Keluarga Pasien Ibu Hamil Yang Meninggal, Meminta Tanggung Jawab Bupati Mamuju

 

Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Mapos. Mamuju – Malang nian nasib Ibu Asriana, Ia harus merengang nyawa akibat pendarahan saat melahirkan anak ke 3.

Perjuangan untuk melahirkan seorang anak menjadi harapan besarnya namun nasib berkata lain, Saat tiba waktunya akan melahirkan, Pihak keluarga dan suami Pasien membawanya ke Puskesmas Pembantu (Pustu) namun apa yang terjadi,  pihak keluarga merasa kecewa lantaran di pustu tidak ada para bidan, pustu pun kosong tak berpenghuni.

Dengan perlengkapan seadanya, masyarakat di sekitar Desa Tapandullu Kecamatan Rangas Kabupaten Mamuju melakukan pertolongan pertama dan membawa pasien ke salah satu rumah warga namun nasib berkata lain, Asriana mengalami pendarahan hebat hingga nyawanya tak tertolong.

Pasien menghembuskan nafas terakhir pada sabtu (02/09/2017) dini hari pukul 03.30 WITA .

Diketahui,  Almahrumah (Asriana) dan Amiruddin (Suami)  memiliki 2 orang anak yang masih kecil-kecil dan persalinan ke 3 ini nyawa Asriana tak tertolong akibat pendarahan disebabkan lambatnya penanganan medis.

Meninggalnya Asriana membuat pihak keluarga merasa kehilangan sosok ibu yang baik dan bertanggung jawab terhadap keluarga.

Akankah ada Asriana lainnya yang menjadi korban atas tidak adanya pelayanan yang maksimal ?

Ditemui, keluarga Almahrumah yang namanya enggan disebutkan menuturkan, kami pihak keluarga meminta pertanggung jawaban dari Bapak Bupati Mamuju dan kepala puskesmas rangas atas insiden ini, persoalan ini akan kami bawa sampai kemanapun bila tidak ada pertanggung jawaban dari pihak pemerintah setempat. Minggu, (03/09/2017).

Kami belum percaya Almahrumah meninggalkan kita semua, terlambatnya pertolongan dan kosongnya pustu serta tidak adanya para bidan menjadi sebab kemana perhatian pemerintah selama ini kepada masyarakat miskin, tuturnya.

Kami sangat menyesalkan tidak adanya pelayanan yang baik, apalagi para bidan di gaji melalui APBD dan seyogyanya jangan semuanya meninggalkan tempat tugas, ucapnya dengan nada sedih.

Sekali lagi kami meminta perhatian yang serius dari Bupati Mamuju agar kepala puskesmas rangas dan para bidan yang bertugas di pustu tapandullu di pecat karena kelalaiannya mengakibatkan nyawa keluarga kami tak tertolong serta meminta kepada Bapak Bupati Mamuju dalam menempatkan para bidan di pustu-pustu harus memiliki tanggung jawab penuh,  bukan se enaknya meninggalkan tempat tugasnya, tutupnya.

(ain)