Korban Keracunan Pesta Daging Kurban di Sukabumi Bertambah

Ilustrasi Daging Kurban

Ilustrasi Daging Kurban

Mapos. Jakarta – Jumlah warga yang menjadi korban keracunan bumbu satai daging kurban di dua kampung, yakni Pasirangin Tengah dan Benteng, Sukabumi, Jawa Barat bertambah. Dari yang 26 orang menjadi 33 orang.

“Dari data yang masuk ke kami saat ini jumlah korban keracunan di Desa Kutajaya, Kecamatan Cicurug bertambah tujuh orang atau menjadi 33 orang,” kata Kepala Puskesmas Cicurug Teddi Mulyadi, Sabtu (2/9) dikutip Antara.

Dari jumlah itu tujuh warga harus dirujuk ke Rumah Sakit Betha Medicare Cicurug karena kondisinya kritis.

Tidak menutup kemungkinan jumlah warga yang berobat akibat keracunan bumbu satai kambing kurban tersebut bertambah. Tindakan medis yang dilakukan untuk memulihkan kondisi korban dengan memberikan cairan inplus atau opname.

Sebagian dari warga kondisi kesehatannya sudah mulai membaik, tetapi harus tetap menjalani perawatan agar tubuhnya benar-benar fit. Dari hasil pemeriksaan awal warga mengeluh pusing, mual hingga muntah sesuai dengan gejala keracunan.

Namun untuk penyebabnya keracunannya belum bisa dipastikan apakah dari daging kambing kurban yang dibagikan, bumbu satai atau lainnya. Sebab harus uji laboratorium terlebih dahulu dan petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi sudah mengambil samplenya.

“Kami masih terus memantau kondisi kesehatan korban, jika terus menurun maka akan langsung dirujuk ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan tindakan khusus,” kata Teddi.

Seorang warga yang mengalami keracunan, Ramdani mengatakan, ia dan warga lainnya ramai-ramai menyantap satai kambing yang sudah dimasak dan diberi bumbu pada Jumat (1/9) sekitar pukul 22.00 WIB.

Tapi sekitar Sabtu dini hari pukul 03.00 WIB tiba-tiba ia merasakan pusing, mual bahkan sampai muntah. Ternyata tidak hanya dirinya saja, tetapi tetangganya yang menyantap satai tersebut juga mengalami gejala yang sama.

“Badan saya masih lemas dan kepala pusing. Saya bisa ke puskesmas dibantu oleh keluarga dan warga lainnya karena saat itu badan sudah lemah,” katanya.

(*)

(Sumber : cnn indonesia)