus Mahir Dasar (KMD) yang berlangsung di Panorama Beach dan Kursus Pamong Saka Tahun 2019.

9 tim pelatih/narasumber diantaranya :
Abd. Haris Syahril, S.Pd., M.Pd. (Sekertaris Kwarda), Drs. Muhammad Jufri, M.Pd. (Kapusdiklatda), Adi Arwan Alimin, S.Pd. (Waka Pusdiklatda), H. Nur Alam, S.Pd., M.Pd. (Sekertaris Pusdiklatda), Husniati, S.Ag. (Andalan Daerah/Pelatih), Aminuddin, S.Pd. (Pelatih), Hanik Tugas Yuliati, S.Pd. (Pelatih), Herlina, S.Pd., M.Pd. (Pelatih), Ajmain Said, S.Pd.I. (Pelatih).

Sekertaris Kwarda Gerakan Pramuka Sulawesi Barat, Abd. Haris Syahril dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini merupakan kegiatan pertama untuk Kursus Pamong Saka selama Kwartir Daerah Provinsi Sulawesi Barat. Setelah ini akan dilaksanakan Latihan Kepemimpinan jenjang kedua bagi penegak dan pandega, kemudian Rapat Kerja Daerah.

Penyerahan id card peserta

“Ini kegiatan pertama sejak Kwarda Sulbar dalam hal kegiatan kursus pamong, jadi peserta kegiatan ini menjadi angkatan pertama, sehingga banyak harapan-harapan bagi peserta untuk di implementasikan di satuan karya masing-masing,” kata Abd. Haris Syahril. Jumat (13/12).

Lanjut Haris, kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi atas permasalahan pamong Saka di instansinya. “Saat ini juga banyak instansi membentuk Saka setelah ada instruksi dari pusatnya. Padahal dari bawah sudah ada keinginan. Hal ini kemudian membuat bingung dalam pengelolaan Saka,” jelasnya.

Sehingga Abdul Haris berharap melalui kegiatan ini, dalam pengelolaan Saka ditingkat cabang maupun daerah itu bisa lebih baik, ada upaya standarisasi, tidak hanya lomba-lomba yang membuat mental peserta didik pada menang dan kalah.

“Kalau hanya lomba, mentalnya persaingan, kalah dan menang. Kreatifitas boleh tapi harus terkontrol. Lomba boleh menjadi bagian kegiatan, bukan itu dijadikan yang utama,” pungkasnya.

Ia juga berpesan kepada semua Pamong Saka yang hadir, khususnya kepada pembina pramuka, harus meminimalkan lomba, sebab saya khawatir berdampak terhadap peserta didik. Ini harus diluruskan, memunculkan lomba dengan banyak kegiatan tapi rohnya tidak didapat. Coba cek ada berapa pencapaian tanda kecakapan di Gudep? Ada banyak yang pasang TKK tapi tidak dipahami, tidak melalui proses. Padahal disitu ada proses pembinaan, pembangunan karakter.

“Kegiatan pramuka itu semua ada maknanya, sesungguhnya dalam berlomba itu bagaimana seorang anak membangun tim work, kita memperkenalkan sebuah regu itu bekerja sebagai tim. Banyak pembina menciptakan kreatifitas tapi tidak ada maknanya,” papar mantan pengurus Kwarnas ini.

Intinya, Membangun karakter sama peserta didik itu menjadi tugas pokok kita, kuncinya.

(humas kwarda sulbar)